Senin, Juni 21, 2010

Kampung Makassar di Afsel

 Makassar yang selama ini kita kenal ada di Sulawesi Selatan, tapi ternyata ada Macassar Afrika Selatan. Secara sengaja Saya menemukan referensi tentang Macassar yang ada Afrika Selatan itu ketika searching tentang Syekh Yusuf Al Makassari, perintis pendiri dan tonggak sejarah penyemaian Islam di benua hitam, Afrika Selatan tempat perhelatan Piala Dunia 2010 digelar. Di Macassar, ada sebuah tempat yang dinamakan “The Kramat”. The Holy Resting Place of Sheikh Yusuf Al Makassari.

Kramat Macassar Tempat Makam Syekh Yusuf Al Makassari“Here at this peaceful place on the hill overlooking Macassar, we come to honour the founder of Islam in South Africa”.




Demikian pendapat dari pendirian dan pemilik website macassar.co.za, sebuah pengakuan tulus atas penghargaan yang tinggi kepada Syekh Yusuf Al Makassari. Konon, di Macassar, Syekh Yusuf dimakamkan, sementara di Makassar Sulawesi Selatan juga ada Makam Syeh Yusuf Al Makassari.


Sejarawan Prof Anhar Gonggong bahkan pernah menyatakan bahwa Makam Syekh Yusuf Al Makassari sebenarnya ada di Lakiung, daerah perbatasan Kota Makassar dengan Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan. 

Syekh Yusuf Makasar, dari Tasik ke Afrika Selatan


BEGITU saya nyalakan televisi pagi ini, sekitar pukul 08.20 WIB, Trans TV sedang menayangkan acara “Jelajah Dunia”. Salah satu materinya adalah perjalanan presenter Adita Nanda di Cape Town, Afrika Selatan. Ada ilustrasi warga berjilbab dan supermarket yang menempelkan label halal pada sejumlah produk.


Narator tayangan itu mengatakan, label halal merupakan sebuah keharusan, mengingat sebagian warga Cape Town adalah kaum Muslimin. Pengelola supermarket itu juga menerangkan, konsep pengeringan makanan yang diterapkannya diperkenalkan orang-orang Indonesia yang dibuang penjajah Belanda ke Afrika Selatan.


Saya jadi teringat pada sosok Syekh Yusuf Makasar. Ulama kelahiran Makasar itu, berjuang melawan Belanda di tanah Banten, ditangkap di Tasikmalaya lalu dibuang ke Afrika Selatan. Di negeri tersebut, Syekh Yusuf justru menyemai kebaikan dan mewariskan peradaban: menyebarkan ajaran Islam.


Pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Syekh Yusuf pada 1995. Sementara itu, masyarakat Afrika Selatan juga sangat menghormatinya. Bahkan tokoh Afrika Selatan, Nelson Mandela, menyebutnya sebagai “pemberi inspirasi” dalam perjuangan melawan sistem apartheid di negerinya. Mandela sering beziarah ke makam Syekh Yusuf.


Syekh Yusuf lahir di Gowa Sulawesi Selatan pada 1627. Sekembalinya dari ibadah haji pada 1664, dia menjadi orang penting di samping Sultan Ageng Tirtayasa, Banten. Bersama Tirtayasan, dia bahu membahu melakukan perlawanan terhadap Belanda. Saat itu namanya juga sudah terkenal sebagai ulama besar.


Pada episose akhir kekuasaan Tirtayasan, Syekh Yusuf dan pasukannya terdesak, hingga akhirnya harus melakukan perang gerilya. Para pejuang itu harus mundur ke daerah Priangan Timur, termasuk ke wilayah Tasikmalaya selatan. Setelah sebelumnya menyusuri Sungai Ciseel dan Sungai Citanduy, lalu berputar lewat Parigi (Ciamis).


Rute perjalanan perang gerilya Syekh Yusuf di Priangan Timur dengan baik dirinci oleh Abu Hamid dalam disertasi doktornya tentang perjuangan tokoh ini. Menurut Abu Hamid, akhirnya Syekh Yusuf berlindung di sebuah tempat bernama Karang atau Aji Karang di Sukapura. Sukapura adalah nama lain sebelum menjadi Tasikmalaya.


Apa yang disebut Karang oleh Abu Hamid, tidak lain adalah Karangnunggal. Di situ terdapat kompleks Pamijahan dan Gua Safarwadi, tempat Syekh Abduk Muhyi, penyebar Islam di Tasikmalaya, mengajarkan Islam kepada santri-santrinya. Di situlah untuk beberapa waktu Syekh Yusuf berlindung sambil menyusun kekuatan.


Menurut Azyumardi Azra, sumber-sumber Belanda menyebutkan Syekh Yusuf mundur ke Desa Karang dan berhubungan dengan seseorang yang dipanggil “Hadjee Karang”. Tokoh ini tidak lain adalah Abdul Muhyi, murid Syekh Abdul Rauf Singkel, ulama besar dari Aceh penyebar ajaran Tarekat Syatariyah.


Tidak salah kiranya Syekh Yusuf berada di Pamijahan. Karena guru Abdul Muhyi (Abdul Rauf Singkel) adalah kawan seperguruan Yusuf Makasar saat berguru kepada Ibrahim Al-Qurani di Mekah. Pamijahan menjadi saksi bertemuanya dua ulama besar yang sumber ilmunya dari mata air yang sama.


Syekh Yusuf adalah ulama produktif dan menulis ratusan kitab. Dalam salah satu naskah yang ditulisnya di kemudian hari berjudul Syuruti al- ‘Arifi al-Muhaqqiq, dia mengabadikan nama sahabatnya itu dengan kalimat “....untuk sahabatku Haji Abdul Muhyi yang tinggal di Kampung Karang”.


Dengan segala tipu muslihat, Belanda menangkap ulama ini pada 14 Desember 1683. Dia dibawa dari Pamijahan ke Batavia. Karena pengaruh Syekh Yusuf demikian besar, maka penjajah Belanda berusaha keras untuk memadamkan semangat juangnya.


Dia dibuang ke tempat yang jauh agar tidak lagi bisa berhubungan dengan masyarakatnya. Syekh Yusuf dan rombonhan diasingkan ke Afrika Selatan, beranak-pinak dan meninggal di sana. Di hari ulang tahun kemerdekaan hari ini, ada baiknya kita panjatkan doa bagi Syekh Yusuf dan para pejuang lain yang telah lebih dulu menghadap-Nya.

 
ini gambar makamnya:

Artikel yang Berhubungan



Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/02/cara-membuat-widget-artikel-yang.html#ixzz1JSIiysNe

Artikel yang Berhubungan



Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/02/cara-membuat-widget-artikel-yang.html#ixzz1JNBpubYr

0 komentar: