Kamis, Januari 07, 2010

DINASTI FATIMIYAH


  1. PENDAHULUAN
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, penyebaran Islam terus dilakukan oleh para khalifah pengganti Beliau, bahkan penyebaran Islam sampai memasuki daratan Afrika yang dimulai sejak pemerintahan Khalifah Umar bin Khatthab menguasai Mesir. Kemudian, pada pemerintahan Usman bin Affan, tepatnya pada 35 H, perluasan kekuasaan Islam sampai ke Tripoli, bahkan mencapai beberapa kawasan Tunisia.
Proses perluasan wilayah kekuasaan wilayah Islam sempat berhenti berkenaan dengan terbunuhnya Khalifah Utsman pada 36 H. Pada saat Muawiyah bin Abi Sofyan berkuasa penuh di Damaskus, reorganisasi pemerintahan terus diupayakan, termasuk kelanjutan perluasan wilayah kekuasaan Islam di daratan tanah Maghribi. Dengan diangkatnya Amr bin Ash sebagai gubernur Mesir, kebijaksanaan memperluas wilayah kekuasaan Islam dihimpun kembali. Pada tahun 50 H, sebuah kawasan (yang akhirnya dikenal dengan nama Qairawan) yang terletak di wilayah Afrika Utara dapat dikuasai oleh kaum Muslimin di bawah pimpinan Uqbah bin Nafi. Qairawan terletak sekitar 156 km dari ibu kota Tunisia. Kata "Qairawan" berasal dari bahasa Persia yang diserap ke dalam bahasa Arab, berarti "tempat penyimpanan peluru", "tempat turunnya pasukan tentara", "waktu istirahat kafilah" atau "tempat perkumpulan orang pada waktu perang."
Bermula dari Qairawanlah, cahaya Islam segera dipancar luaskan untuk menerangi kawasan-kawasan lainnya yang ada di Afrika. Bahkan Kejayaan Islam di dataran Afrika pada umumnya dapat di bagi pada Empat zaman keemasan, yaitu, masa Dinasti Murabithun, Dinasti Muwahidun, Dinasti Fatimiyah dan Dinasti Mamluk. Di masa kemajuan, keempat dinasti besar ini mempunyai kejayaan masing-masing, baik di bisang ekspansi wilayah, literatur arsitek dan intelektual.
Oleh karena itu, perlu kiranya kita mengkaji kejayaan islam tersebut. Namun pada pembahasan makalah ini, akan kami bahas lebih khusus mengenai sejarah Dinasti Fatimiyah, masa kejayaannya, perkembangan intelektual pada masa itu, dan keruntuhan Dinasti Fatimuyah.
  1. PEMBAHASAN
      1. Sejarah Berdirinya Dinasti Fatimiyah.
Fatimiyah, atau al-Fāthimiyyūn (الفاطميون) ialah penguasa Syiah yang berkuasa di berbagai wilayah di Maghreb, Mesir, dan Syam dari 5 Januari 910 M hingga 1171 M. Negeri ini dikuasai oleh Ismailiyah, salah satu cabang Syi'ah. Pemimpinnya juga para imam Syiah, jadi mereka memiliki kepentingan keagamaan terhadap Isma'iliyyun. Kadang dinasti ini disebut pula dengan Bani Ubaidillah, sesuai dengan nama pendiri dinasti. Fatimiyah berasal dari suatu tempat yang kini dikenal sebagai Tunisia (Ifriqiya).1
Dinasti Fatimiyah berdiri tahun 909-1171 M semula di Afrika Utara, kemudian di Mesir dan Syria. Dinasti ini beraliran Syi’ah Isma’ıliyah, dan pendirinya, yakni Ubaidillah al-Mahdi yang datang dari Syria ke Afrika Utara menisbahkan nasabnya hingga Fatimah binti Rasulullah SAW., istri Ali bin Abi Thalib. Oleh karenana itu dinamakan dinasti Fatimiyah, walaupun kalangan Sunni meragukan asal-usulnya sehingga mereka menamakannya al-Ubaidiyyun sebagai ganti dari Fatimiyyun. Ubaidillah dapat mengalahkan para penguasa di Afrika Utara, yakni Aglabiyah dan Aljazair, Rustamiyah yang Khawarij di Tahart, dan Idrisiyah di Fez.
Pusat pemerintahannya pertama kali ialah di al-Mahdiyah, sekitar Qairawan, dan mengembangkan sayapnya disamping ke Barat juga ke Timur, serta menguasai Mesir. Di negeri itulah mereka mendirikan kota baru yang bernama Cairo. Al-Qahirah berarti yang berjaya, atas prakarsa panglima perangnya Jauhar as-Siqili (as-Saqili), seorang keturunan dari pulau Sicilia di Laut Tengah yang pernah dikuasai oleh Islam, kemudian menundukkan Paletina dan Syria.2
Dinasti Fatimiyah menguasai Mesir dalam waktu relatif cepat sehingga mendorong semangat untuk segera mengadakan perubahan besar dalam segala aspek kehidupan. Bahan makanan dalam jumlah besar didatangkan dari Qairawan melalui kapal-kapal laut. Untuk mendukung perbaikan ekonomi, pemerintahan Fatimiyah mencetak mata uang, buruh-buruh paksa dihapuskan, dan sarana-sarana umum diperbaiki.
Di bidang sosial keagamaan, pemerintahan Fatimiyah bersikap toleran dengan tetap memberi jaminan penuh terhadap kebebasan masyarakat Mesir untuk menjalankan ritus upacara keagamaannya sesuai dengan paham, aliran, dan bahkan agama mereka. Meski demikian, corak ideologi Fatimiyah (Syi’ah Ismailiyah) tetap diupayakan untuk dapat diterima masyarakat Mesir secara luas. Inilah sesungguhnya tantangan terberat yang dihadapi Dinasti Fatimiyah setelah mampu menguasai Mesir. Dapat saja secara wilayah Mesir dikuasai oleh Dinasti Fatimiyah. Akan tetapi, secara ideologis belum tentu masyarakat menerima ideologi penguasa.
Mayoritas masyarakat Islam di Mesir berpaham Sunni. Pemimpin Islam yang mula-mula menguasai Mesir adalah ‘Amr bin Al-Ash. Pada saat kemelut antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyyah, ‘Amr berada di pihak Mu’awiyah sebagai simbol kaum Sunni. Selanjutnya, selama masa pemerintahan Abbasiyah, wilayah Mesir diperintah oleh Dinasti Tuluniyah (868-905 M) dan diteruskan oleh Dinati Ikhsidiyah (905-969 M). Keduanya berpaham Sunni.
Secara politis, penguasa Fatimiyah mulai mengadakan perubahan cukup penting. Sejak Al-Mu’izz masuk ke Mesir pada tahun 972 M, dia merombak pakem doktrin kepemimpinannya. Lazimnya kalangan Syi’ah, jabatan pemimpin adalah seorang imam. Imamah merupakan persoalan yang pokok sehingga di kalangan mereka terdapat doktrin tentang imamah. Bahkan, doktrin ini menjadi salah satu pilar utama ajaran Syi’ah. Bagi mereka, jabatan imam lebih legitimated.
Ketika Al-Mu’izz berkuasa, dia menggunakan dua simbol jabatan kepemipinan, yaitu sebagai imam dan khalifah. Hanya saja, konsep khalifahnya berbeda dengan konsep Sunni yang dipahami sebagai pengganti Nabi Muhammad SAW dalam kepemimpinan umat Islam. Khalifah dalam konsep Al-Mu’izz, dilandaskan pada doktrin utama aliran Ismailiyah, yaitu bahwa Muhammad bin Ismail tidak akan muncul lagi sebagai “Al-Mahdi.” Yang muncul hanyalah “wakil” (khalifah), yaitu keturunan Imam Fatimiyah. Dengan demikian, Istilah khalifah yang digunakan Fatimiyah dipahami sebagai jabatan yang mewakili atau menggantikan Muhammad bin Ismail dalam memimpin umat.
Terdapat faktor politis yang mendorong Fatimiyah menggunakan simbol “khalifah” di dalam pemerintahannya. Harus diakui bahwa sejak Al-Mu’izz memerintah, pengaruh Fatimiyah semakin luas ke berbagai wilayah di luar Mesir. Selain Fatimiyah, saat itu, terdapat dua kekuatan politik lain yang mempunyai pengaruh cukup besar, yaitu Abbasiyah dan Umayah Barat yang beraliran Sunni. Kedua kekuatan politik itu kepala pemerintahannya populer dengan sebutan khalifah.
Dalam rangka untuk menandingi dua kekuatan politik Sunni tersebut, maka Fatimiyah pun menggunakan simbol khalifah bagi kepala pemerintahannya, selain juga menggunakan sebutan imam secara khusus untuk kalangan Syi’ah sendiri. Dengan begitu, Pemimpin Fatimiyah selain sebagai seorang khalifah (kepala pemerintahan) juga sekaligus sebagai imam.
Langkah politis lain yang dilakukan pemerintah Fatimiyah adalah mendirikan kota baru sebagai simbol kemenangan dan pusat pemerintahan. Pada tahun 970 M didirikan kota megah bernama Al-Qahirah (Cairo) yang berarti “kota kemenangan.” Kota Cairo dikelilingi benteng-benteng dari dinding batu yang kokoh. Di tengah-tengah kota dibangun sebuah istana khalifah dan masjid Jami’ yang diberi nama Jami’ Al-Azhar. Masjid ini dibangun sejak 4 April 970 M dan selesai dua tahun kemudian, yaitu 22 Juni 972 M.
Seperti nama kedinastiannya, nama Jami’ Al-Azhar dinisbahkan kepada nama julukan dari Fatimah, putri Rasulullah saw, yaitu “Az-Zahra”. Ada juga yang berpendapat bahwa nama Al-Azhar mempunyai makna “cemerlang” yang diambil dari kata “zuhra” atau “zahrah” (planet Venus). Selanjutnya, dengan nama tersebut diharapkan Jami’ Al-Azhar dapat bersinar cemerlang dan menyinari kehidupan umat Islam.
Paling tidak ada empat fungsi yang diharapkan dari pembangunan Jami’ Al-Azhar saat itu. Antara lain: pertama, sebagai pusat peribadatan umat Islam; kedua, sebagai pusat pengembangan sosial religius; ketiga, sebagai sentral pendidikan; keempat, sebagai pusat kegiatan (politik) pemerintahan Dinasti Fatimiyah.3
Adapun para Khalifah Dinasti Fatimiyah Penguasa Cairo, diantaranya adalah:
  1. Khalifah Ubaidilah Al-Mahdi (910-934). Dia adalah pendiri Dinastii Fatimiyah.
  2. Abu al-Qasim Muhammad al-Qa'im bi-Amr Allah bin al-Mahdi Ubaidillah (934-946).
  3. Isma'il al-Mansur bi-llah (946-953).
  4. Abu Tamim Ma'add al-Mu'izz li-Din Allah (953 M - 975) M. Mesir ditaklukkan semasa pemerintahannya.
  5. Abu Mansur Nizar al-'Aziz bi-llah (975 M - 996 M).
  6. Abu 'Ali al-Mansur al-Hakim bi-Amr Allah (996M - 1021 M).
  7. Abu'l-Hasan 'Ali al-Zahir li-I'zaz Din Allah (1021 M - 1036 M).
  8. Abu Tamim Ma'add al-Mustanhir bi-llah (1036 M - 1094 M).
  9. Al-Musta'li bi-llah (1094 M - 1101 M). Pertikaian atas suksesinya menimbulkan perpecahan Nizari.
  10. All-Amir bi-Ahkam Allah (1101 M - 1130 M). Penguasa Fatimiyah di Mesir setelah tak diakui sebagai Imam oleh tokoh Ismailiyah Mustaali Taiyabi.
  11. Abd al-Majid (1130 M - 1149 M).
  12. Al-Wafir (1149 M - 1154 M).
  13. Al-Fa'iz (1154 M - 1160 M).
  14. Al-'Adid (1160 M - 1171 M): Setelah jatuhnya Al-`Adid, kekuasaan Dinasti Fatimiyah selama 200 tahun berakhir.4


      1. Masa Kejayaan Dinasti Fatimiyah
Setelah Kairo di kuasi oleh dinasti Fatimiyyah, Kairo semakin pesat mencapai kejayaan sebagai pusat pemerintahan Dinasti Fatimiyah. Dinasti itu menorehkan kegemilangan selama 200 tahun. Di masa itu, Mesir menjadi pusat kekuasaan yang mencakup Afrika Utara, Sisilia, pesisir Laut Merah Afrika, Palestina, Suriah, Yaman, dan Hijaz.
Disamping itu, Kairo tumbuh dan berkembang sebagai pusat perdagangan luas di Laut Tengah dan Samudera Hindia. Kairo pun menggabungkan Fustat sebagai bagian dari wilayah administratifnya. Bahkan Cairo dijadikan sebagai salah satu kota metropolis modern yang diperhitungkan dan berpengaruh.
Pada era itu pula, Cairo menjelma menjadi pusat intelektual dan kegiatan ilmiah baru. Bahkan, pada masa pemerintahan Abu Mansur Nizar Al-Aziz (975 M - 996 M), Kairo mampu bersaing dengan dua ibu kota Dinasti Islam lainnya yakni, Baghdad di bawah Dinasti Abbasiyah dan Cordoba pusat pemerintahan Umayyah di Spanyol. Kini, Universitas Al-Azhar menjadi salah satu perguruan tinggi terkemuka yang berada di kota itu.
Kemajuan Daulah Fatimiyah tercapai pada masa kekhalifahan Al-Aziz yang bijaksana. Di antara faktor-faktornya adalah sebagai berikut:
  1. Bidang Pemerintahan, bentuk pemerintahan pada masa ini dianggap sebagai pola baru dalam sejarah Mesir. Dalam pelaksanaannya Khalifah adalah kepala yang bersifat temporal dan spiritual. Pengangkatan dan pemecatan pejabat tinggi berada di bawah kontrol kekuasaan khalifah.
  2. Filsafat, Dalam menyebarkan tentang ke-Syiah-annya, Dinasti Fatimiyah banyak menggunakan filsafat Yunani yang mereka kembangkan dari pendapat-pendapat Plato, Aristoteles dan ahli-ahli filsafat lainnya.
  3. Keilmuan dan Kesusastraan, seorang ilmuan yang paling terkenal pada masa Dinasti Fatimiyah adalah Yakub ibnu Killis. İa berhasil membangun akademi-akademi keilmuan yang menghabiskan ribuan dinar per bulannya.
  4. Ekonomi dan Sosial, dibawah Dinasti Fatimiyah, Mesir mengalami kemakmuran ekonomi dan vitalitas kultural yang mengungguli İrak dan daerah-daerah lainnya. Hubungan dagang dunia non-Islam dibina dengan baik, termasuk dengan India dan negeri-negeri Mediterania yang beragama Kristen. Disamping itu, dari Mesir ini dihasilkan produk industri dan seni Islam yang terbaik. Dalam hubungan sosial para Khalifah sangat dermawan dan sangat memperhatikan warga mereka yang non-Muslim. Di bawah pemerintahannya, orang-orang Kristen diperlakukan dengan baik, apalagi pada masa Al-Aziz. İa adalah seorang khalifah Fatimiyah yang sangat menghargai orang-orang non-Muslim. Orang-orang Sunni pun menikmati kebebasan bernegara yang dilasanakan khalifah-khalifah Fatimiyah sehingga banyak di antara da’i-da’i Sunni yang belajar di Al-Azhar.5
      1. Perkembangan Intelektual Pada Masa Dinasti Fatimiyah
Ada tiga pusat metropolis intelektual era abad pertengahan, pada masa dinasti Umayyah dan Abasiyah seperti di Baghdad, Cordoba, dan Bukhara. Pada masa Dinasti Fatimiyah yang berpusat di Kairo juga memuncul sederet ilmuwan Muslim yang berpengaruh. Pasalnya, pada era kejayaan Dinasti Fatimiyah, Cairo telah menjadi kota tempat berkumpulnya para ilmuwan serta sarjana yang melakukan kegiatan ilmiah.
Memasuki abad modern, Cairo juga telah melahir sejumlah pemikir pembaruan Islam. Berikut adalah beberapa nama di antara sederet ilmuwan dan sarjana serta pemikir pembaruan Islam yang muncul dari pusat peradaban Islam di benua Afrika itu:
    1. Ibnu Al-Haytham.
Dialah peletak dasar-dasar teori optik modern. Orang barat menyebutnya Al-Hazen. Lewat karya ilmiahnya, Kitab Al-Manadhir atau Kitab Optik, ia menjelaskan berbagai ragam fenomena cahaya termasuk sistem penglihatan manusia. Selama lebih dari 500 tahun, Kitab Al Madahir terus bertahan sebagai buku paling penting dalam ilmu optik.
    1. Ibnu Al-Baytar.
Nama lengkapnya Abdullah Ibnu Ahmad Ibnu Al-Baytar. Dia adalah ahli botani sekaligus ahli obat-obatan terhebat, dan Dialah banyak melakukan penelitian dan kegiatan ilmiah di Cairo. Dia berhasil mengumpulkan dan memberikan catatan terhadap lebih dari 1.400 jenis tanaman obat. Dialah ahli Botani terkemuka di Arab.
    1. Jamaluddin Al-Afghani.
Dia adalah seorang pemikir pembaruan Islam yang secara lantang menyuarakan pentingnya menegakkan solidaritas Pan-Islam dan pertahanan terhadap imperialisme Eropa dengan kembali kepada Islam. Dalam perlawanannya terhadap penjajah imperialisme Barat, Jamaluddin mengobarkan semangat persatuan Islam dengan jalan mengajak kembali kepada Al-Qur'an serta menghilangkan bid'ah dan khurafat.
    1. Muhammad Abduh.
Muhammad Abduh adalah seorang pemikir muslim dari Mesir, dan salah satu penggagas gerakan modernisme Islam. Ia belajar tentang filsafat dan logika di Universitas Al-Azhar, Kairo, dan juga murid dari Jamaluddin Al-Afghani, seorang filsuf dan pembaharu yang mengusung gerakan Pan-Islamisme untuk menentang penjajahan Eropa di negara-negara Asia dan Afrika.
    1. Sayyid Qutub.
Sayyid bin haji Qutub bin Ibrahim, lahir tahun 1906 di sebuah desa bernama Qaha di wilayah Asyith, Mesir. Ideologi Islam dikemukakan Qutub sebagai ideology alternatif. Baginya tak ada jalan lain kecuali menegakkan Islam. Dalam bukunya Hadza al-Din, dia menegaskan bahwa Islam satu-satunya agama wahyu dan di jamin kebenarannya dan dapat meningkatkan harkat manusia dan membebaskan dari berbagai ikatan daerah dan keturunan.
    1. Mahmud Syaltut.
Syekh Mahmud Syaltut adalah salah seorang pemikir asli di Mesir. Ia memberi kontribusi dalah bidang hukum Islam. Mahmud Syaltut mengemukakan sebuah risalah tentang pertanggungjawaban sipil dan pidana Islam.6


      1. Runtuhnya Dinasti Fatimiyah
Hampir sekitar 50 tahun dinasti ini menapaki sejarah keemasannya sejak masa pemerintahan Al-Mu’izz dan mulai menurun setelah berakhirnya masa pemerintahan Al-Hakim. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya. Antara lain:
        1. Konflik internal antar para elitnya yang cukup dahsyat dan berkepanjangan. Koflik internal dalam pemerintahan Fatimiyah muncul dikarenakan hampir semua khalifahnya, setelah wafatnya Al-Hakim, naik tahta ketika masih dalam usia kanak-kanak. Misalnya, Al-Mustansir naik tahta usia 7 tahun, Al-Amir usia 5 tahun, Al-Faiz usia 6 tahun, dan Al-Adid usia 9 tahun. Akhirnya, jabatan wazir yang mulai dibentuk pada masa khalifah Al-Aziz bertindak sebagai pelaksana pemerintahan sehingga, kedudukannya menjadi begitu penting, berpengaruh dan menjadi ajang perebutan serta ladang konflik.
        2. Selain konflik internal yang muncul di dalam kedinastian Fatimiyah juga dikarenakan adanya 3 bangsa besar yang sama-sama mempunyai pengaruh dan menjadi pendukung utama kekuasaan Fatimiyah, yaitu bangsa Arab, bangsa Barbar dari Afrika Utara dan bangsa Turki. Di saat khalifah mempunyai pengaruh kuat, ketiga bangsa itu dapat diintegrasikan menjadi kekuatan yang dahsyat. Akan tetapi, ketika khalifahnya lemah, maka konflik ketiga bangsa itupun menjadi begitu dahsyatnya untuk saling berebut pengaruh dan kekuasaan. Kondisi terakhir itulah yang dialami Dinasti Fatimiyah setelah berakhirnya masa pemerintahan Al-Hakim.
        3. Adanya kenyataan bahwa meski Dinasti Fatimiyah telah berkuasa di Mesir hampir 200 tahun, ternyata secara ideologis belum berhasil membumikan doktrin ideologi Syi’ah Ismailiyah. Masyarakat Muslim di Mesir teryata masih tetap setia kepada ideologi Sunni. Oleh karena itu, ketika Dinasti Fatimiyah berada di ambang kehancurannya, masyarakat Muslim Mesir bukannya berusaha membantu, tapi justru berusaha mempercepat kehancurannya.
        4. Pukulan menentukan dari kehancuran Fatimiyah terjadi pada masa pemerintahan khalifah Al-Adid Lidinillah. Pada saat itu, wilayah kekuasaan Dinasti Fatimiyah menjadi ajang perebutan antara Nuruddin Zinki sebagai wakil Dinasti Abbasiyah yang ada di Syiria dan pasukan Salib yang ada di Yerusalem pimpinan Raja Almeric. Pada tahun 1169 M, pasukan Nuruddin Zinki yang dipimpin panglima besar Shalahuddin Al-Ayyubi dapat mengusir pasukan Salib dari Mesir dan menaklukkan kekuasaan wazir dari khalifah Al-Adid. Setelah khalifah Al-Adid wafat pada tahun 1171, Shalahuddin Al-Ayyubu tidak lagi mengangkat khalifah dari Fatimiyah, tapi menjadikan wilayah Mesir kembali sebagai bagian dari wilayah kekuasaan Abbasiyah Baghdad dengan status keamiran. Adapun dinasti keamirannya kemudian adalah Dinasti Al-Ayyubiyah.7


  1. KESIMPULAH
Dari pemaparan si atas dapat kami simpulkan bahwa Dinasti Fatimiyah juga disebit dengan Dinasti Ubaidillah, dengan pendirinya yaitu Ubaidillah al-Mahdi yang datang dari Syria ke Afrika Utara. Dinasti ini beraliran Syi’ah Islami’ilah. Pusat pemerintahannya di Cairo. Dinasti ini mengalami kejayaannya pada masa khalifah Abu Mansur Nizar Al-Aziz (975 M - 996 M), dengan kemajuan di berbagai bidang, baik di bidang pemerintahan, ekonomi sosial, di bidang ilmu dan perkembangan intelektual islam.
Dinasti Fatimiyah bagaimanapun juga adalah salah satu warna dari perjalanan dinamika umat Islam di Mesir. Dalam rentang beberapa periode dinasti ini telah mengukirkan nama harumnya bagi kemajuan dan kebesaran serta kejayaan Islam. Meskipun kedinastian ini menganut aliran Syi’ah Ismailiyah, tapi toh masih dalam bingkai Islam. Oleh karena itu, peran dan sumbangannya bagi kebesaran nama Islam harus tetap dijunjung tinggi hingga Semarang.


  1. PENUTUP
Demikian makal ini kami sampaikan, tentunya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, dikarenakan keterbatasan kami. Oleh karena itu, saran da kritik sangat kami harapkan agar makalh ini menjadi lebih baik, sempurna dan komprehensif.

Artikel yang Berhubungan



Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/02/cara-membuat-widget-artikel-yang.html#ixzz1JSIiysNe

Artikel yang Berhubungan



Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/02/cara-membuat-widget-artikel-yang.html#ixzz1JNBpubYr

0 komentar: