Minggu, Januari 03, 2010

Membangun Kepribadian Rabbani

[1090.JPG]

“ kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkardan beriman kepada Allah. Sekranya ahli kitab beriman tentulah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik “. (QS.Ali Imran:110)
Semenjak keruntuhan khilafah Islamiyah pada tahun 1924 kemrosotan peradaban dan akhlak Islamiyah dikalangan umat sekmakin menjadi-jadi. Kemaksiatan dan kemunkaran merajalela demikian marakyna, sampai-daampai terjadi Talbisul haqqo bil bathil (pencampuradukan kebenaran dengan kebathilan ) dan bahkan kitmanul haqqo (menyembunyikan kebenaran ) pun sudah menjadi hal yang lumrah baik dikalangan ulama, umara maupun umat. Dampak dari itu semua terpampang didepan kita yaitu mengorbitnya generasi yang tidak takut terhadap azab dan dosa sekalipun akbarul kabaair . benarlah sabda Rasulullah saw yang memberikan sinyalemen mengenai kondisi kaum Muslmin ketika mendekati akhir zaman laksana hidangan yang dikerumuni orang-orang yang rakus.
Terlepas dari itu semua usaha-usaha kearah pembangunan kembali peradaban dan akhlak Islamiyah merupakan kewajiban yang tak terelakan. Karena itu hal yang sangat mendesak untuk segera dilaksanakan mencetak sebanyak-banyaknya’ agent of change’ (du’at ilallah) yang berfungsi mengemban amanah dan mengembalikan kejayaan umat sebagaimana di zaman Rasulullah saw dan Khulafaur Rasyidin.
Selaku’agent of change’ ia harus memiliki syakhsyiyyah Rabbaniyah (kepribadian Robani) karena dengan kepribadian itulah yang mampu mengembalikan kejayaan umat dan menegakan’ izzah islam. Prototipenya dalam tarikh islam bertebaran bak bintang di langit mulai dari Anbiya’, para sahabat nabi saw tabi’in sampai pada para ulama salaf.
Syaikhhul Islam Ibnu Taimiyah merupakan sekian dari prototype Syaksyiyyah Rabaniyah. Sejak kecil beliau dididik dan dibesarkan di lingkungan ulama salaf yang memiliki pemahaman Ad-din berada ditataran puncak. Mengomentari hal itu Imam Adz Dzahabi berkata ‘Dia (Ibnu Timiyah ) merupakakan lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamanya terhadap Al Quran dan As Sunah serta perbedaan pendapat dan berliau merupakan lautan dalil naqli….”
Beliau merupakan profil ulama Rabbani yang teguh berpijak pada akidah salafiyah dan paling gigih dalam memerangi para mubtadi’ (ahlul bid’ah) sekaligus memberanguskan ajaran-ajaran falasifah. Kehidupan sangat pekat dalam suasana ruhiyah yang tinggi, sisi lain dia juga mujahid yang ahli perang dan memberikan komando kepada kaum muslimin untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar (tahun 700,702,713H). beliau adalah pembela tiap jengkal tanah umat islam dari kezaliman musuh dengan pedangnya, sebagaimana beliau juga membela aqidah umat dari rongrongan para ahlul bidah dengan lidah dan penaya. Senboyan ruhbanun fi al laili wa fursanun fi an nahari, benar-benar teraplikasikan dalam kehidupanya.
Pribadi-pribadi seperti beliaulah yang kelak mampu mengembalikan kejayaan umat dan menegakkan izzah islam. Shingga wajar program dakwah baik secara jama’i maupun fardi diarahkan pada pembentukan syakhsyiyyah rabaniyah, secara mujmal (global) mereka baru disebut Sykhsyiyyah Rabbaniyah setelah memenuhi tiga khashaishuha ( kriterianya ), yaitu :

1.Al-Islamu Qooimun finafsih
Islam tegak dalam diri, maksudnya ia harus diimplementasikan oleh para ‘agent of change’ dalam kehidupan sehari-harinya, dengan catatan harus benar, baik secara akidah maupun syari’at.
Benar dalam akidah, berarti dalam setiap ‘agent of change’ harus teguh berpegang pada akidah Islamiyah yang hanif ( Q.S. Al-An’aam : 161 )tanpa embel-embel paham-paham falasifah apalagi ajaran-ajaran ahlul bid’ah semacam Rafidhah, Inkar Sunnah, Ahmadiyah dan lain sebagainya, yang nota bene sesat dan menyesatkan umat dan bukannya menegakkan ‘izzah Islam wal Muslimin.
Benar dalam syar’i, berarti bahwa dalam menjalankan syari’at harus sesuai dengan ketetapan Rasulullah saw tanpa menyertakan atau menyandingkannya dengan fatwa-fatwa atau ide-ide para ahlul bid’ah.Allah berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu’.( Q.S.Al-Baqarah: 208 )
Agar maksud diatas dapat tercapai, dua point dimuka merupakan syarat mutlak, jika salah satunya cacat maka batallah ia. Dalam konteks ini, hendaknya ditumbuhkembangkan sikap tawadhu’ terhadap al-haq dan sikap wara’ terhadap selainnya.
Sementara itu masih dalam kerangka Al-Islami Qooimun Fi-nafsih, hendaknya dibudayakan suasana ruhiyyah yang kental diantara para ‘agent of change’. Seperti :
Meningkatkan intensitas ibadah nafilah, mengadakan malam muhasabah secara jama’i, mentadabburi ayat-ayat tarhib dan targhib, mengingat kematian dan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengannya serta merenungkan kehidupan sesudahnya.
Bukankah kedekatan (taqarrub ) pertolongan Allah berbanding lurus dengan kedekatan kita kepada Allah azza wa jalla, dan bukankah kedekatan itu kita peroleh dalam kepekatan dan ketinggian suasana ruhiyyah kita. Dan kemenangan tidaklah ditentukan oleh kecanggihan senjata dan melimpahnya prajurit tetapi ruhiyyahnya kering lagi tandus.

2.Al-Hirshu ‘ala ad Dakwah.
Kriteria kedua dari Syakhsiyyah Rabbaniyyah adalah bahwa ‘agent of change’ harus memiliki kemampuan yang membaja untuk berdakwah, tanpa ini ia akan cepat patah semangat kemudian berjatuhan bak daun kering.
Allah berfirman:
‘Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”( Q.S Fushilat : 33 )
Ayat diatas merupakan pertanyaan retoris yang jawabannya ada dalam pertanyaan tersebut. Dakwah merupakan pekerjaan terbaik dari seluruh pekerjaan yang ada, dan ia sudah menjadi kewajiban atas setiap muslim sebagaimana amanat Rasulullah saw disaat haji wada’ yang berbunyi, ‘hendaklah kalian yang menyaksikan menyampaikannya kepada yang tidak hadir’.
Setelah kesadaran akan wajibnya dakwah serta kemauan yang keras untuk mengembangkannya, maka langkah selanjutnya adalah memahami watak dakwah dan ma’rakah ( tribulasi ) diseputarnya. Dakwah bukanlah perjalanan yang mulus tanpa hambatan, melainkan ia dipenuhi onak dan duri yang ditebar baik secara sengaja maupun tidak sengaja oleh mereka yang tidak ridha terhadapnya. Onak dan duri tersebut dapat berbentuk fitnah ( gangguan eksternal ) yang cenderung destruktif, namun dapat pula berbentuk mihnah ( gangguan internal ) lebih bersifat konstruktif, akan tetapi kesemuanya ini selain sebagai sunnatullah juga bermaksud untuk meningkatkan kualitas akidah dan dakwah sang ‘agent of change’. Lagi pula bukankah yang namanya ujian itu dimaksudkan untuk menaikkan level dan bukan sebaliknya.
Syakhsiyyah Rabbaniyah adalah mereka yang berkesadaran dan berkemauan untuk melakukan dakwah Islamiyah, sedangkan program dakwah yang dilakukannya hendaknyapun diarahkan pada terbentuknya Syakhsiyyah-syakhsiyyah Rabbaniyah yang baru. Dengan demikian peluang kearah pembangunan kembali peradaban Islamiyyah semakin menjadi sebuah keniscayaan.

3. Al-Isti’dad Lil Mauti fiSabiilid Dakwah.
Satu hal yang membuat kondisi umat demikian kronisnya laksana hidangan yang dikerumuni orang-orang yang rakus, tidak lain adalah karena kualitas umat itu sendiri yang laksana buih di lautan. Kualitas yang demikian rendahnya berkembang karena telah mewabahnya penyakit ‘wahn’ yaitu hubbud ad-dunya wa karahiyyatu al maut ( cinta dunia dan takut mati ), demikian sinyalemen Rasulullah saw, empat belas abad yang lalu. Dalam bahasa yang lain ulama salaf menyebutnya dengan, Umat telah meletakkan dunia di dalam hatinya, sedang para sahabat meletakkannya dalam genggaman’.
Maka criteria selanjutnya yang harus dimiliki ‘agent of change’ agar ia dapat disebut sebagai Syakhsiyyah Rabbaniyyah adalah rela untuk mati karena dakwah.Allah berfirman:
‘Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada allah; Maka diantara mereka ada yang gugur. Dan diantara mereka ada ( pula ) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah ( janjinya ). ( Q.S. Al-Ahzab:23 ).
Seorang ‘agent of change’ harus tampil ke muka memberi contoh sebagaimana telah dilakukan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
Pertemuan di Darun Nadwah telah menelurkan satu keputusan bahwa Muhammad saw harus dibunuh, dalam melaksanakannya, kaum kuffar Quraisy bersepakat bahwa setiap kabilah yang ada harus mengirim satu orang pemuda yang membunuhnya. Hari yang telah ditentukan tiba dan kediaman Rasul pun dikepung dari segenap penjuru oleh para kuffar Quraisy, dengan kecermatan perhitungan Rasulullah saw memerintah Ali ra untuk tidur di tempat Rasul dan ia pun dengan penuh ketaatanya melakukannya.Malam berlalu tanpa ada prahara, tapi ‘ibrah di balik peristiwa itu sangat banyak.
Sepenggal kisah di atas agaknya dapat menghibur hati para du’at yangn ikhlas.
Demikian ridhanya Ali ra menggantikan posisi Rasul yang ketika itu hendak dibunuh, yang beliau lakukan tidak lain adalah demi kelangsungan dakwah Islamiyah.Kematian adalah suatu kepastian, ia bukanlah akibat dari satu hal atau perbuatan tertentu dan ia bukanlah sebuah resiko.Sepanjang tarikh Islam tak terhitung banyaknya para du’at yang mengikhlaskan nyawanya untuk dakwah dan tak terbilang pula banyaknya para du’at yang darahnya menyirami taman syuhada’ dan ia akan semakin tak terbilang banyak kelak.
Diantara fitnah yang ditebarkan, inilah fitnah yang terbesar menimpa para du’at.Akan tetapi betapa tenangnya Sayyid Qutb menghadapi tiang gantungan, begitupun dengan Ibnu Taimiyyah, bahkan ia sempat berujar,’Di penjara bagiku adalah khalwat, terusirku adalah siyaahah dan kematianku adalah syahadah’.
Ketiga criteria itulah yang akan membentuk seseorang menjadi Syakhsiyyah Rabbaniyah, dan ‘agent of change’ harus memilikinya tanpa reserve agar segala usaha yang telah dilakukan untuk pembanguna kembali peradaban Islam tidak menjadi utopia."

Artikel yang Berhubungan



Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/02/cara-membuat-widget-artikel-yang.html#ixzz1JSIiysNe

Artikel yang Berhubungan



Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/02/cara-membuat-widget-artikel-yang.html#ixzz1JNBpubYr

0 komentar: