Sabtu, Juli 30, 2011

ISLAM DI ANTARA NEGARA-NEGARA MODERN

    Istilah modernisme dalam konteks diskusi keislaman tampaknya lebih tepat jika diganti dengan modernitas. Orang Islam ditengarai harus menerima modernitas, tetapi tidak menuju kepada modernisme. Dianalogikan pada istilah, misalnya, rasionalitas dan rasionalisme. Rasionalitas adalah suatu nilai yang sangat baik, bahkan diperintahkan oleh Allah, sebab rasionalitas berarti penggunaan rasio atau akal. Tetapi rasionalisme adalah suatu paham yang memutlakkan rasio dan menganggap bahwa rasio merupakan hakim terakhir dari masalah benar dan salah (yang tentu saja tidak bisa diterima oleh umat Islam).
Seringkali dipersoalkan tentang adanya kesan yang sangat kuat bahwa Islam tidak cocok dengan modernitas. Sebab kalau modernitas dipahami dalam kenyataan sehari-hari, maka bangsa-bangsa yang paling modern adalah bangsa-bangsa Anglo-Saxon, bangsa-bangsa Eropa Utara, yaitu Jerman atau bangsa-bangsa Skandinavia, Inggris dan keturunan mereka di Amerika Utara (AS dan Kanada), serta di Australia dan Selandia Baru. Inilah bangsa yang paling modern di muka bumi, dan agamanya Protestan. Yang kedua paling modern–masih dalam intern Kristen–adalah bangsa-bangsa Eropa Mediteranian, seperti Prancis, Italia, dan sebagainya. Sementara itu Spanyol dan Portugis tidak bisa dimasukkan ke dalamnya, sebab keduanya sampai sekarang masih mempunyai ciri sebagai negara Dunia ke-3, alias belum modern.
Adalah menarik bahwa yang segera menyusul menjadi modern, setelah bangsa-bangsa Barat sendiri, bukanlah sesama bangsa kulit putih seperti Bangsa Eropa Timur, tetapi justru Jepang. Inilah bangsa non-Barat yang pertama kali menjadi modern. Sehingga ada seorang antropolog yang menyebutkan Jepang sebagai The Non-Western Modernity. Dengan contoh Jepang, maka satu tesis yang sangat penting telah dibenarkan, yaitu bahwa modernitas bukanlah kebaratan, melainkan sesuatu yang universal, yang bisa dipakai oleh siapa saja, termasuk bangsa-bangsa Timur Jauh. Istilah Timur Jauh ini cukup simbolik. Karena Timur Jauh itu tidak saja dari segi geografis letaknya memang sangat jauh dari Inggris (sebab yang menamakan istilah ini memang orang Inggris), tetapi dari sisi kultural juga ada yang sangat jauh dari budaya Barat, yaitu budaya Shinto, Tao, dan sebagainya. Dan ternyata mereka bisa menjadi modern.

Artikel yang Berhubungan



Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/02/cara-membuat-widget-artikel-yang.html#ixzz1JSIiysNe

Artikel yang Berhubungan



Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/02/cara-membuat-widget-artikel-yang.html#ixzz1JNBpubYr

0 komentar: