Senin, April 12, 2010

Dari Mitos ke Logos
(Peranan Filsafat dalam merubah Pola Pikir)


Sekilas tentang mitos
Mitos atau mite(myth) adalah cerita prosa rakyat yang tokohnya para dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi di dunia lain pada masa lampau dan dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Mitos pada umumnya menceritakan tentang terjadinya alam semesta, dunia, bentuk khas binatang, bentuk topografi, petualangan para dewa, kisah percintaan mereka dan sebagainya.
Istilah Mitologi telah dipakai sejak abad 15, dan berati “ilmu yang menjelaskan tentang mitos”. Di masa sekarang, Mitologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah ilmu tentang bentuk sastraDewa dan makhluk halus di suatu kebudayaan. Menurut pakarnya, Mitos tidak boleh disamakan dengan fabel, legenda1, cerita rakyat, dongeng2, anekdot atau kisah fiksi. Mitos dan agama juga berbeda, namun meliputi beberapa aspek. yang mengandung konsepsi dan dongeng suci mengenai kehidupan
Selanjutnya muncul pertanyaan, bagaimanakah filsafat itu tercipta? Hal apa yang menyebabkan manusia berfilsafat? Pada dasarnya ada empat hal yang merangsang manusia untuk berfilsafat, yaitu ketakjuban, ketidakpuasan, hasrat bertanya, dan keraguan.
Sebelum lahirnya filsafat, kehidupan manusia dikuasai dan diatur oleh berbagai macam mitos dan mistis. Berbagai macam mitos dan mistis tersebut berupaya menjelaskan tentang asal mula dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam alam semesta, yang terjadi dalam kehidupan manusia sehari-hari. Sayangnya, ternyata penjelasan-penjelasan yang berasal dari mitos dan mistis tersebut makin lama makin tidak memuaskan manusia. Ketidakpuasan itu pada nantinya mendorong manusia untuk terus menerus mencari penjelasan dan keterangan yang lebih meyakinkan bagi dirinya, dan yang lebih akurat.
Ketakjuban manusia telah melahirkan pertanyaan-pertanyaan, dan ketidakpuasan manusia membuat pertanyaan-pertanyaan itu tidak kunjung habisnya. Dengan bekal hasrat bertanya maka kehidupan manusia serta pengetahuan semakin berkembang dan maju. Hasrat bertanyalah yang mendorong manusia untuk melakukan pengamatan, penelitian, serta penyelidikan. Ketiga hal tersebut yang menghasilkan pelbagai penemuan baru yang semakin memperkaya manusia dengan pengetahuan baru yang terus bertambah.
Manusia sendiri ketika mempertanyakan segala sesuatu dengan maksud untuk memperoleh kejelasan dan keterangan mengenai hal yang dipertanyakan tersebut, itu berarti dia sedang mengalami keraguan. Keraguan ini dilandasi bahwa sesuatu yang dipertanyakan tersebut belum terang dan belum jelas. Karena itu manusia perlu dan harus bertanya. Manusia bertanya karena masih meragukan kejelasan dan kebenaran dari apa yang telah diketahuinya.
Filsafat sebaga Cara Berpikir
Berpikir secara fisafat dapat diartikan sebagai berpikir yang sangat mendalam sampai pada hakikat, atau berpikir secara global (menyeluruh), atau berpikir yang dilihat dari berbagai sudut pandang pemikiran atau sudut pandang ilmu pengetahuan. Berpikir yang demikian ini sebagai upaya untuk dapat berpikir secara tepat dan benar serta dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini harus memenuhi persyaratan:
  • Pemikiran kefilsafatan harus bersifat sistematis, dalam arti bahwa cara berpikirnya bersifat logis dan rasional tentang hakikat permasalahan yang dihadapi. Hasil pemikirannya tersusun secara sistematis, artinya satu bagian dengan bagian lainnya saling berhubungan secara bulat terpadu.
  • Tinjauan terhadap permasalahan yang dipikirkan bersifat radikal, artinya menyangkut persoalan-persoalan mendasar sampai ke akar-akarnya.
  • Ruang lingkup pemikirannya bersifat universal, artinya persoalan-persoalan yang dipikirkan mencangkup hal-hal yang menyeluruh dan mengandung generalisasi bagi semua jenis dan tingkat kenyataan yang ada di alam ini, termasuk kehidupan umat manusia, baik di masa sekarang maupun di masa mendatang.
  • Meskipun pemikiran yang dilakukan lebih bersifat spekulatif, artinya pemikiran yang tidak didasari pembuktian-pembuktian empiris atau eksperimental (seperti dalam ilmu alam), tetapi mengandung nilai-nilai objektif, oleh karena permasalahannya adalah suatu realitas (kenyataan) yang ada pada objek yang dipikirkannya
Berpikir secara radikal, mencari asas, memburu kebenaran, dan mencari kejelasan tidak mungkin dapat berhasil dengan baik tanpa berpikir secara rasional. Berpikir secara rasional artinya berpikir secara logis, sistematis, dan kritis. Berpikir logis adalah bukan sekedar menggapai pengertian-pengertian yang dapat diterima oleh akal sehat, akan tetapi juga agar sanggup menarik kesimpulan dan mengambil keputusan yang tepat dan benar dari premis-premis yang digunakan.
Berpikir logis juga menuntut pemikiran yang sistematis. Pemikiran yang sistematis adalah rangkaian pemikiran yang berhubungan satu sama lain atau saling berkaitan secara logis. Tanpa disertai pemikiran yang logis-sistematis dan koheren, tidak mungkin dicapai kebenaran yang bisa dipertanggungjawabkan.
Berpikir kritis artinya menjaga kemauan untuk terus-menerus mengevaluasi argumentasi yang mengklaim dirinya adalah benar. Seseorang yang berpikiran kritis tidak akan mudah meyakini suatu kebenaran begitu saja tanpa benar-benar menguji keabsahan kebenaran tersebut.
Franz Magnis-suseno (1992:20) mengatakan,
Filsafat adalah seni kritik. Bukan seakan-akan ia membatasi diri pada destruksi, atau sekan-akan takut untuk membawa pandangan positifnya sendiri. Melainkan kritis dalam arti bahwa filsafat tidak pernah puas diri, tidak pernah memotong perbincangan, selalu bersedia, bahkan senang untuk membuka kembali perdebatan, selalu dan secara hakiki bersifat dialektis dalam arti bahwa setiap kebenaran menjadi lebih benar dengan setiap putaran tesis – antitesis dan antitesisnya antitesis. Tulisannya pula,” Filsafat secara hakiki memerlukan dan menyenangi debat (dan disini letak perbedaannya dengan ajaran kebijaksanaan seoran ”guru”: filsafat adalah usaha ratio manusia dan karena itu sikap-sikap semi-religiusitas tidak pada tempatnya di dalamnya, dan dalam merentangkan diri pada masalah-masalah yang paling dasarpun filsafat masih senang bertengkar, bercorak nakal, duniawi dan sering sinis).
Franz (1992:21) juga menerangkan bahwa filsafat sebagai kritik ideologi. Sifat kritis filsafat itulah yang menjadikannya sebagai sarana kritik bagi ideologi. Ia mengatakan,” Ciri khas sebuah ideologi ialah bahwa selalu dimuat tuntutan-tuntutan mutlak yang tidak boleh dipersoalkan. Yang menjadi kain merah ideologi yang menantang filsafat ialah kemutlakan yang melekat pada tuntutannya. Ideologi menuntut suatu yang tidak boleh dipertanyakan. Padahal, filsafat secara hakiki menuntut pertanggungjawaban. Maka terhadap segala bentuk ideologi filsafat merupakan ilmu yan tidak sopan, yang tidak mau menunjukkan hormat”. Di tambahkan dalam catatan kakinya bahwa ideologi tidak serta merta disamakan dengan agama dan kepercayaan.

Logika sebagai cabang filsafat

Dalam studi filsafat untuk memehaminya secar baik paling tidak kita harus mempelajari lima bidang pokok, yaitu: Metafisika, Epistemoligi, Logika, etika, dan Sejarah Filsafat.
Logika adalah sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis disini berarti logika dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia lahir bersama-sama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk memasarkan pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno tidak jarang mencoba membantah pikiran yang lain dengan menunjukkan kesesatan penalarannya.

Dasar-dasar Logika

Konsep bentuk logis adalah inti dari logika. Konsep itu menyatakan bahwa kesahihan (validitas) sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan oleh isinya. Dalam hal ini logika menjadi alat untuk menganalisis argumen, yakni hubungan antara kesimpulan dan bukti atau bukti-bukti yang diberikan (premis). Logika silogistik tradisional Aristoteles dan logika simbolik modern adalah contoh-contoh dari logika formal.
Dasar penalaran dalam logika ada dua, yakni deduktif dan induktif. Penalaran deduktif—kadang disebut logika deduktif—adalah penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif. Argumen dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya. Argumen deduktif dinyatakan valid atau tidak valid, bukan benar atau salah. Sebuah argumen deduktif dinyatakan valid jika dan hanya jika kesimpulannya merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya.
Contoh argumen deduktif:
  1. Setiap mamalia punya sebuah jantung, 2.Kuda adalah mamalia, 3. Setiap kuda punya sebuah jantung
Penalaran induktif—kadang disebut logika induktif—adalah penalaran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum.
Contoh argumen induktif:
  1. Kuda Sumba punya sebuah jantung. 2. Kuda Australia punya sebuah jantung. 3. Kuda inggris punya sebuah jantung. 4. Setiap kuda punya sebuah jantung
Beberapa ciri yang membedakan antara penalaran deduktif dan induktif
Deduktif
Induktif
Jika semua premis benar maka kesimpulan pasti benar
Jika premis benar, kesimpulan mungkin benar, tapi tak pasti benar.
Semua informasi atau fakta pada kesimpulan sudah ada, sekurangnya secara implisit, dalam premis.
Kesimpulan memuat informasi yang tak ada, bahkan secara implisit, dalam premis.
mitos merupakan penjelasan akan hubungan manusia dengan alam.
Sedangkan logos merupakan cara manusia untuk menjelaskan kehidupan melalui sebuah penelitian. Manusia menjelaskan realita yang ada yang tersebut dengan meneliti gejala-gejala alam maupun peristiwa-peristiwa yang ada. Apa yang mereka terima bukan merupakan wahyu. Karena penjelasan tersebut tidak diterima begitu saja, namun merupakan buah dari pencarian..
Berikut ini merupakan contoh yang menggambarkan perbedaan mitos dan logos. Dalam mitos, pelangi digambarkan sebagai dewa atau dewi. Sedangangkan dalam logos Anaxagoras berpendapat bahwa pelangi adalah pantulan dari matahari yang ditangkap oleh awan. Berbeda lagi dengan Xonophanes yang mengatakan bahwa pelangi merupakan awan itu sendiri. Dua pendapat yang terkahir jelas bukan sebagai mitos melainkan sebagai buah dari pemikiran. Apa yang mereka pikirkan ini merupakan pendapat yang dapat diteliti dan diperdebatkan. Sedangkan pelangi sebagai mitos, hanya bisa diterima secara mentah-mentah sebagai perwujudan dewa-dewi.
Mitos dan logos memiliki perbedaan yang mendasar. Hal itu nampak dengan ada atau tidak adanya penelitan dalam menjelaskan segala sesuatu yang merupakan hubungan manusia dengan alam semesta. Kendati demikian, mitos dan logos tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Logos tidak akan ada, bila tidak ada mitos. Dalam hal ini mitos muncul sebagai awal dari munculnya logos.
Tanpa ada mitos, tidak akan ada yang dijelaskan oleh logos. Karena pada dasarnya, logos menjelaskan mitos dengan sebuah penelitian. Perlu kita ketahui, bahwa para filusuf awal menyelidiki alam semesta dan kejadian-kejadian, yang tidak lain ialah mitos itu sendiri.
Daftar pustaka
http://id.wikipedia.org
Suseno, Franz Magnus. 1992. Filsafat sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta: Pustaka Kanisius
Arifin, Muzayyin. Edisi Revisi. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta :Bumi Aksara
Syadzali, Ahmad. Mudzakir. 1997. Fisafat Umum untuk Fakultas Tarbiyah dan Ushuluddin Komponen MKDK. Bandung : Pustaka Setia
1 Legenda (Latin legere) adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang enpunya cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Oleh karena itu, legenda sering kali dianggap sebagai “sejarah” kolektif (folk history). Walaupun demikian, karena tidak tertulis, maka kisah tersebut telah mengalami distorsi sehingga sering kali jauh berbeda dengan kisah aslinya. Menurut William R. Bascom, legenda adalah cerita yang mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan mite, yaitu dianggap benar-benar terjadi tetapi tidak dianggap suci.
2 Dongeng, merupakan suatu kisah yang di angkat dari pemikiran fiktif dan kisah nyata, menjadi suatu alur perjalanan hidup dengan pesan moral, yang mengandung makna hidup dan cara berinteraksi dengan mahluk lainnya. Dongeng juga merupakan dunia hayalan dan imajinasi, dari pemikiran seseorang yang kemudian di ceritakan secara turun-temurun dari generasi kegenerasi.

Artikel yang Berhubungan



Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/02/cara-membuat-widget-artikel-yang.html#ixzz1JSIiysNe

Artikel yang Berhubungan



Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/02/cara-membuat-widget-artikel-yang.html#ixzz1JNBpubYr

0 komentar:

Bookmark and Share