Tampilkan postingan dengan label Keajaiban Dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keajaiban Dunia. Tampilkan semua postingan

Rabu, Januari 13, 2010

Tembok Cina



Tembok Raksasa Cina atau Tembok Besar Cina juga dikenal di Cina dengan nama Tembok Raksasa Sepanjang 10.000 Li¹ merupakan bangunan terpanjang yang pernah dibuat oleh manusia, terletak di Republik Rakyat Cina. Panjangnya adalah 6.400 kilometer (dari kawasan Sanhai Pass di timur hingga Lop Nur di sebelah barat) dan tingginya 8 meter dengan tujuan untuk mencegah serbuan bangsa Mongol dari Utara pada masa itu. Lebar bagian atasnya 5 m, sedangkan lebar bagian bawahnya 8 m. Setiap 180-270 m dibuat semacam menara pengintai. Tinggi menara pengintai tersebut 11-12 m.
Untuk membuat tembok raksasa ini, diperlukan waktu ratusan tahun di zaman berbagai kaisar. Semula, diperkirakan Qin Shi-huang yang memulai pembangunan tembok itu, namun menurut penelitian dan catatan literatur sejarah, tembok itu telah dibuat sebelum Dinasti Qin berdiri, tepatnya dibangun pertama kali pada Zaman Negara-negara Berperang. Kaisar Qin Shi-huang meneruskan pembangunan dan pengokohan tembok yang telah dibangun sebelumnya.

Sepeninggal Qin Shi-huang, pembuatan tembok ini sempat terhenti dan baru dilanjutkan kembali di zaman Dinasti Sui, terakhir dilanjutkan lagi di zaman Dinasti Ming. Bentuk Tembok Raksasa yang sekarang kita lihat adalah hasil pembangunan dari zaman Ming tadi. Bagian dalam tembok berisi tanah yang bercampur dengan bata dan batu-batuan. Bagian atasnya dibuat jalan utama untuk pasukan berkuda Tiongkok.  

Sejarah pembangunan Tembok Besar Tiongkok dapat dilacak sampai abad ke-9 sebelum Masehi. Pada waktu itu, pemerintahan di bagian tengah Tiongkok menyambung benteng dan menara api yang merupakan pos penjagaan tentara di perbatasan menjadi satu tembok panjang dalam rangka menangkis serangan etnis-etnis dari bagian utara Tiongkok. Sampai pada Masa Chunqiu dan Negara-negara Berperang, pertempuran berkecamuk di antara negara-negara kepangeranan yang saling berkonfrontasi.

Negara-negara itu demi pertahanannya sendiri berturut-turut membangun tembok besar di atas bukit dan gunung yang terletak di daerah perbatasan. Pada tahun 221 sebelum Masehi, Kaisar Qinshihuang menyatukan Tiongkok. Setelah itu, Kaisar Qinshihuang memerintahkan agar tembok-tembok yang dibangun oleh berbagai negara kepangeranan itu disambung menjadi satu tembok besar sebagai kubu pertahanan untuk menangkis serangan pasukan kavaleri etnis nomadik di padang rumput Monggolia bagian utara Tiongkok.

Tembok Besar pada waktu itu panjangnya mencapai 5000 kilometer lebih. Tembok Besar pada Dinasi Han setelah runtuhnya Dinasti Qin diperpanjang sampai 10 ribu kilometer lebih. Dalam sejarah selama 2000 tahun yang lalu, penguasa di berbagai zaman tak pernah berhenti membangun Tembok Besar sehingga panjang totalnya mencapai 50 ribu kilometer, yang cukup untuk mengitari bumi satu kali lebih.

Tembok Besar yang kita sebut sekarang kebanyakan adalah tembok besar yang dibangun pada Dinasti Ming yang berkuasa antara tahun 1368 dan 1644. Ujung baratnya berpangkal dari Benteng Jiayu di Provinsi Gansu Tiongkok Barat dan ujung timurnya terletak di pinggir Sungai Yalu Provinsi Liaoning Tiongkok Timur Laut setelah melewati 9 provinsi, kota dan daerah otonom sepanjang 7300 kilometer, atau sama dengan 14 ribu li Tiongkok. Dengan demikian, Tembok Besar itu disebut sebagai “tembok panjang 10 ribu li” di Tiongkok.

Sebagai kubu pertahanan, Tembok Besar dibangun dengan mengikuti jalannya puncak pegunungan. Topografi yang dilewatinya sangat rumit, antara lain, gurung pasir, padang rumput dan rawa. Untuk menyesuaikan diri dengan berbagai topografi, pelaksana pembangunan Tembok Besar menerapkan struktur yang luar biasa dan berbeda-beda. Kesemua ini menunjukkan kecerdasan nenek moyang bangsa Tionghoa.

Tembok Besar yang berliku-liku mamanjang menyusuri puncak pegunungan hampir mustahil ditaklukkan oleh musuh pada zaman kuno karena gunung dan lereng yang menjadi dasar tembok itu terlalu terjal untuk didaki.

Tembok Besar dibangun dengan batu besar disisipi dengan tanah dan batu pecahan. Tingginya kira-kira 10 meter dan lebarnya kira-kira 5 meter,  cukup untuk 4 ekor kuda berjalan berdampingan. Dengan demikian, sangat mudah untuk manuver tentara dan pengangkutan bahan pangan dan senjata. Di sisi dalam tembok dibangun pintu dan tangga untuk naik turun.

Tembok Besar disambung dengan benteng atau menara api setiap sektor, di mana tersimpan senjata dan bahan pangan. Benteng dan menara api itu digunakan sebagai tempat istirahat bagi prajurit pada waktu damai dan sekaligus merupakan kubu pertahanan untuk menangkis serangan musuh pada waktu berperang. Selain itu, begitu diketahui terjadinya agresi musuh, di menara api itu akan dinyalakan api pada waktu malam dan asap pada siang hari sehingga kabar tentang serangan musuh dapat tersebar ke seluruh negeri dalam waktu dekat.

Di sektor penting Tembok Besar, misalnya lintasan strategis, celah gunung dan perbatasan gunung dengan laut biasanya dibangun loteng gerbang besar. Loteng-loteng gerbang itu tidak hanya kelihatan megah, tapi juga mencerminkan seni arsitektur cemerlang zaman kuno Tiongkok. Sekarang sebagian loteng gerbang itu telah berubah menjadi obyek wisata, misalnya Loteng Gerbang Shanhaiguan di ujung timur Tembok Besar yang dijuluki sebagai loteng gerbang nomor satu Tiongkok dan Loteng Gerbang Juyongguan sektor Badaling Tembok Besar di sekitar Beijing.

Fungsi Tembok Besar sebagai kubu pertahanan militer sekarang sudah tidak ada lagi, namun keindahan arsitekturnya tetap sangat mengagumkan.

Keindahan Tembok Besar tercermin pada kemegahan, kekuatan dan kebesarannya. Melepas pandang dari tempat jauh ke Tembok Besar, tembok besar tinggi yang memanjang selama ribuan kilometer itu tampak serupa naga mahabesar yang menggeliang-geliut menyusuri pegunungan; jika dilihat dari jarak dekat, maka tembok itu penuh dengan daya tarik seni dengan arsitekturnya yang aneka ragam.
Tembok Besar adalah hasil jerih payah yang dibasahi keringat dan darah serta diresapi kecerdasan rakyat Tiongkok pada zaman kuno. Betapa beratnya proyek pembangunan Tembok Besar pada zaman kuno yang masih rendah tenaga produktif memang sulit dibayangkan.

Baca Selengkapnya......

Jumat, Januari 01, 2010

THE PALM JUMEIRAH ISLAND

The Palm Jumeirah, a man-made island in Dubai built by Nakheel, a subsidiary of Dubai World.
As you surely heard over the weekend, Dubai World -- the emirate's state-owned investment company -- has asked its creditors for a six-month delay on its interest payments. The announcement sparked panic in global markets: Dubai's stock exchange dropped 7.3 percent yesterday; Egypt's, 8 percent; Abu Dhabi's, more than 8 percent. U.S. and U.K. markets plummeted on Friday as well.
We haven't jumped on this story because, frankly, neither Evan nor myself are experts on Gulf economies or high finance. (We're trying to avoid the kind of shallow insta-analysis that leads bloggers to post a single graph and draw conclusions about a very complex story.)
But after reading about the story all weekend, and talking with a few sources this morning, here's my omnibus take on the latest developments. (If you've been following the story closely, I probably won't say anything you don't already know.)

How much does Dubai World owe?

The emirate of Dubai owes about $80 billion, and most of that debt is owned by Dubai World. The most commonly-cited figure for the company's debt is $59 billion. But that statistic includes all of the company's liabilities, and so it isn't really a meaningful metric for discussing last week's default. That was one reason for today's angry outburst from Sheikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum, the ruler of Dubai, who said reporters (and investors) "do not understand anything" about the emirate's finances.
The National describes that $59 billion claim as misleading, and says the company's actual debts are $23.8 billion. Dubai World itself owes $5 billion; the other $18.8 billion is divided amongst subsidiary companies.
In a statement today, Dubai World stressed that some of its subsidiaries are unaffected by the default.
The proposed restructuring process will only relate to Dubai World and certain of its subsidiaries including; Nakheel World and Limitless World. The process will not include Infinity World Holding, Istithmar World and Ports & Free Zone World (which includes DP World, Economic Zones World, P&O Ferries and Jebel Ali Free Zone), all of which are on a stable financial footing.
In other words: The total amount of debt involved in the default is far less than that $59 billion figure.

The question of sovereignty

Whatever Dubai World actually owes, investors have been waiting to see whether the Dubai government will stand behind the company's debts. As Felix Salmon noted last week, investors have long expected governments to backstop their state-owned companies. That implicit guarantee discourages investors from doing their due diligence, which, in turn, encourages state-owned companies to take unwise risks. It's a nasty incentive structure.
Abdulrahman al-Saleh, Dubai's finance minister, shattered that notion yesterday when he announced that Dubai will not guarantee the company's debts.
"Creditors need to take part of the responsibility for their decision to lend to the companies. They think Dubai World is part of the government, which is not correct," Mr Saleh said.
This decision is popular with many economists, who view Dubai World's default as a large-scale version of the commercial real estate busts that have happened around the world since the financial crash.
It also raises the question of whether Abu Dhabi, Dubai's flush neighbor, will bail out the cash-strapped emirate. If the Dubai government isn't willing to stand behind Dubai World, it's unclear why Abu Dhabi -- which has lent money to Dubai in the past -- would make a similar guarantee. Reports from this weekend, before al-Saleh's announcement, said Abu Dhabi was already wary of helping Dubai.

Other warning signs?

We'll end on a forward-looking note. It's true that Dubai World's default doesn't present a major systemic risk to the world financial system. It will probably hurt a few big banks -- HSBC, in particular, which has an estimated $17 billion in exposure to Dubai World -- already reeling from the financial crisis. But it won't have catastrophic implications.
It could be important, though, as Paul Krugman noted last week, as a portent of sovereign defaults to come -- particularly in the over-leveraged Gulf states. Abu Dhabi will probably be okay; the UAE's capital has built up hundreds of billions of dollars of reserves in sovereign wealth funds, and it produces more than 2 million barrels of oil per day.
Other Gulf states are more worrisome, particularly Qatar, which has invested billions on natural gas infrastructure in recent years. LNG prices are at unexpectedly low levels, and they're not expected to recover in 2010. That could make it difficult for Qatar -- which recently completed a $7 billion bond issue -- to recoup its infrastructure expenses.

Baca Selengkapnya......
Bookmark and Share