Selasa, Desember 06, 2011



Sumber Perbedaan Pendapat

Bagi yang sudah membaca Ushul Tafsir dan Ilmu Hadits disitu ada beberapa ulasan tentang Al-Qur’an dan Hadits yang diantaranya menjadi sumber perbedaan pendapat diantara para ulama Mujtahid. Sumber perbedaan pendapat didalam Fiqih :

1. Perbedaan memahami Al-Qur’an

A. Adanya ayat-ayat yang musytarak (lebih dari dua arti).

B. Adanya ayat-ayat yang masih mujmal (global).

C. Adanya ayat-ayat yang ‘Am (umum)

D. Adanya perbedaan penafsiran cakupan lafazh.

E. Adanya perbedaan penafsiran makna hakiki-majasi.

F. Adanya perbedaan pendapat penggunaan mafhum.

G. Perbedaan pendapat memahami ayat perintah dan larangan.



2. Perbedaan Memahami Hadits

A. Perbedaan penilaian kesahihan sebuah hadits ahad.

B. Perbedaan penilaian ke-tsiqoh-an seorang rawi.

C. Perbedaan sampainya hadits kepada para Mujtahid.

D. Perbedaan penafsiran matan (redaksi) suatu hadits.

E. Perbedaan penerimaan hadits dhaif sebagai hujjah.

F. Perbedaan perimaan hadits yang ada mukhtalif (pertentangan) dengan qiyas dan atau illat syari’ah



3. Perbedaan Metode Ijtihad.

A. Imam Abu Hanifah :

a. Berpegang pada dalalatul Qur’an

i. Menolak mafhum mukhalafah

ii. Lafz umum itu statusnya Qat’i selama belum ditakshiskan

iii. Qiraat Syazzah (bacaan Qur’an yang tidak mutawatir) dapat dijadikan dalil

b. Berpegang pada hadis Nabi

i. Hanya menerima hadis mutawatir dan masyhur (menolak hadis ahad kecuali diriwayatkan oleh ahli fiqh)

ii. Tidak hanya berpegang pada sanad hadis, tetapi juga melihat matan-nya

c. Berpegang pada qaulus shahabi (ucapan atau fatwa sahabat)

d. Berpegang pada Qiyas

i. mendahulukan Qiyas dari hadis ahad

e. Berpegang pada istihsan (keluar dari Qiyas umum karena ada sebab khusus yang lebih kuat).

B. Imam Malik

a. Nash (Kitabullah dan Sunnah yang mutawatir)

i. zhahir Nash

ii. menerima mafhum mukhalafah

b. Berpegang pada amal perbuatan penduduk Madinah

c. Berpegang pada Hadis ahad (jadi, beliau mendahulukan amal penduduk Madinah daripada hadis ahad)

d. Qaul shahabi

e. Qiyas

f. Istihsan

g. Mashlahah al-Mursalah (mempertimbangkan aspek kemaslahatan, contoh beliau membolehkan intimidasi dalam penyidikan tersangka kejahatan untuk mendapatkan pengakuannya).



C. Imam Syafi’i

a. Qur’an dan Sunnah (artinya, beliau menaruh kedudukan Qur’an dan Sunnah secara sejajar, karena baginya Sunnah itu merupakan wahyu ghairu matluw). Inilah salah satu alasan yang membuat Syafi’i digelari “Nashirus Sunnah”. Konsekuensinya, menurut Syafi’i, hukum dalam teks hadis boleh jadi menasakh hukum dalam teks Al-Qur’an dalam kasus tertentu)

b. Ijma’

c. hadis ahad (jadi, Imam Syafi’i lebih mendahulukan ijma’ daripada hadis ahad)

d. Qiyas (berbeda dg Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i mendahulukan hadis ahad daripada Qiyas)

e. Beliau tidak menggunakan fatwa sahabat, istihsan dan amal penduduk Madinah sebagai dasar ijtihadnya



D. Imam Ahmad bin Hanbal

a. An-Nushush (yaitu Qur’an dan hadis. Artinya, beliau mengikuti Imam Syafi’i yang tidak menaruh Hadis dibawah al-Qur’an)

menolak ijma’ yang berlawanan dengan hadis Ahad (kebalikan dari Imam Syafi’i)

menolak Qiyas yang berlawanan dengan hadis ahad (kebalikan dari Imam Abu Hanifah)

b. Berpegang pada Qaulus shahabi (fatwa sahabat)

c. Ijma’

d. Hadis dhaif

e. Qiyas

Baca Selengkapnya......