Senin, Juli 12, 2010

Kampung Inggris Pare,Kediri

Kalau menyebut kota Pare, salah satu yang terkenal dari kota ini adalah salah satu kampung yang disebut banyak orang sebagai “kampung Inggris”. Ini bukan kampung biasa, dan disebut kampung inggris karena di sepanjang jalan kampung tersebut berserakan banyak kursus bahasa Inggris yang peserta kursusnya berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. 
Jalanan Kampung Inggris Pare
Sudah lama saya ingin melihat secara langsung kampung ini, karena begitu terkenalnya kampung ini ke berbagai daerah di seluruh Indonesia. Beruntung, saya diminta mengisi pelatihan di Kediri sehingga menyempatkan mampir di kota yang jaraknya sekitar 30 km dari kota Kediri ini. 
Kawasan kampung ini tidak terletak di jalan utama, tetapi harus masuk terlebih dahulu di satu gang kecil yang hanya muat untuk berpapasan dua mobil. Memasuki kawasan ini, yang terlihat mencolok dan berbeda sejak awal masuk gang adalah banyaknya tempat kos dan warung-warung, bahkan café di tempat yang boleh dibilang agak terpencil ini. 
Menurut cerita salah seorang pengurus Klub bahasa Inggris di sana, tempat ini sekurangnya dipadati dengan sekitar 4000 pendatang dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka belajar bahasa Inggris di sini di sekitar 40 tempat kursus yang berada di sepanjang kiri-kanan jalan ini. 
Basic English Course (BEC) disebut-sebut sebagai pelopor berdirinya kampung Inggris ini. Karena permintaan yang besar, maka bermunculan kemudian berbagai kursus bahasa Inggris hingga mencapai puluhan seperti sekarang. Ada Mahesa, Elfast, Marvellous, Smart, Defodills, dan berbagai kursus bahasa Inggris lainnya. 
BEC, salah satu tempat kursus pertama dan terbesar
BEC terlihat memiliki gedung yang megah dan besar untuk ukuran sebuah kursus. Dan karena banyaknya peminat, para pendaftar kursus di BEC mesti mendaftar satu tahun sebelumnya karena keterbatasan tempat. 
Namun demikian, tidak perlu khawatir, karena masih banyak lembaga kursus lain dengan kualitas yang setara. Masing-masing berlomba dengan segala keunggulan masing-masing. Ada yang unggul di Grammar, conversation, dan lain sebagainya. Masing-masing tentu saja mempunyai kekurangan yang berbeda-beda. 
Banyak tempat kursus berdiri memanfaatkan rumah penduduk
Dengan banyaknya komunitas peserta kursus bahasa Inggris ini dan keinginan yang sama untuk belajar bahasa secara lebih efektif, maka tercipta semacam disiplin dan aturan bersama bahwa semua peserta kursus bahasa Inggris di sini wajib menggunakan bahasa Inggris dalam pembicaraan sehari-hari. 
Tentu saja aturan ini hanya berlaku antar peserta kursus, selebihnya dengan penduduk kampung tetap menggunakan bahasa Indonesia. Aturan tidak tertulis inilah yang menyebabkan kampung ini kemudian terkenal dengan Kampung Inggris karena mewajibkan para peserta kursus yang berjumlah ribuan orang tadi untuk berbahasa Inggris. 
Salah satu alasan lain mengapa banyak orang mau belajar di Pare ini adalah biaya hidup yang rendah. Dibandingkan dengan hidup di kota-kota besar, biaya hidup di kota ini dan juga biaya untuk mengikuti satu program kursus secara intensif sangatlah murah. Dengan Rp 500 hingga Rp 1 juta per bulan, kita sudah dapat hidup dengan nyaman, termasuk biaya kursus. 
Mulai dari Gedung mewah hingga bangunan sederhanapun jadi.
Bagi para pengelola kursus, semakin menjamurnya kursus bahasa Inggris di kawasan ini sebenarnya tidak perlu menjadikan mereka khawatir akan ditinggalkan. Tetapi justru persaingan ini perlu disyukuri karena semakin membuat kawasan ini menjadi lebih hidup.
Persaingan akan menjadikan konsumen semakin besar karena tidak hanya kita sendiri yang mengenalkan jasa atau produk kepada mereka. Dengan masing-masing mengeluarkan usaha agar konsumen bisa kenal, maka semakin luas usaha yang dilakukan. Dengan demikian, pengetahuan konsumen akan semakin luas. 
Persaingan juga akan menjadikan kita selalu waspada dan selalu berusaha meningkatkan diri dan kemampuan yang dimiliki. Tanpa adanya persaingan, kita akan cenderung berleha-leha, ataupun lebih banyak santai menikmati hidup. Tetapi jika ada persaingan membuat gairah untuk bersaing selalu ada, sehingga kita selalu tergerak untuk meningkatkan kemampuan diri kita dengan baik. 
Dengan demikian, persaingan tidak akan pernah mematikan kita, tetapi justru akan membuat kita lebih kuat selama kita menyadari persaingan tersebut dan terus berusaha meningkatkan diri. Orang-orang yang takut bersaing biasanya karena tidak percaya diri dengan kemampuan yang ada, ataupun memang tidak mempunyai kompetensi yang memadai. 
Kalau kita mempunyai kualitas yang memadai, persaingan justru akan semakin membuat kita berkembang jauh lebih cepat. Mereka yang mengetahui bagaimana kualitas yang kita miliki, tentu saja akan memilih kita. Tentu saja, sekali lagi, sangat tergantung apakah kita mempunyai kualitas yang memadai atau tidak. Itulah tugas kita sebenarnya.

Artikel yang Berhubungan



Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/02/cara-membuat-widget-artikel-yang.html#ixzz1JSIiysNe

Artikel yang Berhubungan



Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/02/cara-membuat-widget-artikel-yang.html#ixzz1JNBpubYr

0 komentar: