Selasa, Juli 13, 2010

Semiotika Tata Boga

Ada hubungan yang sangat menarik antara indera penglihatan dan pengecap, bila dibandingkan dengan indera peraba, pendengaran,bahkan indera pembau bila membicarakan tentang topik kuliner. Memang tidak bisa dipungkiri ada wangi makanan tertentu yang sangat mampu merangsang rasa lapar, dan harus diakui pula hal ini tidak tidak banyak yang disumbangkan oleh aspek suara dan sentuhan dari masakan tersebu.
Adapun hubungan antara ‘terlihat enak’ dan ‘terasa enak’ sangat istimewa, hingga mampu melahirkan istilah ‘lapar mata’ sebagai teman kata ‘lapar’ yang sebenarnya.
Hal ini sangat disadari oleh para pelaku dunia kuliner. Sehingga akhirnya foto-foto makanan pada menu sebuah rumah makan, lalu acara televisi yang bermateri pria setengah baya melahap berbagai makanan seraya berkata ‘maknyus’, hingga penggunaan tanda-tanda tertentu untuk mewakili produk-produk kuliner kemudian dirasa penting.
Dapat kita lihat pada rumah makan cepat saji yang mengandalkan bapak-bapak tua berpangkat kolonel, badut bule berambut merah, hingga anak kembar beda kelamin berbahasa jepun, untuk menutupi kandungannya kolesterol yang menakjubkan, dari pandangan para orang tua yang membawa anak gemuk putih kesayangannya yang mengharapkan mainan dari setiap paket yang ia lahap.
Dapat kita lihat pula pada kenyataan warung kopi modern diwakilkan oleh simbol lingkaran warna-warni cerah yang mengelilingi simbol hitam putih yang terkadang tidak relevan,untuk mengalihkan perhatian para eksekutif muda dari fakta bahwa mereka membeli kopi dengan harga murah dari petani, di balik tiap seruput mewah yang mereka nikmati.
Semiotika secara praktis berarti kajian tentang tanda-tanda. Pakar semiotika Ferdinand de saussure menyatakan seandainya ada sebuah bisnis kuliner masakan ayam goreng, beliau memberikan kita 3 pilihan untuk menggugah selera makan.
Menggunakan icon yaitu mewakili masakan ayam goreng dengan menunjukkan sosok yang menyerupai aslinya, paling mudah dengan foto ayam goreng (karena tidak seperti bisnis ponsel, jarang sekali kita melihat dummy ayam goreng), lalu dengan index yaitu menunjukkan ayam goreng dengan sebuah paha ayam dan garis-garis lengkung diatasnya yang mewakili sosok ayam goreng (termasuk jarang pula menggunakan kepala atau cakar ayam, untuk menghindari salah paham diartikan sebagai lambang partai atau tanda tipe pondasi), yang terakhir dengan symbol yaitu dengan kesepakatan bahwa bapak-bapak berjanggut putih dan berkacamata adalah ayam goreng, dan bukannya santa clauss.
(Sebelum kita lanjutkan, sekedar informasi, De saussure tidak benar-benar menggunakan ayam goreng sebagai bagian dari teorinya, ini bisa-bisanya penulis saja).
Maka berkembanglah semiotika tata boga, dari sekedar meniru, menunjuk, hingga menyepakati.
Dan semuanya dilakukan untuk mengirimkan sinyal dari mata menuju ke otak, untuk kemudian dikirimkan ke lidah yang meneteskan air liur, di dukung hidung yang mengolah wangi masakan, menjadi gerakan rotasi tangan kanan (dan terkadang kiri juga, bila efeknya terlalu dahsyat) untuk menumpahkan segala yang dihadapan mata, ke dalam mulut.
Malahan seringpula lapar mata langsung lari ke perut secara sekonyong-konyong.
Namun, masih ada misteri besar yang belum terpecahkan dalam semiotika tata boga, tentang mang ibro (bukan nama sebenarnya) tukang baso ikan yang melukis ikan hidup pada kaca dorongannya.
Atau (sebut saja) bu kokom yang menggambar segala kepiting, udang, cumi hidup pada dinding warung seafoodnya.
Sementara mas sukimin (tidak ada kesamaan dengan mas sukimin yang asli) menggelar spanduk warung ayam gorengnya berhias lukisan ayam jago hidup yang gagah, yang menatap tajam ke depan, untuk kemudian balas ditatap dari billboard pada sebuah restoran siap saji di seberang oleh kakek tua berjanggut, berkacamata, yang bukan santa clauss, yang pada hakekatnya, sesungguhnya mewakili masakan yang sama..

Artikel yang Berhubungan



Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/02/cara-membuat-widget-artikel-yang.html#ixzz1JSIiysNe

Artikel yang Berhubungan



Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/02/cara-membuat-widget-artikel-yang.html#ixzz1JNBpubYr

0 komentar: