Senin, Juli 12, 2010


Teori Kritis dalam Ilmu Hubungan Internasional

Kajian teori kritis dalam ilmu hubungan internasional pada hakekatnya bukan ide baru. Nilai teori kritis pertama kali muncul pada abad pencerahan melalui tulisan Kant dan Hegel. Kant dan Hegel mengeluarkan tulisan yang memuat tinjauan kritis seputar refleksi perkembangan sosial dan masyarakat saat itu. Masyarakat Eropa pada abad pencerahan merupakan hasil dari pergolakan melawan batasan-batasan gereja terhadap perkembangan ilmu (alam) saat itu yang dinilai menyalahi doktrin gereja. Selain itu, masyarakat Eropa berada dalam suatu kekacauan sosial dan politik karena distribusi power yang tidak simetris. Sehingga Kant beranggapan persoalan power tersebut akan teratasi apabila terdapat hukum (internasional) yang mengatur (Devetak, 2004: 146).
Adanya perkembangan ilmu alam sebagai suatu metodologi baru pada 1960-an berimplikasi pada perkembangan ilmu sosial pada khususnya. Ilmu sosial kemudian cenderung mengadopsi kaidah ilmiah ilmu alam dalam konseptualisasi teorinya. Teori kritik pun banyak mendapat pengaruh dengan menggunakan pendekatan-pendekatan baru dalam mengkaji teorinya. Antara lain lebih menggunakan ilmu sosiologi, pertama kali dimotori oleh Frankfurt School. Menurut tradisi Frankfurt School teori kritis muncul untuk digunakan sebagai atribut suatu filofi yang mepertanyakan kehidupan politik dan sosial modern melalui suatu metode kritik native. Tindakan tersebut merupakan usaha secara luas untuk memulihkan perspektif kebebasan dan krtis terhadap seeautau yang telah dilemhakan oleh tren sosial, budaya, politik, ekonomi dan teknologi intelektual (Devetak, 2004: 138). Selain itu esensi utama teori kritis oleh Frankfur School adalah untuk memahami karakter sentral masyarakat sekarang dengan memahami perkembangan sejarah dan sosialnya dan menelaah kontradiksi sekarang yang mungkin membuka kemungkinan yang melampaui masyarakat saat ini (Devetak, 2004: 138).
Adapun karakteristik nilai-nilai teori kritis meliputi penjelasan yang bersifat “emancipatory“ atau menawarkan kebebasan berpikir dalam menafsirkan suatu peristiwa. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa teori kritis bertujuan untuk membuka segala kemungkinan penafsiran yang terbebas dari segala prasyarat-prasayarat utama yang terdapat dalam teori mainstream. Karakteristik ini berasal dari kebebasan berpikir oleh Kant dan Hegel. Kebebasan tersebut membuka peluang bahwa suatu teori hadir untuk kemudian dikritisi supaya perkembangannya bersifat berkelanjutan sebagaimana dialektika Hegel. Dialektika Hegel mengungkapkan bahwa suatu ide akan terus menerus berkembang tanpa henti. Yang menjadi ciri pertama, teori kritis ini banyak ditemukan dalam ranah ekonomi politik internasional pada era terjadinya Great Depression sebagai suatu simbol kegagalan kapitalisme dan liberalisasi ekonomi yang mendatangkan keterpurukan sistem ekonomi dan politik internasional. Saat itu banyak negara berlomba-lomba mencari pengganti tatanan ekonomi liberal sehingga beberapa negara kemudian menemukan alternatif yakni Marxisme sebagai suatu jawaban permasalahan ekonomi liberal yang cenderung menciptakan dua kelas yakni pemilik modal dan proletar. Negara-negara core menjadi semakin kaya dengan terus menerus mengeruk keuntungan negara-negara pinggiran yang secara ekonomi terbelakang tapi kaya sumber daya alam. Eksploitasi kapital dan modal sehingga terpusat pada negara-negara inti inliah yang disinyalir mengakibatkan depresi ekonomi.
Karakteristik kedua ialah menolak teori tradisional (mainstream) yang cenderung memisahkan antara pendekatan subjek dan objektif. Menurut teori kritis, tidak ada teori yang benar-benar bersifat objektif. Menurut teori kritis, penjelasan itu pada akhirnya tidak bersifat bebas nilai. Hal ini berasal dari kecenderungan teori mainstream dalam menolak jika teorinya mengandung nilai-nilai tertentu yang sudah pasti dipengaruhi oleh suatu kelompok individu dengan tujuan spesial. Sedangkan bebas nilai menurut teori kritis adalah, teori itu tidak bisa semata-mata dilepaskan dari subjeknya. Artinya, teori penjelasan terhadap suatu peristiwa mesti merupakan refleksi apa yang terjadi di masyarakatnya meliputi sosial, budaya, politik dan ideologinya.
Karakteristik ketiga menyatakan meskipun teori kritis seolah tidak pernah melibatkan level internasional secara langsung, bukan berarti wacana internasional kemudian berada di luar perhatiannya. Kant secara jelas mengungkapkan bahwa apa yang terjadi di lingkup internasional adalah signifikasi luas terhadap pencapaian emansipasi universal (Devetak, 2004: 140).
Terdapat dua pendekatan dalam memahami teori kritis sebagaimana yang ditulis oleh Robert Cox (1981), yakni pendekatan problem-solving dan pendekatan kritis. Pendekatan problem solving atau disebut pula pendekatan tradisional lebih memfokuskan pada solusi yang diperoleh melalui pemisahan subjek terhadap objek sehingga dihasilkan suatu solusi yang benar-benar objektif. Berlawanan dengan itu, pendekatan kritis memfokuskan pada solusi yang diperoleh melalui konsolidasi subjek dan objek karena menurutnya tidak ada solusi yang benar-benar objektif dan bebas nilai dari subjeknya, seperti masyarakat yang dipengaruhi oleh budaya sosial, politik, ekonomi bahkan ideologi yang melekat sebagai atribut natural society. Menurut pendekatan ini, teori hubungan internasioanl selalu disituasikan oleh pengaruh sosial, ekonomi, politik, dan ideologi (Devetak, 2004: 142). Kehadiran pendekatan ini adalah untuk menjelaskan yang sebelumnya luput dari evaluasi dan bila mungkin melakukan perubahan (transformation).
OPINI
Lantas apa kontribusi teori kritis terhadap teori hubungan internasional? Kontribusi teori kritis antara lain menjadi jemabatan ilmu pengetahuan dengan politik. Hal ini menjadikan ilmu pengetahuan terhadap pengaruh yang tersituasi oleh keadaan perkembangan sosial, budaya, politik dan ideologi terhadap politik sangatlah signifikan. Sebagaimana ekonomi dan politik saling mempengaruhi dalam kajian ekonomi politik internasional. Teori kritis menghadirkan pendekatan alternatif dalam mengevaluasi suatu persoalan. Teori kritis hadir sebagai suatu evaluasi teori mainstream hubungan internasional yang cenderung memisahkan pendekatan subjektif dan objektif dengan dalih mendapatkan suatu solusi yang benar-benar obyektif. Padahal teori-teori mainstream tersebut sebagian besar hadir atau lahir guna melayani kepentingan individu dengan tujuan spesial. Misalnya teori liberal hadir denga postulat ekonomi yang semestinya diberi ruang gerak sebebas-bebasnya tanpa campur tangan pemerintah. Kepentingan yang diwakili oleh postulat liberal adalah kepentingan pemilik modal yang menginginkan kompetisi seluas-luasnya dengan tujuan menghilangkan batasan-batasan ekonomi seperti proteksionisme dan isolasionisme pemerintah nasional terhadap barang impor yang masuk (Frieden, 2006). Teori mainstream yang lain adalah realisme yang mengasumsikan power adalah unsur utama yang menciptakan kedudukan negara paling krusial. Teori ini muncul sebagai pembenaran terhadap segala kebijakan negara meliputi ekspansi wilayah, ekonomi, sphere of influence yang tentu saja bertujuan melayani kepentingan negara sebagai aktor utama dalam hubungan internasional. Dua contoh di atas hanyalah sebagian kecil yang kemudian dikritisi oleh teori-teori sesudahnya misalnya possitivisme, postmodernisme, English school (yang menekankan kajian studinya pada society)¸constructivisme (yang mengfokuskan kajiannya pada unsur-unsur terkecil suatu persoalan), feminisme (yang mengkritisi perkembangan isu seputar gender dalam hubungan internasional dan sebagainya. Apabila ada yang menanyakan apakah hubungan dari banyak teori tersebut di atas denga teori kritis, saya menjawabnya sebagai suatu “opsi” atau pilihan bagi sarjana hubungan internasional demi mendapatkan penjelasan yang luas dan mendalam terhadap suatu kejadian dengan berkaca pada influence yang terkondisikan oleh masing-masing (secara relatif) perkembangan/ transformasi sosial, budaya, ekonomi, politik, dan ideologi masyarakatnya.

Artikel yang Berhubungan



Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/02/cara-membuat-widget-artikel-yang.html#ixzz1JSIiysNe

Artikel yang Berhubungan



Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/02/cara-membuat-widget-artikel-yang.html#ixzz1JNBpubYr

0 komentar: