Jumat, Maret 25, 2011

Maverick, Rudal Penjebol Lapisan Baja

Maverick, Rudal Penjebol Lapisan Baja
Perang modern memberikan bukti konkret bahwa, perkembangan teknologi seolah-olah telah membuat tak ada tempat lagi untuk bersembunyi. Bunker sekuat apapun bisa dijebol dengan akurasi tinggi. AGM-65 Maverick adalah salah satu jawabannya.

Banyak cara untuk menghancurkan sasaran. Bisa dengan peluru, roket atau bom, tergantung besar sasaran yang dihancurkan dikaitkan dengan nilai kerusakan yang diharapkan. Semua persenjataan telah dirancang sedemikan rupa agar mengenai sasaran dengan nilai kesalahan minimum. Untuk itu dikembangkanlah alat bidik lebih akurat.

Tidak hanya daya ledak yang dikembangkan, keakurasian juga berkembang dengan pesat agar nilai kesalahan menjadi kecil. Dengan demikian pesawat tempur zaman sekarang tidak perlu membawa bom banyak tetapi cukup sedikit namun mempunyai nilai kerusakan maksimum. Untuk itulah dikembangkan bom pintar yang terkendali seperti Air Ground Missile/AGM-65 Maverick. Bom ini telah melengkapi arsenal TNI AU sejak kedatangan F-16 di Indonesia pada 1990.

Fire and Forget

Medio 1972, AGM-65A mulai melengkapi data arsenal AU AS. Tidak tanggung-tanggung, lebih 25.000 unit telah diproduksi guna menggeser bom lama yang menurut pilot kurang dapat diandalkan. Pemakaian Maverick telah mengubah konsep taktik pertempuran udara. Dalam sorti pemboman tidak diperlukan lagi re-attack guna menjamin keberhasilan sorti, tetapi cukup first run attack bila sang pilot dilengkapi Maverick.

Dengan keakurasian tinggi serta mempunyai bahan ledak seberat 125 lbs, bom pintar ini sangat cocok menghancurkan sasaran atas permukaan. Daftarnya mulai dari kendaraan lapis baja, kubu pertahanan, unit radar, jembatan, tangki bahan bakar hingga kapal atas permukaan. Didukung motor roket solid propellant Thiokol TX-481, bom pintar ini dapat diluncurkan menuju sasaran mulai dari ratusan meter dari sasaran hingga 20 nm, tergantung taktik yang dikembangkan.

Setelah pilot memrogram sasaran yang dikehendaki, hampir mustahil bom akan melenceng dari sasaran. Ketepatan ini berkat alat pemandu yang terus dikembangkan, termasuk TV guidance (electro-optical television guidance system) jenis mutakhir yang juga telah kita miliki.

Varian lain tidak hanya dipandu TV guidance tetapi juga Infra Red Imaging Guidance System ataupun Laser Guidance System. Dengan demikian unit AGM-65 ini sangat mudah diubah alat pandunya tergantung misi serta sasaran yang akan dihancurkan. Begitu pula dengan isian bahan ledaknya, dapat diganti sesuai kebutuhan. Bom pintar ini mampu membawa beban antara 125 hingga 150 lbs tanpa menganggu kinerja pelepasan.

Satu unit Maverick secara kasar terdiri atas tiga bagian. Bagian terdepan berupa guidance unit mempunyai tiga varian (TV guidance, IR guidance serta laser guidance). Sistem ini terhubung dengan sirip pengendali. Bagian tengah berisi bahan ledak padat yang mampu membawa beban 125-150 lbs dan hanya bisa meledak dengan kinetic energy. Sementara bagian paling belakang berupa tabung roket berisi solit propeland agar Maverick dapat meluncur hingga 20 nm sebelum mengenai sasaran.

Fire and Forget, itulah sang Maverick. Bila sensor guidance telah mengenali sasaran dan pilot mengunci (lock on), tugas selanjutnya akan dikerjakan sendiri oleh Maverick. Meskipun dalam perjalanan menuju sasaran banyak gangguan termasuk jamming, decoy ataupun upaya lain, termasuk menembak jatuhnya.

Dengan diameter selebar satu kaki (kira kira 30 cm, termasuk sayap manjadi 70 cm) berupa tabung sepanjang 2,5 m, sangat mustahil ditembak jatuh dengan senjata antiserangan udara. Apalagi Maverick melesat pada kecepatan hampir Mach 1. Kecepatan saat mengenai sasaran akan berubah menjadi enerji kinetik. Dengan daya ini akan meledakkan isian amunisi seberat 125 lbs dengan daya ledak cukup dasyat.

Ledakan ini dapat membobol beton bertulang (R300/5.000 psi) hingga tebal satu meter atapun baja (R1800) setebal 15 cm. Hingga saat ini belum ada benda yang mempunyai ketebalan baja sampai 15 cm. Dengan kata lain tidak ada sasaran atas permukaan yang tidak dapat ditembus Maverick.

Rahasianya di pilot

Kelihatannya sangat mudah melepas AGM-65. Bidik, kunci, tembak dan meledak di sasaran. Untuk melepas Maverick diperlukan beberapa parameter yang harus dipenuhi agar tidak terjadi kesalahan sehingga senjata seharga "sejuta dollar" ini efektif. Untuk itu dalam silabi latihan penembakan Maverik, pilot adalah kunci utama. Ia harus piawai mengendalikan pesawat, piawai meletakkan cursor serta piawai dalam pembidikan.

Mendasar diperlukan tiga persyaratan pokok yaitu bahwa pilot harus dapat melihat sasaran yang akan ditembak (agar tidak keliru). Radar pesawat juga harus bisa mengendus sasaran dan terpenting, Maverick telah mengetahui sasaran apa yang akan dituju dengan menyamakan imaging optic baik dari pilot, pesawat serta Meverick sendiri.

Mata pilot dapat mengenali sasaran berdasar berbedaan warna. Radar pesawat dapat mengenali sasaran berdasar logam dan non-logam, sedang Maverick mengenali sasaran atas berbedaan suhu (sasaran dengan alam sekitar). Tiga parameter ini harus disatukan dengan menggerakkan cursor yang ada di HUD dalam satuan waktu yang sangat pendek.

Sebelum pelepasan Maverick, pesawat akan mendekati sasaran dengan kecepatan minimal 420 kts (untuk menghasilkan lift dan enerji kinetik). Rudal harus dilepas sebelum jarak mencapai minimum sekitar 5 Nm. Secara matematika pilot hanya punya waktu sekitar 20 detik sebelum Maverick dilepaskan. Kecepatan mendekat sebesar 420 kts atau 7 Nm/menit ditambah kecepatan Maverick Mach-1, maka angka 20 detik adalah waktu maksimal yang persyaratkan.

Bila dalam tenggang waktu tersebut pilot belum berhasil lock on dan belum berhasil memindah data dari radar pesawat ke data Meverick, jangan harap pemboman berhasil. Kesalahan tembak sewaktu operasi Badai Gurun beberapa tahun lalu dimungkinkan karena pilot kurang mengenali sasaran karena sangat sulit membedakan antara tank milik Irak dengan tank Abram milik sendiri pada jarak 6 nm atau sejauh 10 km. Ditambah posisi koordinat tank kawan yang berubah tiap saat dan keterlambatan up dating, memungkinkan hal-hal yang tidak dinginkan terjadi di medan pertempuran.

Kunci pokok kehebatan Maverick ada pada seeker yang terletak di hidungnya. Alat berupa bola kaca ini sangat sensitif terhadap image berdasar jenis guide-nya. Bila TV imej sensitif terhadap gambar berdasar perbedaan suhu, bila jenis IR sangat peka terhadap sinar infra merah demikian pua bila jenis laser sangat sensitif terhadap sinar laser. Dengan demikian "mata" rudal ini harus tertutup sepanjang hayat dan baru terbuka beberapa saat sebelum meninggalkan pesawat dalam proses launching. Memori di Maverick harus melihat apa yang diinginkan pilot lewat seeker dan selalu mengingatnya sampai rudal betul betul yakin bahwa sasaran benar.

Bila telah yakin dengan sasaran (membandingkan masukan pilot, radar pesawat dan gambar yang dilihat seeker), tidak ada kekuatan yang bisa mengubah ingatan rudal ini. Ketajaman seeker ini masih harus diolah oleh pilot dengan memilih Tracking Mode. Pilihannya White on Black, Black on White atau Auto Mode yang ada di tuas kemudi pilot. Pengolahan data ini agar imaging yang tampil di HUD dapat menyajikan gambar yang bisa diterjemahkan mata pilot serta memberi masukan gambar yang jelas. Kesalahan memilih mode seakan kita melihat negatif film, sebuah sajian gambar yang sulit dicerna mata.

TNI AU sebagai pengguna AGM-65, baru memiliki tiga penerbang yang pernah menembakkan rudal pintar ini. Yaitu Letkol Pnb Muhammad Syaugi, Letkol Pnb Agung Sasongkojati dan Letkol Pnb Fahcri Adami.*

Maverick dalam Varian

Jenis AGM-65A Maverick adalah varian pertama yang dilansir pada 1972 atas pesanan AU AS. Saat itu AU AS mengisyaratkan untuk mengganti bom konvensional dengan peryaratan ketat bahwa bom tersebut harus memenuhi kriteria berupa berat maksimal 500 lbs, dapat dikendalikan dengan sistem sederhana, dapat diangkut pesawat tempur yang ada serta mudah perawatannya. Setelah mengajukan berbagai contoh, terpilihlah produk Raytheon System Co., dengan wujud rudal kecil, manis, mempunyai empat sayap delta, mampu membawa hulu ledak seberat 125 lbs serta mampu diluncurkan mulai dari ketinggian 150 kaki hingga 33.000 kaki.

Dalam uji coba yang diperagakan, Maverick dapat diluncurkan pada variasi kecepatan mencengangkan. Mulai dari 200 knots hingga Mach 2. Hampir mustahil saat itu ada rudal atas permukaan mampu dilepaskan pada kecepatan supersonik. Hal ini dimungkinkan karena Raytheon System Co., telah melengkapi rudal ini dengan motor roket yang akan bereaksi dua tahap, yaitu tahap realesed selama 0,5 detik dengan daya dorong sebesar 10.000 lbs dan tahap launching selama 3,5 detik dengan daya dorong 2.000 lbs.

Dengan demikan untuk melepaskan diri dari pesawat, dicadangkan daya sebesar 10.000 lbs. Bila daya ini tidak sepenuhnya terpakai (misal rudal dilepas pada kecepatan kurang dari Mach1), kelebihan daya akan ditambahkan pada daya dorong roket tahap dua selama 3,5 detik ditambah kecepatan pesawat serta ledakan 125 lbs pyrotehnic yang dibawa, menjadi total ledakan yang sangat fantastik. Berbagai varian telah diproduksi yaitu :

AGM-65A: diproduksi pertama 1972 sebanyak 25.000 unit untuk keperluan AU AS dengan hulu ledak 125 lbs, dikendalikan infra red video over come. Hanya untuk sasaran siang hari.
AGM-65B: dilengkapi pemandu electro-optical television guidance system yang memungkinkan pilot dapat melihat sasaran lebih kecil serta jarak jangkau pembidikan lebih jauh.
AGM-65C: pengembangan model-A tetapi dapat dioperasikan pada malam hari.
AGM-65D: pengembangan dari model sebelumnya dengan tambahan adverse weather limitations yang memungkinkan rudal dapat melihat target pada cuaca buruk pada jarak pandang terbatas.
AGM-65E: khusus pesanan US Marine Corps berpemandu laser guided system dengan hulu ledak lebih besar.
AGM-65F: digunakan hanya oleh AL AS dengan laser guidance seperti varian terdahulu tetapi jenis ini mempunyai hulu ledak 300 lbs.
AGM-65G: pengembangan tipe D berupa penambahan software agar mampu dikendalikan dengan Infra Red Seeker terbaru, sehingga rudal mampu mengendus sasaran lebih jauh termasuk sasaran kapal laut. Mempunyai hulu ledak seberat 300 lbs, sebanyak lusinan tipe ini telah melengkapi arsenal TNI AU, beberapa unit telah diuji coba pada 2000 dengan hasil baik dengan tingkat akurasi lebih dari 90 persen. Hanya TNI AU dan AL AS yang mengoperasikan varian ini.
AGM-65H: mengambil rancang bangun tipe D dengan meningkatan kemampuan daya ledak. Banyak digunakan sewaktu Perang Teluk.
AGM-65K: masih dalam uji coba dan ditengarai sebagai Maverick generasi terakhir, pesanan khusus AU AS.*

Juga Ada yang Palsu
Per unit harganya lebih dari 100.000 dollar AS, tergantung varian. Ditambah biaya pelatihan, fasilitas gudang penyimpanan, perawatan, biaya uji coba serta delivery, patokan harga ini dapat melambung hingga di atas 500.000. Toh rudal ini tetap laku bak kacang goreng. Beruntung TNI AU telah membeli sebelum harga melambung setelah terbukti andal saat Perang Teluk. Kelengkapan lain yang dibeli termasuk Rudal Palsu guna menambah kemahiran para teknisi atau alat peraga. Rudal Palsu lainnya sebagai kelengkapan sebut saja:

TGM-65: Training Groung Missile-65. Ditandai dengan cicin putih yang berarti dummy dipakai sebagai prasarana latihan penerbang dalam hal pembidikan diudara. Mempunyai sistem serupa dengan AGM-65, cuma tidak dilengkapi motor roket, jadi tidak dapat diluncurkan.
MLT-65: Munition Load Training-65. Digunakan para teknisi di darat untuk latihan loading dan un loading agar terlatih sewaktu memasang Maverick beneran. Rudal dummy mempuyai bentuk, berat, warna sama dengan rudal beneran cuma bercincin biru. Karena mempunyai kemiripan dengan rudal asli, sering dipakai saat static show.
MMT-65: Munition Maintenance Training. Dipakai teknisi guna mengecek sistem alat bidik yang ada di pesawat, untuk membedakan dari jenis lain alat peraga ini bercincin kuning. Untuk TNI AU ada dua jenis pesawat yang dapat membawa TGM-65, yaitu F-16 A/B dan Hawk Mk-209.
Bagi F-16, empat rudal Maverick dapat diusung sekali terbang selain empat Aim-9 Sidewinder dan tanki cadangan. Sedang Hawk Mk-209 cuma dua, dicantolkan pada out-bond station masing- masing sayap satu.

Barang aspal (asli tapi palsu) di atas merupakan kelengkapan yang digunakan untuk memahirkan teknisi dalam memasang rudal, memahirkan pilot dalam pembidikan serta pengecekan sistem yang ada di pesawat. Sedangkan rudal asli TGM-65G Maverick tetap terpelihara di gudang penyimpanan dan hanya dikeluarkan dan dipasang di pesawat bila benar benar akan digunakan. Rudal ini ditandai dengan cicncin merah yang berarti live, mempunyai hulu ledak seberat 300 lbs, infra red guidance pada moncongnya yang selalu tetutup serta mempunyai "jendela kaca" sebesar ibu jari. Selama warna jendela ini Amber to Red, berarti sang Maverick masih serviceable.*

Prosedur Peluncuran MAVERICK AGM-65G
WEAPON LOUNCH
RCP MODE Knop - Out of OFF
SWS Power - ON
A-G Button - Depress
AGM-65 Weapon - Select
SCP Power OSB - Depress (On Indicator)
Station OSB - Select
REO - ON
Master Arm - ON / AGM
- Simulated / TGM
Video - Check
CONTRAST - Select
Please EO cross over target
DESIGNETE - Depress ond hold
CUESOR - Reload / Lock On
Confirm within launch parameter
PICKLE BUTTON - Depress an Hold ( 0.5 sec)
Reaped again from UNGAGE for next missile
Power OSB - Depress OTT
A-G Button - Depres

NOTE:

T/O Speed = 158 Kts
V - ROTATE = 148 Mil
= 143 A/B
T/O Distance = 3200 feet Mil
= 2000 feet A/B
Reft Speed = 179 Mil
= 198 A/B
Max G's = Symetric T/O (7,33) / -2,5
= Roll 5,5 (6.0) / -1
Max Speed = 600 Kts / 0.95 MN

Artikel yang Berhubungan



Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/02/cara-membuat-widget-artikel-yang.html#ixzz1JSIiysNe

Artikel yang Berhubungan



Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/02/cara-membuat-widget-artikel-yang.html#ixzz1JNBpubYr

0 komentar: