Jumat, Januari 08, 2010

PERGURUAN TINGGI AGAMA ISLAM: SUATU HARAPAN

aya sempat membaca di internet, moto dari Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (DIKTI) Departemen Agama yaitu “Peningkatan Kualitas Lulusan PTAI adalah Jihad Akbar dan Fardhu ‘Ain”. Saya tidak tahu persis apakah moto itu kemudian diturunkan oleh setiap Perguruan Tinggi Agama Islam menjadi visi, misi, dan tujuan di masing-masing perguruan tingginya. Anggap saja lalu diturunkan maka ada dua kata kunci pokok dari moto itu yang saya nilai sangat strategis yakni “jihad akbar” dan “fardhu ain”. Dari beberapa sumber rujukan; “jihad Akbar” mengandung arti mengembangkan akhlak terpuji (akhlak al karimah). Sementara “fardhu ain” berarti status hukum dari sebuah aktivitas dalam Islam yang wajib dilakukan oleh seluruh individu yang telah memenuhi syaratnya.  Ilmu fardhu ‘ain ialah ilmu yang wajib dipelajari dan diamalkan oleh setiap orang Islam. Ia merupakan tanggungjawab individu. Dalam fardhu ain ada Tauhid yang menguraikan tentang aqidah, ada Fiqh yang membahas tentang syariat dan ada Tasauf yang menerangkan tentang akhlak. Kesemua ini mesti dipelajari dan diamalkan oleh setiap individu Islam.
Kedua kata kunci itu dinilai semakin penting ketika bangsa Indonesia dan khususnya umat Islam sedang menghadapi persoalan-persoalan multi dimensional. Disamping itu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni di era global ini menuntut kesiapan perguruan tinggi agama islam (PTAI) yang prima. Dengan jumlah dosen (tetap dan tidak tetap) pada IAIN-UIN dan STAIN yang masing-masing mencapai 6203 dan 3365 orang dan jumlah mahasiswa 87.057 dan 58.476 orang (2003), mencerminkan PTAI merupakan  lembaga pendidikan tinggi nasional yang penting. Belum lagi ditambah dengan perguruan tinggi islam swasta maka jumlah dosen dan mahasiswa di Indonesia semakin besar. Terbukti PTAI telah menjadi pilihan khalayak belajar untuk menuntut ilmu khususnya di bidang agama Islam. Pertanyaannya adalah apakah PTAI  sebagai perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan tinggi agama Islam sebagai kelanjutan pendidikan menengah telah mampu menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang beriman, bertaqwa, berakhlaq mulia dan memiliki kemampuan akademik, profesional, dan/atau vokasi yang menerapkan, mengembangkan, dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian, baik di bidang ilmu agama Islam maupun ilmu lain yang diintegrasikan dalam agama Islam.
Untuk mencapai tujuan PTAI maka dibutuhkan manajemen pendidikan yang profesional. Ciri-ciri bentuk manajemen seperti itu adalah adanya sifat-sifat amanah, visioner, inovasi, dan efisiensi,  di kalangan pengelola khususnya di kalangan manajemen puncak. Selain itu program-programnya harus sesuai dengan kebutuhan agama, perkembangan IPTEKS,  kebutuhan bangsa, dan dinamika khalayak. Secara operasional, sekurang-kurangnya ada tiga dimensi manajemen profesional yang dapat dijabarkan:
(1).Perencanaan strategis berisikan hasil analisis SWOT yang kemudian digunakan untuk merumuskan visi, misi, tujuan dan strategi kebijakan perguruan tinggi jangka menengah dan panjang. Perlu secara jelas diuraikan paradigma pendidikan tinggi yang dianut, peran dalam pembangunan, relevansi dan mutu pembelajaran dan lulusan,  peluang pemerataan pendidikan, dan kebijakan anggaran pembelajaran dan organisasi. Sasaran program hendaknya berorientasi ke depan;  dalam  hal  pengembangan metode pembelajaran, sumber daya manusia, kurikulum,   riset dan pemberdayaan masyarakat, dan  kajian-kajian keislaman  yang kontekstual dengan didukung struktur organisasi yang efisien dan fasilitas yang cukup.
(2).Manajemen kepemimpinan yang amanah. Selain itu dibutuhkan pemimpin yang visioner, keteladanan terpuji, ketrampilan konseptual, integritas akademik tinggi, integritas keorganisasian dan pengelolaan (ketrampilan manajerial) yang adil tanpa membeda-bedakan asal usul latar belakang status organisasi dari dosen kecuali pada kualitasnya. Dengan kata lain dibutuhkan seseorang yang memliki kepemimpinan integratif.
 (3).Manajemen Sumberdaya Manusia Strategis (MSDM). Data dari DIKTI, Departemen Agama, menunjukkan persebaran rasio jumlah mahasiswa terhadap jumlah dosen pada tahun 2003  antar PTAI menunjukkan ketimpangan. Di sisi lain secara total, kebutuhan penambahan  dosen tetap cukup besar yakni sekitar 4000 orang. Dengan demikian rekrutmen dosen secara selektif dan proporsional perlu segera dilakukan oleh Departemen Agama. Disamping itu untuk menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat dan meningkatnya kebutuhan pasar akan alumni yang bermutu, maka pengembangan SDM para dosen PTAI lewat pendidikan pascasarjana tidak bisa ditunda-tunda lagi.   
     Semoga PTAI semakin berkembang sejalan dengan harapan umat dan bangsa.

Artikel yang Berhubungan



Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/02/cara-membuat-widget-artikel-yang.html#ixzz1JSIiysNe

Artikel yang Berhubungan



Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/02/cara-membuat-widget-artikel-yang.html#ixzz1JNBpubYr

0 komentar: