Tampilkan postingan dengan label mitologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mitologi. Tampilkan semua postingan

Senin, April 12, 2010

Pemberontakan para Titan

Suatu ketika Caelus sangat murka dengan tingkah laku para Titan putra-putranya yang dianggap tidak menghormatinya, maka dilemparkanlah putra-putranya tersebut ke dalam Tartarus sebagai hukuman terhadap mereka. Namun Terra sang ibunda melihat hal tersebut dan merasa iba atas nasib putra-putranya itu, maka kemudian pergilah Ia untuk membebaskan putra-putranya itu.
Setelah terbebas berkat kasih sayang sang ibunda maka para Titan ini kemudian menyusun siasat untuk menggulingkan Caelus. Titan yang paling berjasa dalam hal ini adalah Cronos (Saturn), Ia adalah Titan yang paling perkasa diantara para Titan lainnya yang kemudian mendatangi Caelus di saat sedang beristirahat dan dengan senjata sabitnya yang bermata berlian dia melukai ayahnya hingga tak berdaya. Maka terdengarlah pekik kemenangan Cronos (Saturn) di seluruh jagat, karena kini dialah yang berkuasa menggantikan Caelus. Namun Caelus sempat menjatuhkan kutukannya kepada Cronos (Saturn) bahwa kelak seorang putranya juga akan menjatuhkan Ia dari tahtanya.
Di dalam Tartarus, Nox kemudian melahirkan makhluk-makhluk yang mengerikan untuk menghukum Cronos (Saturn), yaitu Nemesis sang Kebencian, Kelaparan, Dusta, Fitnah, Kekejaman, Penderitaan, dan sebagainya.
Cronos (Saturn) bertahta menggantikan ayahnya. Dia mengawini saudarinya, salah seorang Titanid, yaitu Rhea (Cybele). Dari perkawinan ini lahirlah lima orang anak, yaitu Hestia (Vesta), Hera (Juno), Demeter (Ceres), Poseidon (Neptune), dan Hades (Pluto). Namun teringat akan kutukan ayahnya, maka Cronos (Saturn) menelan semua anaknya begitu mereka dilahirkan untuk menghindari bencana bagi dirinya atas kutukan dari ayahnya.
Zeus (jupiter)

Pada saat kehamilannya yang keenam Rhea (Cybele) yang berduka oleh ulah Cronos (Saturn) terhadap anak-anak mereka sendiri kemudian pergi ke lereng Gunung Dicte di Crete untuk melahirkan bayinya agar selamat dari incaran suaminya. Sekembalinya ke istana Cronos (Saturn), Rhea (Cybele) berpura-pura mengerang sakit hendak melahirkan. Setelah persalinannya selesai dia menyerahkan bungkusan bayinya kepada Cronos (Saturn), untuk ditelan. Tanpa memeriksa lagi Cronos (Saturn), menelan bungkusan yang diberikan oleh istrinya tersebut yang ternyata berisi sebongkah batu.
Putra keenam Cronos (Saturn), dan Rhea (Cybele) yang selamat dari kebuasan ayahnya diasuh oleh para peri di hutan lereng Gunung Dicte, terutama oleh Melia dan Adrastea. Mereka menamai bayi itu Zeus (Jupiter). Para makhluk menyayangi dewa kecil tersebut seolah mereka tahu bahwa kelak Zeus (Jupiter) yang akan membebaskan mereka dari cengkeraman sang tiran Cronos (Saturn). Seekor kambing betina yang bernama Amalthea, setiap hari memberikan air susunya kepada Zeus (Jupiter) dengan kasih sayang seorang ibu, kelak setelah Zeus (Jupiter) berkuasa Amalthea ditempatkan di angkasa di antara para bintang menjadi Rasi Bintang Capricorn.
Zeus (Jupiter) tumbuh dewasa dan menjadi seorang pemuda yang perkasa dan cerdas. Sahabatnya adalah seekor Rajawali besar bernama Aquila yang kerap membawakannya Ambrosia dan Nectar serta menceritakan hal-hal yang terjadi di seputar jagat raya. Zeus (Jupiter) menjadi tahu bahwa Cronos (Saturn), telah memerintah dunia ini didasari tindak kejahatan dan bertekad untuk menyelamatkan dunia ini dari kekejaman Cronos (Saturn).
Pertempuran Melawan Titan
Suatu ketika Zeus (Jupiter) mendapat kabar dari Oceanus bahwa Cronos (Saturn) yang saat itu memerintah semesta dengan kekejaman dan tindak tirani ternyata adalah ayahnya. Dia juga diberitahu bahwa saudara-saudarinya telah ditelan oleh Cronos (Saturn) setelah mereka dilahirkan. Bertambah bulatlah tekadnya untuk menyelamatkan dunia ini dari cengkeraman Cronos (Saturn). Oleh karena itu dia mengumpulkan sekutu-sekutunya yang juga menentang Cronos (Saturn). Namun sebelum itu dengan bantuan Methys, seorang putri Oceanus, dia membuat ramuan yang kemudian dipersembahkannya kepada Cronos (Saturn). Setelah meminum ramuan tersebut Cronos (Saturn). memuntahkan kembali semua anaknya yang ditelannya, Zeus (Jupiter) kemudian mengajak saudara-saudarinya tersebut bergabung melawan Cronos (Saturn). Ketika merasa diancam bahaya Cronos (Saturn) segera menghubungi saudara-saudaranya para Titan untuk membantunya. Sementara itu Zeus (Jupiter) telah berhasil mengumpulkan sekutu-sekutunya, yaitu saudara-saudarinya beserta Oceanus dan putri-putrinya, para Oceanid, serta Prometheus dan Epimetheus putra-putra Titan Iapetus. Mereka membangun markas di puncak Olympus kemudian mengelilingi altar bersumpah akan mengembalikan kedamaian dan ketentraman di semesta ini dengan menumbangkan kekuasaan Cronos (Saturn). Zeus (Jupiter) juga melepaskan para Cyclop dan Centimani dari Tartarus untuk membantunya melawan Cronos (Saturn) dan para Titan. Sebagai tanda terima kasihnya para Cyclop kemudian membuatkan senjata-senjata untuk Zeus (Jupiter) dan saudara-saudaranya, yaitu Petir untuk Zeus (Jupiter), Trisula yang dapat mengguncang bumi dan lautan untuk Poseidon (Neptune), dan Dwisula yang dapat membelah bumi dan Helm yang membuat pemakainya menjadi kasat mata untuk Hades (Pluto).
Perang melawan para titan berkobar sepuluh tahun lamanya. Namun akhirnya keunggulan Zeus (Jupiter) dengan sekutu-sekutunya terbukti. Para Titan yang kalah kembali dijebloskan ke dalam Tartarus, dirantai dengan rantai berlian dan dijaga oleh para Centimani. Atlas, saudara Prometheus dan Epimetheus yang membantu para Titan dihukum memanggul langit di pundaknya selamanya, sedangkan Cronos (Saturn). melarikan diri. Zeus (Jupiter) naik tahta menggantikan Cronos (Saturn). Dia membagi-bagikan kekuasaan kepada saudara-saudarinya. Poseidon (Neptune), menjadi penguasa lautan, Hades (Pluto) merajai Abyss/Tartarus (kerajaan orang mati), Hera (Juno) menjadi ratu langit dan permaisuri Zeus (Jupiter) . Namun Zeus (Jupiter) yang paling berkuasa atas mereka semua. Kehendak dan kata-katanya menjadi hukum yang harus dipatuhi. Memang seluruh makhluk memandangnya sebagai Bapa Semesta Alam karena dialah yang menyelamatkannya dari cengkeraman Cronos (Saturn). Dari istananya yang berselimut awan di Gunung Olympus Zeus (Jupiter) memerintah dunia dibantu oleh dewa-dewi lainnya.
Zeus (Jupiter) kerap dilukiskan sebagai pria tua berambut dan berjanggut keperakan memakai jubah putih. Di tangannya tergenggam senjatanya yang tak terkalahkan, yaitu petir, dan tongkat kerajaan di tangannya yang lain sementara bola dunia di bawah telapak kakinya. Di sampingnya Aquila yang perkasa mengepakkan sayapnya. Image Tuhan Allah dalam seni Kristen diilhami oleh figur Zeus (Jupiter).

Baca Selengkapnya......

HARMONISASI DUNIA DAN WAYANG ASIA: MITOS ATAU REALITAS?



     Pada pertemuan Asian Puppetry Gathering yang berlangsung pada Senin, 14 Desember 2008 kemarin,  masing-masing delegasi dari India, Cina dan Jepang memberi gambaran tentang perkembangan wayang yang ada di negara mereka. Forum berjalan sangat menarik dan dibuka oleh perwakilan India, Madamme Ranjana Pandey. 
Presiden Unima, Ranjana Pandey menjelaskan jika pada prinsipnya wayang India tidak berbeda dengan wayang yang dikenal di Indonesia atau Thailand, terutama karena negara-negara ini memiliki kesamaan budaya. Wayang mulanya dikenal melalui cara oral atau lisan. Di India sendiri terdapat 18-20 semacam varian tradisi yang digunakan dalam pertunjukan wayang dan tiap varian selalu memiliki identitas atau ciri yang khas, termasuk bahasa maupun warnanya yang beragam. Masing-masing wilayah di India sendiri memiliki perbedaan. Misalkan saja daerah India Selatan, di sana shadow puppet lebih diminati, sementara di wilayah utara dan timur, string dan rod puppets yang menjadi pilihan. Bahkan untuk shadow puppet di India Selatan, Ranjana melihat ada koneksi yang sangat kuat dengan wayang kulit yang dikenal di Indonesia maupun Kamboja. Baik itu dari segi cerita dan komposisinya. Ranjana menafsir bahwa koneksi ini merupakan efek globalisasi yang terjadi pada masa-masa awal masehi. Globalisasi di sini dibaca Ranjana sebagai kegiatan pertukaran budaya yang terjadi karena mobilitas penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain yang dilakukan melalui jalan perdagangan, syiar maupun misi-misi politis.
Sejak tahun 1950, teater boneka India berhasil memikat hati generasi baru di India sebab kelompok-kelompok ini jauh lebih terbuka terhadap Barat. Selain itu kelopok ini sanggup mengikuti trend dunia maupun cepat merespon tema-tema baru yang berkembang. Karena keadaan inilah maka sekitar tahun 1960, baik pemerintah maupun kelompok-kelompok NGO India turut menggunakan puppetry sebagai salah satu media campaign mereka. Kasus yang sama terjadi di Cina. Di sana pemerintah dan maupun swasta sama-sama memainkan peran aktif untuk mengelola jenis kesenian ini. Bahkan di Cina, wayang sangat dilindungi sebagai salah satu kekayaan budaya nasional mereka. 
Namun sebagaimana umum terjadi, sebenarnya wayang di India maupun di wilayah lain juga mengalami gerusan dari budaya pop. Ini menjadi semacam situasi yang tidak tertolakkan. Satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah mencari jalan keluar lewat strategi budaya dan hal ini bukanlah tidak mungkin untuk dilakukan, meskipun juga tidak mudah. Khusus di India, ada beberapa nama yang dianggap berhasil untuk menyiasati problem-problem tersebut. Misalkan saja, Pooran Bhatt yang berhasil mengembangkan wayang kontemporer, lalu Bhaskar Kogga Kamath yang berhasil mendirikan sekolah dan museum dan Chidambra Rao yang mampu mengkolaborasikan pertunjukan wayang dengan animasi. Sementara di Cina, beberapa lembaga atau pusat-pusat kebudayaan sengaja didirikan dengan maksud untuk menopang ide-ide pengembangan tersebut. Misalkan saja Shanghai Puppetter Center yang terdapat di Universitas Shanghai.
Di sana mereka mengundang siswa dari seluruh negri untuk mendalami wayang. Mereka juga kerap mengudang ahli-ahli wayang dari dalam maupun luar negri untuk bicara dalam forum-forum yang mereka selenggarakan. Orang-orang yang tertarik dengan wayang bisa menampilkan pertunjukan mereka di sana. Tidak hanya itu, China Puppetry Center bahkan memiliki kompetisi periodik yang mirip dengan penganugerahan Oscar Award bagi dalang maupun seniman pertunjukan lain yang terlibat. 
Meski beberapa jalan sudah ditempuh tapi tidak serta merta juga jika permasalahan mengenai wayang ini menjadi dapat teratasi. Revitalisasi wayang memerlukan strategi yang lebih jitu. Forum juga mencoba membahas masalah ini. Antusiasme datang dari Danny Liwanag, Director of the Puppeteer Association of the Philippines. Danny menanyakan kepada forum strategi apakah yang dapat digunakan untuk memenangkan ‘pertarungan budaya’ itu.
Di Filipina, wayang menjadi booming setelah Dr. Jose Rizal memainkan Carillo, sebuah pertunjukan shadow puppet pada tahun 1898. Namun hari ini wayang tergusur. Industri anime Jepang misalkan, jauh lebih diminati anak-anak Filipina ketimbang wayang. Berangkat dari permasalah tersebut Danny meminta Ranjana Pandey untuk menjelaskan lebih detail tentang pembentukan karakter tokoh wayang bagi anak-anak. Pertanyaan ini diajukan Danny setelah Ranjane Pandey menjelaskan keberhasilan wayang India ketika ia harus melakukan sinergi dengan teknologi. Hari ini wayang India memang berhasil melakukan metamorfosa. Mereka merambah industri televisi, sinema, baik dalam tampilan tradisional maupun lewat teknologi animasi.
Menjawab permasalah ini Ranjana Pandey mengingatkan bahwa struktur atau sistem budaya di tiap wilayah selalu memiliki ciri berbeda. Penentuan karakter ataupun strategi untuk memenangkan wacana akan ditentukan oleh masing-masing kultur. Bagaimana konteks sosio-historis maupun perkembangan masing-masing masyarakat ditiap-tiap negaralah yang harus menjadi acuan. Tolak ukur ini penting karena tanpa pemahaman yang cukup, strategi budaya macam apapun tidak akan mampu menjawab permasalahan yang ada. Yang cukup menolong adalah, posisi wayang di India tampaknya sudah cukup mengakar. Wayang hadir dalam setiap ritual adat, pesta kelahiran maupun festival yang sifatnya umum (bukan semata festival budaya).
Artinya, India memang berada dalam level yang berbeda dengan Filipina, misalkan, ketika bicara mengenai pengembangan wayang. Wayang India bukan lagi sub-kultur yang berdiri dalam posisi budaya tanding yang harus memenangkan pertarungan dengan wacana dominan. Kultur yang sama tidak ditemui di Filipina karena sebagaimana diketahui pengaruh peradaban Hindus tidak sekeras yang pernah terjadi di Indonesia, misalkan. Sejarah Filipina lebih didominasi oleh kebudayaan western, khususnya Katolik yang dibawa masuk oleh Spanyol, dan di sisi lain Amerika dikemudian hari. Kenyataan ini membuat Filipina harus bekerja lebih keras seandainya mereka memang benar-benar berhasrat mendudukkan wayang sebagai salah satu kesenian yang penting.  Kasus Filipina ini sebenarnya tidak berbeda jauh dengan apa yang terjadi di Jepang. Masyarakat Jepang hampir-hampir tidak mengenal jenis kesenian ini. Wayang kalah bersaing dengan anime, butoh, kabuki, origami, ataupun bentuk kesenian dan kebudayaan Jepang lainnya. Wayang di Jepang masih dipertunjukkan dalam ruang yang terbatas, misalkan saja di rumah sakit. Seandainya ditampilkan sebagai bagian pertunjukan teater modern pun harga tiket yang ditarik terhitung mahal sehingga jenis kesenian ini cenderung eksklusif.
Wakil delegasi Jepang menjelaskan bahwa mereka masih berada ditahap awal untuk memperkenalkan wayang kepada masyarakat. Salah satu cara yang mereka lakukan adalah dengan membuat free magazine yang bekerja sama dengan industri advertising atau industri lainnya Di Cina sendiri, ketakutan macam ini sedikit tereliminasi. Selain didukung oleh peradaban dan struktur mitologi kebudayaan yang kuat, tampaknya ada upaya yang cukup serius untuk memperkenalkan wayang kepada anak-anak sejak usia dini.
Dalam pernyataannya, wakil dari delegasi Cina mengatakan bahwa wayang harus dipertahankan sampai di masa depan. Cina memiliki banyak anak-anak dan wayang harus ditunjukkan kepada mereka. Untuk itu delegasi Cina mengundang semua pihak untuk datang dan mempertunjukkan wayang di sana. Selain itu mereka juga mengingatkan pentingnya forum diskusi, workshop ataupun seminar untuk membahas masalah ini.
Diharapkan kerjasama antar berbagai elemen baik ditingkatan regional maupun tingkatan yang lebih luas dapat memberi kontribusi penting bagi perkembangan wayang. Pertemuan ini sendiri ditutup kesepakatan untuk membuat kerjasama. Pembuatan sanggar, pertukaran pertunjukan antar negara maupun pertukaran informasi untuk mendukung perkembangan wayang ditiap-tiap negara merupakan agenda utama dan mendesak untuk segera direalisasikan.
Dengan kerjasama ini diharapkan hubungan antar negara maupun keterikatan kultural masyarakat di wilayah ini dapat terjalin lebih kondusif. Hal utama yang digarisbawahi adalah mendorong terbentuknya harmonisasi dan kedamaian dunia malalui wayang. Sebuah cita-cita mulia yang memerlukan kerja keras bersama agar ia tidak semata menjadi mitos atau bunga tidur belaka...

Baca Selengkapnya......


Dalam mitologi umumnya ada aspek seperti ini (menurut buku hero with thousand faces karya joseph campbell plus tambah dari research gw):
-mitologi penciptaan
-trinitas (biasanya menggambarkan sosok ayah-ibu-anak)
-dewi kesuburan (berkaitan dengan diatas, contoh paling umum adalah Venus, tapi di berbagai mitologi, dewi perempuan emang seringnya menjadi dewi kesuburan)
-seorang karakter hero/mesias yang bertualang-mati-hidup kembali (biasanya ada juga pendampingnya). Di beberapa mitologi, sang hero biasanya lahir dari perempuan/dewi virgin, dan tidak umum, dipasangkan dengan ibunya sebagai kekasihnya (contoh: ishtar-tammuz, babilonia)
-banjir besar (kayanya jaman dulu ada banjir global, tapi ini terjadi di beberapa ribu tahun sebelum masehi)
-trickster god (biasanya adalah dewa yang ambivalen, kadang baik, kadang jahat. misalnya adalah ular dalam mitologi yahudi yang memberikan pengetahuan pada manusia, paralel dengan prometheus yang memberikan cahaya bagi manusia)
-cewe diculik (lihat andromeda yang ditolong perseus)


sejauh ini research gw pada mitologi jawa kuno/indonesia pada umumnya mengalami jalan buntu karena gw nyaris ga menemukan sama sekali literatur kisah penciptaan atau epos serupa di folk tales negara kita. yang ada gw malah nemuin cerita mistisme macam sundel bolong, kuntilanak, pocong, genderuwo, etc etc, walau sebenarnya hantu2 ini pun mungkin asih bisa kita cari relasinya dengan mitologi2 kuno dari daerah lain. Kuntilanak misalnya, secara kasar masi bisa kaitin sebagai manifestasi dari "queen of underworld", kalau di greek myth kita menemukan hades dan persephone, tapi jauh sebelum itu ada queen of underworld bernama Ereshkigal.

dewa dewi mitologi yang gw tahu dari jawa kuno cuma gw tahu dari tradisi mulut ke mulut, misalyna:
-Ibu Pertiwi = kayanya personifikasi ibu bumi/dewi pertanian, muncul di lagu2 pas SD (?). paralel dengan dewi macam cybele/gaia/rhea
-sang Hyang = supreme deity, percampuran Allah dengan dewa lokal-kah?
-Mata Hari = Hari kemungkinan besar versi lokal dari "Horus" dewa matahari mesir, yang dalam mitologi mesir, salah satu matanya adalah matahari
-Bulan = yang gw tahu, ini asalnya adalah dewi dari Filipina

Baca Selengkapnya......

Daftar makhluk-makhluk mitologi Indonesia


Adapun sebagai berikut ini :

1. Jenglot
Beberapa tahun lalu, sekitar akhir tahun 1997, tiba-tiba saja ada “makhluk” misterius yang jadi pembicaraan. Perawakannya kecil dengan tubuh tak lebih dari 12 cm dan rambutnya yang panjang, jarang dan kaku melewati kaki. Makhluk itu dinamakan jenglot. Kabarnya, jenglot itu bukan benda mati. Konon ia hidup, namun tak ada yang pernah tahu kapan bergerak.
Konon, makhluk misterius itu selalu menghabiskan darah manusia yang dicampur minyak japaron. Namun, sekali lagi, tak ada yang tahu kapan ia menenggaknya. Menurut Hendra, dalam menyantap sajiannya itu, jenglot tak menggunakan cara seperti yang dilakukan manusia pada umumnya. Yang jelas, dalam setiap 18 jam, sebanyak 3 cc darah dan minyak wangi yang disajikan akan berkurang sekitar 50 persen sampai 60 persen.
Jenglot pada masa ribuan tahun lalu adalah manusia (seorang pertapa) yang tengah mempelajari ilmu Bethara Karang. Ilmu Bethara Karang diyakini sebagai ilmu keabadian. Artinya, setiap orang yang memiliki ilmu tersebut akan hidup abadi di dunia. “Namun, akibat kutukan, jasad jenglot tidak diterima di dunia sedangkan rohnya tidak diterima di akherat. Maka roh tersebut seperti terpenjara dalam jasad kecil ini,” kata Hendra. Setelah itu, sang pertapa menjadi emosional dan merasa sebagai jawara. Tak pelak, tubuhnya pun menyusut, hingga akhirnya mengecil. Empat taring kemudian tumbuh memanjang, tak sebanding dengan lebar mulutnya. Katanya, itu sebagai lambang keganasan dan sifat liar sang “monster”.
2. Kuntilanak
Kuntilanak (bahasa Melayu: puntianak, pontianak) adalah hantu yang dipercaya berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia atau wanita yang meninggal karena melahirkan dan anak tersebut belum sempat lahir. Nama “kuntilanak” atau “pontianak” kemungkinan besar berasal dari gabungan kata “bunting” (hamil) dan “anak”.
sebenarnya disamping kuntilanak itu kepercayaan orang melayu dan thailand kita dapat menemuinya dlm cerita2 rakyat yg ada di negara lain di dunia. misalnya: banshee di daratan eropa (kalo di inggris ada yang namanya Jenny Greenteeth (lucu juga namanya)).
klo kita lihat ciri2nya, banshee dan kuntilanak sangat mirip:
1. tertawa melengking
2. menangis
3. suka puing2 bangunan ato yg setengah jadi
4. sering bertempat di muara sungai ato pinggiran danau ato kolam
5. menyukai daging anak2 (makanya sering dibilang mereka suka menculik bayi)
Dalam folklor Melayu, sosok kuntilanak digambarkan dalam bentuk wanita cantik yang punggungnya berlubang. Kuntilanak digambarkan senang meneror penduduk kampung untuk menuntut balas. Kuntilanak sewaktu muncul selalu diiringi harum bunga kamboja. Konon laki-laki yang tidak berhati-hati bisa dibunuh sesudah kuntilanak berubah wujud menjadi penghisap darah. Kuntilanak juga senang menyantap bayi dan melukai wanita hamil.
Dalam cerita seram dan film horor di televisi Malaysia, kuntilanak digambarkan membunuh mangsa dengan cara menghisap darah di bagian tengkuk, seperti vampir.
Agak berbeda dengan gambaran menurut tradisi Melayu, kuntilanak menurut tradisi Sunda tidak memiliki lubang di punggung dan hanya mengganggu dengan penampakan saja. Jenis yang memiliki lubang di punggung sebagaimana deskripsi di atas disebut sundel bolong. Kuntilanak konon juga menyukai pohon tertentu sebagai tempat “bersemayam”, misalnya waru yang tumbuh condong ke samping (populer disebut “waru doyong”).
Penangkal : Berdasarkan kepercayaan dan tradisi masyarakat Jawa, kuntilanak tidak akan mengganggu wanita hamil bila wanita tersebut selalu membawa paku, pisau, dan gunting bila bepergian ke mana saja. Hal ini menyebabkan seringnya ditemui kebiasaan meletakkan gunting, jarum dan pisau di dekat tempat tidur bayi.
Menurut kepercayaan masyarakat Melayu, benda tajam seperti paku bisa menangkal serangan kuntilanak. Ketika kuntilanak menyerang, paku ditancapkan di lubang yang ada di belakang leher kuntilanak. Sementara dalam kepercayaan masyarakat Indonesia lainnya, lokasi untuk menancapkan paku bisa bergeser ke bagian atas ubun-ubun kuntilanak.
3. Buta/buto
coba teman2 lihat ciri2nya dan bandingkan dgn Ogre, mereka bnyk memiliki kesamaan:
1. memiliki ukuran yg cukup tinggi (9-10 kaki)
2. warna hijau ato hijau keabu-abuan
3. pemakan daging
Buto Ijo (Jawa ) = Ogre ( Inggris, Celt )
Ciri2:
Bentuk: raksasa bertubuh hijau ( hijau tua )
Watak: beringas, memakan korban manusia.
Tinggal: Buto Ijo di Pohon besar, kalo jadi peliharaan
biasanya dibuatkan kamar khusus.
Ogre di hutan ato rawa-rawa.
Status: Buto Ijo adl bangsa jin yg bisa dipelihara utk
pesugihan, tapi ada juga yg bebas n liar.
Ogre adl jin liar.
4. Genderuwo
Genderuwo adalah makhluk halus yang menyerupai kera tapi berbadan tinggi dan besar, makhluk ini suka tinggal di pepohonan, sepeti pohon beringin dan pohon-pohon besar lainnya karena wujudnya yang seperti kera raksasa.
Genderuwo tidak dapat dilihat oleh orang biasa tapi pada saat tertentu dia mau menampakkan dirinya.
Genderowo Mirip dgn Troll (bnyk orang yg beranggapan troll itu kecil, tp dalam legendanya troll itu cukup besar) (kita kesampingkan dulu troll dlm LOTR dan Harry Potter)
1. tinggi (7-8 kaki)
2. memiliki rambut lebat hampir di seluruh tubuhnya (makanya sering digambarkan berambut gondrong bgt)
3. biasanya berdiam di tempat yg pohon ato semak2nya lebat ato berbatu (seperti bagian bwh jembatan tempo dulu)
5. Tuyul
Tuyul adalah makhluk yang sering ditampilkan dalam cerita fiksi Indonesia. Dalam berbagai film atau gambar tuyul digambarkan sebagai makhluk halus berwujud anak kecil yang kerdil, perawakannya gundul, dan suka mencuri. Tuyul juga kadang-kadang digambarkan bekerja pada seorang majikan manusia untuk alasan tertentu. Adapun tuyul digambarkan mempunyai sifat seperti anak-anak normal biasa dimana dia harus mencari induk semang sebagai ibu kandungnya.Dia digambarkan sebagai bayi yang mati baru beberapa bulan lalu dibangkitkan oleh dukun sebagai tuyul untuk tujuan-tujuan tertentu yang tidak baik.Tuyul adalah salah satu folklore dari pulau jawa disamping kuntilanak,genderuwo,banaspati,dsb.Tuyul mempunyai sifat yang sama dengan balita pada umumnya.Dalam berbagai macam film tuyul dijelaskan sebagai sebuah roh suruhan dari induknya guna mencari kekayaan dengan cara mencuri dari orang-orang kaya atau yang disuruh induk semangnya
Tuyulmirip dengan Imp, sebenarnya makhluk ini tdk berbahaya tp yg berbahaya itu manusia yg memanfaatkan mereka.
1. kecil (sekitar 1-2 kaki)
2. jahil tp penakut
6.Mothman Indonesia
“istilah org chinese Cui Kui a.k.a Hantu Air “
Ciri-ciri :
- Tinggi & Gede berbulu2
- badan agak membongkok
- Mata warna merah
Sekilas klo dilihat ktnya mirip ama Manusia Kera tp kakinya pendek.
Tinggalnya didalam air. Soalnya menurut org di Pontianak yg tinggal di pinggiran Sungai Kapuas mahluk ini sering banget kluar tengah malam. katanya mereka biasa klo kluar lbh dari 1 org. n org klo kita ketemu Mothman. harus cpt cepet kabur. karna klo dia dah tangkap kita raga / tubuh kita di pake mereka dan kita yg menjadi Mothman itu.
7.Kura- Kura Raksasa
- Gede banget (ukurannya 1/3 dari sungai kapuas
- Jarang muncul, klo muncul biasa cuman klihatan tempurungnya n ga smua org bisa lihat
Nah klo yg ini gw ga gitu ngerti deh. katanya kura2 ini muncul pas klo air pasang.
Munculnya juga tengah malam. kata tmnnya tmn gw yg suka mancing ikan ktnya org2 blg klo kita mancing ikan di pinggiran sungai Kapuas, klo umpanmu termakan ama kura2 itu, terasa beda ama kita dapet ikan. gw juga ga gitu ngerti seh. pokoknya panjingan kita lbh berat dari biasanya. kita ga boleh lawan ama pancingannya. talinya harus di potong.
8.setan Gundul Pringis
merupakan setan yang berupa kepala orang yang lagi ketawa meringis, kepala orang itu nyambung ke usus dan jantungnya menurut orang-orang hantu ini jenis hantu yang ganas.
Di kalangan masyarakat Jawa Tengah, terutama bagian selatan, nama hantu ini sudah lama dikenal. Wujudnya mirip buah kelapa. Kalau dipegang tiba-tiba menyeringai! Buah kelapa itu punya mata, hidung, mulut, dan telinga! Mirip kepala manusia! Kalau menggoda orang biasanya pada malam hari. Diawali dari bunyi jatuhnya buah kelapa, orang lalu tertarik untuk mencari di kebun yang gelap. Begitu ketemu dan diangkat… ya itu tadi~’buah’ tersebut tiba2 menyeringai! Seram sekali wujudnya. Orang yang menemukan jelas akan terbirit-birit. Begitu kisahnya.
(NB : Dalam bahasa Jawa, ‘gundul’ berarti ‘kepala’ & ‘pringis’ berarti ‘seringai’.)
9.Biyung Tulung (Jawa) = Poltergeist (Inggris-Amrik)
Ciri2:
Bentuk: tak berwujud, hanya suara, tapi diyakini ada
hub-nya dgn roh2 org yg mati penasaran.
Watak: suka menakut-nakuti, meneror, menyebabkan
org yg diganggu mjd gila, sakit jiwa.
Tinggal: di tempat2 yg pernah terjadi kematian tragis,
spt area kecelakaan, tempat2 pembunuhan.
Status: roh2 penasaran yg menjadi jahat krn masa
lalu yg sangat tragis.
10. Lelepah (Jawa) = Troll (daerah Celt, Skandinavia)
Ciri2:
Wujud: mahluk besar dgn wajah buruk, suka bawa
senjata sperti gada atau golok besar.
Watak: agak lamban & tolol, tp sebenarnya ganas,
jin karnivor yg doyan manusia.
Tinggal: di pohon2 besar, hutan.
Status: termasuk jin yg kebanyakan berada di hutan,
liar, suka berburu apa saja termasuk manusia.

Baca Selengkapnya......

Hewan Mitologi yang Masih Hidup di Indonesia

Indonesia adahal negara yang kaya raya termasuk dari hal fauna. Hewan mitologi atau hewan yang melegenda yang biasanya hanya kita dengar dari dongeng-dongeng ternyata ada di Indonesia setidaknya mirip dengan hewan mitologi yang dimaksud. Mau tahu hewan atau binatang apa saja itu?.. Berikut indonesiatop.blogspot.com akan memuat list hewan Indonesia yang mirip dengan hewan mitologi:

1. Burung Cendrawasih dengan Burung Phoenix
burung cendrawasih
Burung Cendrawasih yang bisa ditemukan di Papua, Indonesia ini sering dijuluki dengan bird of paradise atau phoenix bird. Burung ini memang memiliki bentuk dan warnanya yang unik sekilas mirip dengan hewan mitologi Phoenix. Tentu saja bulu-bulu Cendrawasih bukan dari api seperti Phoenix. Walaupun begitu Cendrawasih adalah burung yang sangat indah bentuknya. Burung ini dikenal karena bulu yang sangat memanjang dengan warna merah atau kuning yang indah.
* Phoenix dalam mitologi dari Mesir kuno adalah burung api keramat. Phoenix membakar dirinya sendiri oleh api dan dilahirkan kembali dari api. Biasanya digambarkan mempunyai bulu emas dan merah.
2. Komodo dengan Naga
komodo naga
Pada awal abad 19 di Eropa tersiar kabar tentang adanya naga raksasa yang hidup di kepulauan Indonesia. Para pelaut militer Belanda waktu itu pernah memberi laporan bahwa makhluk tersebut kemungkinan berukuran sampai tujuh meter panjangnya, dengan tubuh raksasa dan mulut yang senantiasa menyemburkan api. Kolonial Belanda kemudian mengirim satu regu tentara terlatih, dan mendarat di pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. Ternyata mereka menemukan Komodo. Komodo mirip naga-naga pada lukisan zaman abad pertengahan. Hal yang membedakan Komodo dari naga, ialah Komodo tidak menyemburkan lidah api.
*Dragon atau naga adalah hewan dengan ukuran yang besar. Mereka berbentuk reptil dan nafasnya dapat menyemburkan api.
3. Tarsier dengan Gremlin
tarsier
Di pulau Sulawesi, ditemukan suatu tarsier kerdil yang masih hidup, salah satu primata yang paling langka dan paling kecil di dunia. Binatang ini memiliki mata dan telinga besar yang mirip dengan binatang Gremlin. Pygmy tarsier berukuran kecil dengan bobot hanya 50 gram. Hewan ini hidup di atas pohon dan banyak melakukan aktivitasnya di malam hari.
* Gremlin adalah tokoh monster bertubuh kecil dan berwarna hijau. Gremlin sangat mengganggu dan mengkonsumsi energi listrik. Menurut dongeng orang-orang Inggris, Gremlin suka merusak mesin pesawat.
4. Dugong dengan Duyung
dugong duyung
Pernah dengar cerita pelaut yang pernah melihat duyung?.. Kemungkinan duyung itu adalah mamalia air yang dikenal sebagai dugong. Mamalia ini bisa ditemukan di perairan dangkal perairan Indonesia terutama kawasan timur. Dugong ini memang tidak memiliki badan manusia. Dugong adalah mamalia laut pemakan tumbuhan.
* Puteri duyung adalah makhluk air yang memiliki kepala dan tubuh layaknya seorang perempuan dan ekor menyerupai ikan.
5. Badak bercula satu dengan Unicorn
Marcopolo pada abad 13 dalam tulisannya pernah melihat Unicorn berwarna hitam di kepulauan Indonesia. Ternyata yang ditemukan Marco Polo itu bukannya unicorn, melainkan badak. Di Ujung Kulon terdapat Badak bercula satu seperti halnya Unicorn yang memiliki satu tanduk di kepalanya. Badak Jawa merupakan binatang terbesar di Jawa. Beratnya bisa mencapai 1,5 ton.
* Unicorn merupakan kuda dengan tanduk yang panjang di kepalanya.
6. Bekantan dengan Tengu
  

Orang-orang Jepang yang melihat Bekantan menyebutkan bahwa hewan ini mirip dengan tengu, makhluk mitologi yang dikenal di Jepang. Kera Bekantan merupakan kera yang memiliki hidung yang panjang berbeda dengan kera pada umumnya. Karena Hidung panjangnya ini, orang Jepang menyebutnya sebagai monyet Tengu. Bedanya Bekantan tidak memiliki sayap seperti Tengu. Bekantan bisa ditemukan di Pulau Kalimantan.
*Tengu adalah makhluk mitologi Jepang. Tengu memiliki wajah merah dan hidung yang luar biasa panjang. Tengu juga memiliki sepasang sayap, serta kuku kaki dan tangan yang sangat panjang.

Hewan-hewan Indonesia yang disebutkan tadi memang bukanlah hewan mitologi, mereka benar-benar ada tetapi hewan-hewan tersebut kini terancam kepunahan. Kalau mereka punah, mereka akan benar-benar menjadi hewan mitologi yang hanya akan jadi dongengan untuk anak cucu kita di masa depan. Kita bangsa Indonesia wajib menjaganya dari kepunahan.

Baca Selengkapnya......

Mitologi Korupsi

SUDAH bukan rahasia lagi, Indonesia selalu menjadi "pelanggan setia" sebagai 
salah satu negara terkorup di dunia. Tahun lalu, Transparency International 
Indonesia (TII) merilis hasil penelitiannya yang menempatkan Indonesia di 
peringkat ke-5 negara terkorup di dunia, "naik" satu strip dari peringkat 
ke-6 pada tahun sebelumnya.

Kita mungkin sama sekali tidak terkejut membaca laporan itu, sama tidak 
terkejutnya ketika mendengar kegagalan program "terapi kejut" 100 hari 
pertama pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla dalam 
pemberantasan korupsi.

Rilis semacam itu pada dasarnya tidak mengandung hal-hal baru; siapa pun dan 
apa pun lembaganya niscaya akan menghasilkan peringkat atau indeks korupsi 
yang kurang lebih sama. Lihat saja apa yang telah dilakukan lembaga-lembaga 
sejenis lainnya, seperti Political and Economic Risk Consultancy (PERC), 
International Country Risk Guide Index (ICRGI), maupun lembaga domestik, 
seperti Indonesian Corruption Watch (ICW). Paling banter semua lembaga itu 
akan menegaskan kesimpulan yang sama: Indonesia adalah (salah satu) negara 
terkorup di jagat raya ini.

Melihat kenyataan itu, tampaknya tidak berlebihan jika kita menganggap upaya 
pemberantasan korupsi di negeri ini hanya merupakan mitos ketimbang 
realitas. Dengan perangkat hukum dan lembaga antikorupsi yang kian bertambah 
banyak, seharusnya upaya pemberantasan korupsi semakin menemukan titik 
terang. Kenyataannya, wabah korupsi kian menggila. Jika dulu korupsi hanya 
dilakukan elite politik, kini hampir setiap orang Indonesia pernah melakukan 
korupsi dalam berbagai bentuk dan derivasinya. Terlalu sulit bagi warga 
negara Indonesia untuk menghindar dari korupsi. Mengapa korupsi di negeri 
ini sangat sulit diberantas?

"Tacit knowledge"
Salah satu faktor mengapa korupsi sulit diberantas adalah karena ia sudah 
berkembang menjadi apa yang oleh Edward Shils (1981:32) disebut "pengetahuan 
diam-diam" (tacit knowledge) yang mengerangkai dan menggerakkan hampir 
seluruh kesadaran kolektif bangsa ini. Disebut pengetahuan diam-diam karena 
orang enggan menyebut-nyebut keberadaan korupsi, tetapi ia menerimanya 
sebagai sesuatu yang lumrah. Ada ambiguitas di sini. Di satu sisi orang 
menyadari, korupsi itu salah, tetapi di sisi lain ia tidak bisa hidup 
tanpanya. Bahkan, orang yang tidak mempraktikkannya dianggap tidak lumrah. 
Korupsi adalah "kebenaran dalam kesalahan."

Karena itu, proses pembentukan sistem pengetahuan semacam itu tidak berjalan 
melalui mekanisme ilmiah biasa, tetapi berjalan secara "tidak lumrah" 
melalui bantuan mitologisasi. Korupsi memang tidak terlahir dari mitos, 
legenda sejarah, atau cerita rakyat, namun ia menjadi besar justru karena 
peran mitos itu sendiri. Sebagai sebuah sistem pengetahuan, proses 
terbentuknya kesadaran korupsi berjalan melalui mekanisme reproduksi budaya 
yang berlangsung lama dan bertahap, yang pada satu titik tertentu membuncah 
menyentuh kesadaran eksistensial kedirian bangsa. Seolah berlaku asumsi, 
tidak ada cara lain menjadi warga negara RI selain melalui korupsi (to be an 
Indonesian means to corrupt)!

Keberadaan korupsi bukan lagi sekadar bumbu, tetapi menjelma sebagai "pilar" 
penting kehidupan bangsa. Jika di negara yang berindeks korupsi rendah, 
tindak korupsi dianggap penyimpangan, korupsi di negeri ini sudah telanjur 
dianggap peraturan (rule) itu sendiri. Ironis sekaligus menyedihkan! Ibarat 
ilmu bela diri, korupsi merupakan prasyarat menuju tingkat kesaktian 
tertentu. Semakin sakti ilmu bela dirinya, tingkat korupsinya harus kian 
canggih.

Mitos
Korupsi di negeri ini telah dihidupkan dan dibesarkan oleh sekurangnya empat 
mitos yang keberadaannya secara diam-diam diimani dan diamini sebagai sebuah 
"kebenaran."

Pertama, barang siapa yang hidup jujur pasti hancur. Sebuah ungkapan yang 
barang tentu membuat ngeri setiap orang yang mendengarnya. Jika disuruh 
memilih, hampir pasti tidak ada orang yang mau hancur hidupnya. Namun, 
risikonya harus dibayar dengan cara melacurkan kejujurannya. Ingin jujur 
tetapi tidak hancur? Keluar saja dari bumi Indonesia! Kira-kira demikian 
jalan berpikir kebanyakan orang. Bagaimana bisa jujur jika ingin jadi calon 
anggota legislatif harus setor ratusan juta rupiah, ingin memenangi perkara 
di pengadilan harus punya banyak duit, mau jadi anggota pegawai negeri harus 
menyuap?

Di negeri para maling kejujuran sudah menjadi barang aneh sekaligus langka. 
Orang yang hidup jujur tak ubahnya seperti menggenggam bara api. Hanya ada 
dua kemungkinan; terbakar atau selamat tetapi membuangnya. Orang yang 
bertahan dengan kejujuran akan tergilas oleh sistem yang korup. Mampu 
bertahan hidup dengan kejujuran sudah merupakan prestasi luar biasa. Tetapi 
jangan berharap orang semacam ini bisa mengubah sistem korup. Alih-alih bisa 
mengubah sistem, tidak hanyut oleh sistem yang korup saja sudah hebat.

Kedua, korupsi adalah seni. Ungkapan ini persis seperti pernah dilontarkan 
Bung Hatta, "Korupsi sudah menjadi seni dan bagian budaya bangsa." Ketika 
korupsi dianggap seni, maka nilai kejujuran dianggap sebagai tidak nyeni, 
tidak indah, monoton, alias membosankan. Seni dalam korupsi mensyaratkan 
talenta khusus. Skill "bermain cantik" ini diperlukan terutama untuk 
keperluan lobi-melobi atau pendekatan terhadap otoritas hukum, terlebih lagi 
seni dalam menjaga kerahasiaan. Karena itu, jangan heran jika korupsi di 
Indonesia sering dilakukan secara bersama, melibatkan sindikasi rahasia dan 
tertutup. Sebab, jika salah satu dari anggota sindikat merasa tidak puas 
dengan pembagian hasil korupsi, dia bisa menerapkan strategi zero sum game 
atau tijitibeh (mati siji mati kabeh/mati satu mati semua). Jika ini 
terjadi, semua anggota sindikasi bisa terjaring hukum, seperti terjadi di 
Kabupaten Solok, Sumatera Barat, beberapa waktu lalu.

Ketiga, korupsi adalah simbol kecerdasan. Kecerdasan seorang kepala dinas 
dalam kantor pemerintahan, misalnya, sering diukur dengan (1) sejauh mana 
dia mampu menggunakan kecerdasannya untuk membocorkan uang negara 
sebanyak-banyaknya; (2) mampu menghabiskan sisa anggaran sebelum tutup 
tahun; (3) menyusun anggaran fiktif atau mark-up proyek tertentu, dan; (4) 
menggunakan link kekuasaannya untuk kelancaran korupsinya. Prinsipnya, 
tindak korupsi membutuhkan kecerdasan tinggi karena harus mampu membaca 
celah-celah hukum. Kenyataannya, hampir semua koruptor kelas kakap adalah 
orang-orang cerdas yang tidak tersentuh (untouchable) jeratan hukum. 
Sebaliknya, orang yang tidak bisa menghabiskan anggaran sisa, mark-up 
proyek, membuat anggaran fiktif akan dianggap bodoh.

Keempat, mitos aji mumpung. Mitos ini umumnya berlaku bagi siapa pun yang 
sedang menggenggam kekuasaan, terutama pejabat. Mitos ini didorong oleh 
kekhawatiran berlebihan akan hilangnya kekuasaan yang digenggamnya. Karena 
itu, jabatan adalah kesempatan yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk 
memperkaya diri, sebab tak selamanya bisa jadi pejabat. Ibarat pepatah Jawa, 
sekarang adalah zaman edan (gila), jika tidak ikut-ikutan edan tidak keduman 
(kebagian).

Demitologisasi
Upaya pemberantasan korupsi secara tuntas meniscayakan tindakan menyeluruh 
dari hulu sampai hilir. Di tingkat hilir, menangkap para koruptor tanpa 
pandang bulu dan penegakan hukum (law enforcement) secara progresif 
merupakan langkah penting pemberantasan korupsi. Tetapi langkah ini pun 
tidak akan mengikis habis budaya korupsi tanpa dilakukan langkah yang sama 
di tingkat hulu.

Di tingkat ini kita perlu melakukan demitologisasi korupsi, yakni mengganti 
tacit knowledge masyarakat yang sudah berurat berakar melalui pembuktian 
terbalik terhadap keempat mitos di atas. Artinya, harus dibangun mitos baru 
di atas "reruntuhan" keempat mitos itu dengan cara mengunggulkan nilai-nilai 
kejujuran, menanamkan budaya hidup bersih dan transparan, mengidentifikasi 
korupsi sebagai sesuatu yang jorok, dekil, tidak indah, dikutuk agama.

Sebagai sebuah langkah kebudayaan, demitologisasi korupsi tidak bisa 
berlangsung dalam sekejap. Langkah ini hanya bisa dilakukan melalui 
penyadaran berjenjang dan berkelanjutan terhadap setiap anak bangsa sedini 
mungkin, mulai dari tingkat anak-anak hingga dewasa, melalui jalur 
pendidikan formal maupun nonformal.

Melalui demitologisasi pula, kita layak berefleksi: sampai kapan bangsa ini 
dihidupi oleh mitos tentang kesaktian dan keampuhan korupsi? Sampai kita 
menjadi bangsa kleptokrasi?

Baca Selengkapnya......

Dari Mitos ke Logos
(Peranan Filsafat dalam merubah Pola Pikir)


Sekilas tentang mitos
Mitos atau mite(myth) adalah cerita prosa rakyat yang tokohnya para dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi di dunia lain pada masa lampau dan dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Mitos pada umumnya menceritakan tentang terjadinya alam semesta, dunia, bentuk khas binatang, bentuk topografi, petualangan para dewa, kisah percintaan mereka dan sebagainya.
Istilah Mitologi telah dipakai sejak abad 15, dan berati “ilmu yang menjelaskan tentang mitos”. Di masa sekarang, Mitologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah ilmu tentang bentuk sastraDewa dan makhluk halus di suatu kebudayaan. Menurut pakarnya, Mitos tidak boleh disamakan dengan fabel, legenda1, cerita rakyat, dongeng2, anekdot atau kisah fiksi. Mitos dan agama juga berbeda, namun meliputi beberapa aspek. yang mengandung konsepsi dan dongeng suci mengenai kehidupan
Selanjutnya muncul pertanyaan, bagaimanakah filsafat itu tercipta? Hal apa yang menyebabkan manusia berfilsafat? Pada dasarnya ada empat hal yang merangsang manusia untuk berfilsafat, yaitu ketakjuban, ketidakpuasan, hasrat bertanya, dan keraguan.
Sebelum lahirnya filsafat, kehidupan manusia dikuasai dan diatur oleh berbagai macam mitos dan mistis. Berbagai macam mitos dan mistis tersebut berupaya menjelaskan tentang asal mula dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam alam semesta, yang terjadi dalam kehidupan manusia sehari-hari. Sayangnya, ternyata penjelasan-penjelasan yang berasal dari mitos dan mistis tersebut makin lama makin tidak memuaskan manusia. Ketidakpuasan itu pada nantinya mendorong manusia untuk terus menerus mencari penjelasan dan keterangan yang lebih meyakinkan bagi dirinya, dan yang lebih akurat.
Ketakjuban manusia telah melahirkan pertanyaan-pertanyaan, dan ketidakpuasan manusia membuat pertanyaan-pertanyaan itu tidak kunjung habisnya. Dengan bekal hasrat bertanya maka kehidupan manusia serta pengetahuan semakin berkembang dan maju. Hasrat bertanyalah yang mendorong manusia untuk melakukan pengamatan, penelitian, serta penyelidikan. Ketiga hal tersebut yang menghasilkan pelbagai penemuan baru yang semakin memperkaya manusia dengan pengetahuan baru yang terus bertambah.
Manusia sendiri ketika mempertanyakan segala sesuatu dengan maksud untuk memperoleh kejelasan dan keterangan mengenai hal yang dipertanyakan tersebut, itu berarti dia sedang mengalami keraguan. Keraguan ini dilandasi bahwa sesuatu yang dipertanyakan tersebut belum terang dan belum jelas. Karena itu manusia perlu dan harus bertanya. Manusia bertanya karena masih meragukan kejelasan dan kebenaran dari apa yang telah diketahuinya.
Filsafat sebaga Cara Berpikir
Berpikir secara fisafat dapat diartikan sebagai berpikir yang sangat mendalam sampai pada hakikat, atau berpikir secara global (menyeluruh), atau berpikir yang dilihat dari berbagai sudut pandang pemikiran atau sudut pandang ilmu pengetahuan. Berpikir yang demikian ini sebagai upaya untuk dapat berpikir secara tepat dan benar serta dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini harus memenuhi persyaratan:
  • Pemikiran kefilsafatan harus bersifat sistematis, dalam arti bahwa cara berpikirnya bersifat logis dan rasional tentang hakikat permasalahan yang dihadapi. Hasil pemikirannya tersusun secara sistematis, artinya satu bagian dengan bagian lainnya saling berhubungan secara bulat terpadu.
  • Tinjauan terhadap permasalahan yang dipikirkan bersifat radikal, artinya menyangkut persoalan-persoalan mendasar sampai ke akar-akarnya.
  • Ruang lingkup pemikirannya bersifat universal, artinya persoalan-persoalan yang dipikirkan mencangkup hal-hal yang menyeluruh dan mengandung generalisasi bagi semua jenis dan tingkat kenyataan yang ada di alam ini, termasuk kehidupan umat manusia, baik di masa sekarang maupun di masa mendatang.
  • Meskipun pemikiran yang dilakukan lebih bersifat spekulatif, artinya pemikiran yang tidak didasari pembuktian-pembuktian empiris atau eksperimental (seperti dalam ilmu alam), tetapi mengandung nilai-nilai objektif, oleh karena permasalahannya adalah suatu realitas (kenyataan) yang ada pada objek yang dipikirkannya
Berpikir secara radikal, mencari asas, memburu kebenaran, dan mencari kejelasan tidak mungkin dapat berhasil dengan baik tanpa berpikir secara rasional. Berpikir secara rasional artinya berpikir secara logis, sistematis, dan kritis. Berpikir logis adalah bukan sekedar menggapai pengertian-pengertian yang dapat diterima oleh akal sehat, akan tetapi juga agar sanggup menarik kesimpulan dan mengambil keputusan yang tepat dan benar dari premis-premis yang digunakan.
Berpikir logis juga menuntut pemikiran yang sistematis. Pemikiran yang sistematis adalah rangkaian pemikiran yang berhubungan satu sama lain atau saling berkaitan secara logis. Tanpa disertai pemikiran yang logis-sistematis dan koheren, tidak mungkin dicapai kebenaran yang bisa dipertanggungjawabkan.
Berpikir kritis artinya menjaga kemauan untuk terus-menerus mengevaluasi argumentasi yang mengklaim dirinya adalah benar. Seseorang yang berpikiran kritis tidak akan mudah meyakini suatu kebenaran begitu saja tanpa benar-benar menguji keabsahan kebenaran tersebut.
Franz Magnis-suseno (1992:20) mengatakan,
Filsafat adalah seni kritik. Bukan seakan-akan ia membatasi diri pada destruksi, atau sekan-akan takut untuk membawa pandangan positifnya sendiri. Melainkan kritis dalam arti bahwa filsafat tidak pernah puas diri, tidak pernah memotong perbincangan, selalu bersedia, bahkan senang untuk membuka kembali perdebatan, selalu dan secara hakiki bersifat dialektis dalam arti bahwa setiap kebenaran menjadi lebih benar dengan setiap putaran tesis – antitesis dan antitesisnya antitesis. Tulisannya pula,” Filsafat secara hakiki memerlukan dan menyenangi debat (dan disini letak perbedaannya dengan ajaran kebijaksanaan seoran ”guru”: filsafat adalah usaha ratio manusia dan karena itu sikap-sikap semi-religiusitas tidak pada tempatnya di dalamnya, dan dalam merentangkan diri pada masalah-masalah yang paling dasarpun filsafat masih senang bertengkar, bercorak nakal, duniawi dan sering sinis).
Franz (1992:21) juga menerangkan bahwa filsafat sebagai kritik ideologi. Sifat kritis filsafat itulah yang menjadikannya sebagai sarana kritik bagi ideologi. Ia mengatakan,” Ciri khas sebuah ideologi ialah bahwa selalu dimuat tuntutan-tuntutan mutlak yang tidak boleh dipersoalkan. Yang menjadi kain merah ideologi yang menantang filsafat ialah kemutlakan yang melekat pada tuntutannya. Ideologi menuntut suatu yang tidak boleh dipertanyakan. Padahal, filsafat secara hakiki menuntut pertanggungjawaban. Maka terhadap segala bentuk ideologi filsafat merupakan ilmu yan tidak sopan, yang tidak mau menunjukkan hormat”. Di tambahkan dalam catatan kakinya bahwa ideologi tidak serta merta disamakan dengan agama dan kepercayaan.

Logika sebagai cabang filsafat

Baca Selengkapnya......

Sabtu, Desember 19, 2009

Agama sebagai bagian dari solusi di Timur Tengah
oleh Ben Mollov





Yerusalem - Melibatkan agama pada konflik Arab-Israel tidaklah bisa dihindari. Agama sudah menjadi bagian dari konflik tersebut sejak permulaannya. Akan tetapi, dalam wacana publik, akar-akar yang berkaitan dengan agama dan budaya dari konflik tersebut cenderung diabaikan.

Konflik Arab-Israel mengekspresikan upaya dari kedua bangsa, Yahudi dan Arab, untuk mewujudkan kembali “era heroik” zaman dulu yang telah menjadi inti narasi kedua bangsa. Dua narasi ini telah dicelupkan dalam konteks agama dan budaya, dan karenanya mestilah tak dipisahkan dalam berbagai proses resolusi konflik.

Gerakan Zionis mengajukan solusi yang dibutuhkan orang-orang Yahudi untuk memperbarui diri mereka sesuai model peradaban Yahudi pada zaman turunnya Bibel di tanah moyang mereka. Walaupun banyak Zionis awal yang menolak praktik tradisional Yahudi yang mereka sebut dengan kepasifan, mereka larut dalam semangat Bibel, yang menjadi dasar kerinduan mereka terhadap Tanah Israel, dan mereka juga termotivasi oleh ide tentang bangkitnya bahasa Ibrani. Diciptakanlah etos budaya yang sepenuhnya baru bagi bangsa Yahudi yang baru dan bermartabat, yang bisa bercocok tanam di tanah tersebut dan, bila perlu, mempertahankannya sebagaimana pada masa Bibel, sembari membangun masyarakat maju yang berlandaskan warisan ajaran nabi-nabi Yahudi.

Pada saat yang sama, gerakan kebangkitan Arab, yang juga terjadi pada abad ke-19, berupaya mengingatkan kembali orang-orang Arab akan kenangan kejayaan Dinasti Islam Arab masa silam, demi menyisihkan persepsi yang meluas tentang kemerosotan identitas Arab dan ketaklukannya pada kekuatan-kekuatan luar. Rasa bangga yang meningkat terhadap bahasa dan karya-karya Arab, serta identifikasi diri dengan Masa Keemasan Arab—yang dikaitkan dengan kemunculan Islam—merupakan dorongan utamanya. Gerakan nasionalis Arab, yang merupakan ekpresi politik dari proses lanjut kebangkitan tersebut, memadukan tema-tema agama dan nasionalisme, di mana identitas dulunya dibentuk oleh warisan Islam, khususnya karena gerakan ini menyadari kelahiran gerakan Zionis.

Dua gerakan ini mulai bertabrakan di abad ke-20 saat visi dan narasi mereka yang berseberangan tentang tanah yang sama, diperparah oleh dinamika politik dan kependudukan yang kuat.

Di 2009, konflik narasi yang sama—yang saya yakini termotivasi oleh identitas agama—masih berada di dasar konflik Israel-Palestina. Diskursus yang sepenuhnya sekular tidak mampu menyentuh akar-akar yang lebih dalam dari konflik ini. Agar setiap proses resolusi konflik bisa bermakna, proses tersebut perlu menyentuh dan mendamaikan kedua narasi yang berlawanan ini.

Bahkan, kini ada kebutuhan mendesak untuk mengadopsi pendekatan ini lantaran komunitas Yahudi Israel telah semakin besar dan percaya diri, sementara komitmen umat Islam di seluruh dunia Arab telah semakin menguat di tahun-tahun belakangan ini.

Saya memulai kerja saya sendiri untuk dialog Israel-Palestina pada 1990-an dengan melibatkan para mahasiswa saya di Bar-Ilan, sebuah universitas Yahudi, untuk berdiskusi dengan para mahasiswa Palestina dari Universitas Hebron, sebuah lembaga pendidikan Islam. Selama lebih dari lima tahun para mahasiswa ini bertemu secara rutin dan secara mengagumkan mendapati agama sebagai dasar persamaan nilai.

Mereka menemukan struktur dan praktik yang mirip antara Islam dan Yahudi. Dengan menemukan banyak kesamaan dalam praktik sembahyang, berkabung, bahkan bioetika, misalnya, membantu mereka saling “memanusiakan”. Para mahasiswa ini kemudian mempunyai kesempatan untuk mendiskusikan isu-isu politik yang memecah belah dalam suasana yang lebih tenang.

Penemuan kesamaan-kesamaan itu, sungguh pun bermanfaat, hanyalah langkah awal dari sebuah proses yang lebih jauh. Langkah kedua, yang dimudahkan oleh langkah pertama, adalah mengidentifikasi faktor-faktor agama dan budaya yang melandasi keterikatan masing-masing terhadap tanah yang sama. Realisasi ini bisa mengarah pada eskalasi konflik, tetapi juga dapat membuka pintu menuju kesadaran kedua belah pihak untuk bisa menerima keberadaan yang lain.

Hal ini dapat terjadi sekalipun faktanya salah satu pihak tidaklah ada dalam “periode heroik” masa silam. Peradaban Yahudi di Tanah Israel di zaman Bibel ada sebelum kemunculan Islam, sementara semasa kekhalifahan Islam, orang Yahudi tidak lagi menjadi sebuah kekuatan politik yang aktif dan mandiri di kawasan ini.

Ada lagi langkah ketiga dalam proses ini, yang mencakup harapan-harapan transenden dalam agama-agama, seperti perjuangan akan martabat manusia, kebajikan dan perdamaian. Suatu diskusi di wilayah ini dapat mendorong orang Israel maupun Palestina untuk tidak melepaskan narasi dan aspirasi masing-masing, namun justru untuk melihat pembangunan Tanah Suci sebagai tema yang dijiwai bersama yang bisa dicapai dengan kerja sama.

Jadi strategi berbasis keagamaan bermain pada semua tingkat. Ini dapat mendorong orang Israel maupun Palestina untuk mengidentfikasi kesamaan budaya yang, pada gilirannya, dapat memperbaiki persepsi bersama. Kesamaan-kesamaan ini akan membuka jalan menuju penjelajahan yang lebih jauh terhadap keterikatan mereka terhadap tanah yang sama tersebut.

Akhirnya, nilai-nilai transenden agama dapat memotivasi sebuah visi untuk sebuah kehidupan yang patut di Tanah Suci, dan bisa mendukung suatu proses politik. Pendekatan semacam ini dapat menjangkau hal-hal yang tak dapat dijangkau oleh pendekatan manajemen konflik yang murni sekular. Oleh sebab itu, pendekatan ini harus diindahkan oleh para pembuat kebijakan yang terlibat dalam proses perdamaian.

###

* Dr. Ben Mollow mengajar ilmu politik dan manajemen konflik di Universitas Bar-Ilan, Israel, tempat ia menjalankan Proyek Kajian Agama, Budaya dan Perdamaian. Artikel ini ditulis untuk Common Ground News Service (CGNews).

Artikel ini diringkas dan didistribusikan oleh Common Ground News Service
(CGNews) setelah mendapatkan izin.



Memahami Gerakan Islam Transnasional: Sebuah Pengantar

Memahami Gerakan Islam Transnasional: Sebuah Pengantar*

Oleh Alamsyah M. Dja’far**


Setahu saya, di Indonesia istilah ideologi transnasional ini dipopulerkan pertama kali oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Muzadi, sejak pertengahan 2007 silam. Istilah itu merujuk pada ideologi keagamaan lintas negara yang sengaja dimpor dari luar dan dikembangkan di Indonesia. Menariknya, ideologi ini menurut Hasyim Muzadi bukan hanya datang dari Timur Tengah, tapi juga dari Barat. Kelompok seperti Majlis Mujahidin, Ikhawanul Muslimin, Jaulah , Al-Qaeda disebut sebagai kelompok yang dikategorikan ideologi transnasional dari Timur (NU Online, 15/05/2007). Sedangkan Jaringan Islam Liberal, seperti sering dilontarkan Hasyim Muzadi, kelompok yang mengembangkan ideologi transnasional dari Barat.
Sebagai sebuah labeling, istilah ini –jika hanya sekadar dipahami karena sifatnya yang lintas negara, dan karena itu bukan “murni” Islam Indonesia— menurut saya masih memunculkan pertanyaan baru. Benarkah ada Islam “murni Indonesia” itu? Tidakah Islam ala NU atau Muhammadiyah misalnya, juga muncul karena persentuhannya dengan dunia luar, terutama dari Timur Tengah? Bukankah tradisi keilmuan yang dikembangkan di lingkungan NU dan Muhammadiyah sebagiannya juga diimpor dari Timur Tengah? Pertanyaan yang lebih mendasar lagi adalah bukankah sifat agama itu sendiri sebetulnya transnasional dalam pengertian lintas wilayah? Jadi labeling ini memang masih memerlukan kategori-kategori khusus untuk memperkuat atau membatasi definisi yang lebih tegas, apa makhluk ideologi transnasional ini.
Dalam tradisi kesarjanaan dan pers Barat sebelumnya, labeling yang agak senada dengan makna ideologi transnasional ini memakai istilah fundamentalisme yang setidaknya digunakan dalam tiga pengertian (John L. Esposito, 1994; 17-18). Pertama, semua usaha untuk kembali pada kepercayaan dasar. Dalam konteks masyarakat Islam adalah usaha kembali kepada al-Quran dan Hadis sebagai model hidup normatif. Kedua, pengertian yang sangat dipengaruhi oleh tradisi Protestanisme Amerika. Fundamentalisme adalah gerakan Protestanisme abad 20 yang menekankan penafsiran Injil secara literal sebagai hal yang fundamental bagi kehidupan  dan ajaran Kristen. Bagi kebanyakan orang Kristen, cap ini bernada penghinaan yang berarti dekat dengan  sesuatu yang statis, kemunduran dan kejumudan. Ketiga, istilah untuk untuk menyebut sesuatu yang terkait dengan aktivitas politik, ekstrimisme, fanatisme, terorisme, dan anti-Amerikanisme.
Karena dianggap terlalu terbebani dengan praduga Kristen dan stereotif Barat, John L. Eposito gerakan ini dengan “Kebangkitan Islam” atau “aktivisme Islam” yang dinggap lebih sesuai dengan nilai-nilai dalam tradisi Islam seperti konsep tajdid (pembaruan) dan islah (perbaikan). (John L. Eposito, 1994; 18).
Dengan alasan yang hampir mirip pula, sebagian akademisi menyebut gerakan ini dengan “islamisme”. Itu merujuk pada pandangan yang berusaha melihat Islam sebagai ideologi yang tidak hanya harus diterapkan dalam wilayah politik, tapi juga pada segala dimensi kehidupan masyarakat modern (Oliver Roy, 2004; h. 58). Dalam pandangan kelompok ini, Islam harus menentukan segala bidang kehidupan dalam masyarakat tersebut, dari cara pemerintahan, pendidikan, sistem hukum, hingga kebudayaan dan ekonomi. Dari cara pandang ini karena itu kelompok ini melihat pentingnya kehadiran negara atau sistem Islam. Sementara sebagian besar muslim justru melihat, menjadi muslim tanpa harus menjadi islamis adalah sesuatu yang mungkin.
Jika pengertian transnasional ini secara substansial tak beda dengan pengertian islamisme ini, maka fenomena gerakan ini sebetulnya bisa ditarik ke belakang pada akar sejarah kebangkitan dan pebaharuan Islam yang berkembang di Timur Tengah sejak abad ke-18: gerakan Muhammad bin Abdul wahab (1703-1787) di Arabia tengah; gerakan pada abad ke-19 dan ke-20 yang dipimpin oleh tiga pemikir: Jamaludin al-Afghani (1839-1897), Muhammad Abduh (1849-1905), dan Rasyid Ridha (1865-1935). (Greg Fealy dan Anthony Bubalo, 2007; 30).
Gerakan yang dikembangkan Abdul Wahab untuk kembali pada as-salaf ash-shalih, tiga generasi pertama sahabat Nabi Muhammad yang kemudian dikenal dengan gerakan Wahabi ini membayang-bayangi lahirnya Ikhwanul Muslimin oleh Hassan Al-Banna di Mesir pada 1928. Pendiri gerakan itu berpandangan, ancaman Barat yang tidak hanya berbentuk fisik tapi juga intelektual dan spiritual harus dilawan dengan kembali pada dasar-dasar Islam, dan perlunya al-nizham al-islami, negara atau sistem Islam.
Setelah kematian Al-Banna akhir 50-an gagasan ideologi selanjutnya dikobarkan oleh sang ideolog handalnya Sayyid Qutb. Tokoh ini sendiri dieksekusi pemerintah Mesir pada 1966. sebelumnya, setelah kebijakan represi dilakukan pemerintah Mesir, sebagian aktivis Ikhawanul Muslimin mengungsi ke Arab Saudi. Salah satunya adalah Said Ramadhan yang kemudian menjadi salah seorang pendiri Rabithah al-Alam Islami. Menantu al-Banna ini kemudian pindah ke Jenewa untuk mengembangkan ideologi Ikhwan di kawasan Eropa. Muhammad Qutb, adik kandung Sayyid Qutb juga ikut pindah ke Arab Saudi yang kemudian menjadi dosen di King Abdul Aziz University Jeddah dan mengajar Osama bin Laden, salah seorang mahasiswanya. (Abdurrahman Wahid [ed]; 2009; 82).
Pada era 50-an pula Taqiudin Al-Nabhani (1909-1997) mendirikan Hizbuttahrir di Yerussalem timur yang waktu itu dikuasai Yordania. Gerakan Ikhawanul waktu itu ditudingnya terlalu moderat. Konflik Israel-Palestina dipandang Taqiudin mencerminkan konflik yang lebih luas antara dunia Islam dan non-Islam. Untuk memenangkan pertarungan itu, ia menilai perluanya khilafah Islamiyah internasional, yang diawali dari teritori kawasan Arab dan kemudian membentang ke wilayah non-Arab.

Konteks Perkembangan Transnasional di Indonesia
Pengaruh Timur Tengah atas Indonesia sesungguhnya sudah dimulai sejak abad ke-17. Kelahiran ormas seperti Muhammadiyah, dan kemudian direspon dengan kelahiran Nahdlatul Ulama juga tak bisa dilepaskan dari pengaruh Timur  Tengah ini. Kedua tokoh pendiri ormas ini, KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asyari, sama-sama mendalami ilmu agama di Timur Tengah. Selama beberapa abad sejarah mencatat banyak orang Indonesia pergi ke Timur Tengah baik sebagai haji, pedagang, pelajar, dan ulama.
Dalam konteks yang paling mutakhir, kalangan pelajar atau mahasiswa yang belajar di Timur Tengah agaknya merupakan saluran paling penting pendistribusian ide-ide Islamis ini. Di tengah situasi sosial politik yang represif yang dikembangkan Orde Baru kala itu rupanya membuat ide ini bisa berkembang dan diminati sebagian kalangan generasi muda muslim perkotaan.
Hal yang saya kira menarik dicatat dari studi Greg Fealy dan Anthony Bubalo mengenai pengaruh Islamisme Timur Tengah di Indonesia adalah penegasannya untuk tidak melihat gerakan transnasional ini sebagai gerakan yang monolitik. Dengan melihat islamisme ala Timur Tengah hanya sekadar gerakan yang radikal, ekstrim, bukan hanya melahirkan sikap permusuhan baru tapi juga bisa abai pada gradasi islamisme yang lebih moderat tapi pada dasarnya tetap problematik bagi penguatan negara Indonesia. Gerakan-gerakan mempromosikan sejumlah perda syariat di banyak daerah di Indonesia adalah strategi yang jauh lebih moderat bahkan terkesan demokratis adalah salah satu varian strategi gerakan transnasional ini.
Studi keduanya berusaha memberi gambaran yang lebih bervariasi baik ketika menjelaskan jalur pengaruh Timur Tengah atas Indonesia, maupun ketika mengategorikan kelompok-kelompok islamis ini.
Jalur transmisi ide-ide islamisme itu menurut studi ini setidaknya mengambil tiga jalur (Greg Fealy dan Anthony Bubalo; 84) . Pertama, gerakan-gerakan sosial. Di jalur ini transmisi ide dibawa oleh pelajar atau mahasiswa yang belajar di Timur Tengah. Mereka belajar di Universitas Al-Azhar Kairo, Universitas Islam Madinah, Universitas Umul Qura Mekah, Universitas al-Imam Muhammad bin Saud di Riyadh, atau Universitas King Abdul Aziz. Sementara itu, saluran utama kelompok jihadis adalah melalui perang Afghanistan pada 1980-an yang kemudian melahirkan kelompok Al-Qaeda dan Jamaah Islamiyah.
Kedua, jalur pendidikan dan dakwah. Lembaga-lembaga dan beberapa  orang dari negara Timur Tengah termasuk Mesir  Kuwait belakangan cukup aktif berkiprah di bidang pendidikan dan dakwah di Indonesia. Agen-agen itu meliputi atase kedutaan Arab Saudi di Jakarta, Rabithah Alam Islami, International Islamic Relief Organization (IIRO) dan Word Assembly Muslim Youth (WAMY), atau lembaga amal nonpemerintah seperti al-Haramain –yang cabangnya di Indonesia dituding Amerika sebagai organisai pendukung terorisme (Greg Fealy; 92).
Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Cabang Universitas al-Imam Muhammad bin Saud di Riyadh, Arab Saudi juga dianggap salah satu lembaga yang mentransmisikan ide-ide ikhawanul muslimin dan salafi. Sebagian alumninya ada yang menjadi petinggi PKS. Penelitian Sidney Jones menyebut sebagian besar para alumni menjadi figur berpengaruh dalam gerakan salafi di Indonesia melalui penerbitan, atau dengan menjadi dai, guru maupun ulama. (Greg Fealy; 96). Tiga organisasi yang secara khusus mendapat dukungaan signifikan dari Saudi adalah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Jamiat Islam wa al-Irsyad dan Persis.
Ketiga, jalur publikasi dan internet. Melalui sejumlah media baik cetak maupun online, atau buku-buku dalam versi Arab maupun terjemahan, juga menjadi salah satu jalur transmisi cukup efektif. Beberapa penerbit buku di Indonesia bahkan mengkhususkan menerbitkan atau menerjemahakan buku beraliran salafi dan pemikiran-pemikiran dari kalangan Ikhwanul Muslimin.
Studi Greg Fealy dan Bubalo ini selanjutnya menyebut tiga arus utama gerakan islamisme yang  ada di Tanah Air. Pertama, ikhawanul muslimin yang diadopsi gerakan tarbiyah dan mulai berkembang di perguruan tinggi di era 80-an dan awal 90-an. Di masa itu tentu saja gerakan ini berkembang underground di bawah tekanan rezim Soeharto. Konsolidasi ini menemukan momentumnya ketika rezim Soeharto tumbang. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia yang berdiri pada April 1998, sebagian pemimpinnya kemduian mendirikan Partai Keadilan Sejahtera (waktu itu bernama Partai Keadilan).
Kedua, kelompok salafi. Kelompok ini sebagian besar berbasis lembaga dakwah dan pendidikan. Misalnya Yayasan al-Sofwah, Yayasan Ihsa at-Turost, dan Al-Haramain al-Khoiriyah. Gerakan salafi yang cukup fenomenal adalah Forum Komunikasi Ahlus Sunnah Waljamaah (FKAWJ) yang melahirkan Laskar Jihad pimpinan Jafar Umar Tholib. Berdiri 1998, bubar Oktober 2002.
Ketiga, kelompok jihadi. Kelompok ini adalah kelompok paling ekstrem dari gerakan islamisme yang mengesahkan kekerasan seperti bom bunuh diri. Jaringan Islamiyah yang didirikan pada 1 Januari 1993 oleh Abdullah Sungkar termasuk kelompok. Jejaring inilah yang  kemudian melakukan aksi-aksi bom bunuh diri seperti yang dilakukan Imam Samudera dan kawan-kawan.

Beberapa Respon Gerakan

Sifat gerakan baru ini yang dinilai tampak “membuldoser” pemahaman keagamaan yang sudah tumbuh lebih dulu seperti kalangan Nahdliyin atau Muhammadiyah, tentu saja telah melahirkan respon dalam berbagai gradasinya, mulai dari lunak hingga keras. Apalagi jika dianggap kelompok tersebut “mengancam” dalam bentuk mengambil aset mereka seperti jamaah, masjid, atau lembaga pendidikan.
Karena gerah dengan fenomena yang muncul, Muhammadiyah misalnya mengeluarkan Surat Keputusan Pimpinan Pusat (SKPP) pada Desember 2006 tentang Kebijakan Pimpinan Muhammadiyah mengenai Konsolidasi Organisasi dan Amal Usaha Muhammadiyah. Disurat itu, SKKP jelas menyebut PKS sebagai partai politik yang telah memanfaatkan Muhammadiyah berikut ases-asetnnya seperti masjid, lembaga pendidikan, maupun amal usahanya, untuk tujuan politik.
Tahun 2007, forum Bahstul Masail di Pesantren Zainul Hasan Genggong menghasilkan keputusan bahwa tak ada satupun nash dalam al-Quran yang mendasari gagasan negara Islam. Negara Islam atau khilafah Islamiyah merupakan persoalan ijtihadiyah. (KH. Abdurrahman Wahid; 254). Isu perebutan masjid oleh kelompok  tertentu di kalangaan NU juga sudah kencang disuarakan setahun sebelumnya.
Namun perlu disadari, respon yang refresif  apalagi mengunakan tangan negara memberangus kelompok ini, kecuali sudah mengarah pada aksi-aksi teror, agaknya justru akan membuat gerakan ini makin menguat. Bagaimanapun gerakan ini lahir dari konteks situasi sosial-politik yang mereka anggap tidak adil dan represif. Jose Casanova dala Public Religions in the Modern World (2004) mencatat gejala mendesakan agama ke level negara justru dianggap sebagai dampak dari proses sekularisasi baik dalam pengertiannya sebagai proses “kemunduran agama” (religious decline) maupun “privatisasi” (privatization) yang jelas hendak meminggirkan agama dalam wacana publik. Sekularisasi itu lalu melahirkan fenomena gerakan “deprivatisasi”(deprivatization) agama yang berkembang sejak awal tahun 1990-an di banyak negara termasuk negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. (Benyamin Fleming Intan; 2006; 14 ).
Dalam konteks ini penting untuk melihat konteks lokal Indonesia dimana kelompok berkembang. Betapapun gagasan yang diimpor itu selalu akan mengalami dialog dan penyesuaian-penyesuaian. Inilah yang terjadi dengan gerakan PKS yang tidak semata-mata saklek mengadopsi ideologi Ikhawanul Muslimin.
Respon atas gerakan tersebut seyogyanya juga dilihat dalam konteks “perang gagasan” yang dilakukan secara terbuka, dan pada saat yang sama memperkuat basis jamaah di masing-masing pihak. Perlu ditegaskan pula di sini, bahwa konsep negara Pancasila adalah hal final dan hasil kompromi dari berbagai kepenti ngan, termasuk kepentingan kelompok islamis ini.
Sebagai gerakan kultural keagamaan konsep kebangsaan yang jelas yang ditunjukan kalangan Nahdliyin terhadap Pancasila harus terus dialogkan. Islam dalam pandangan Kalangan Nahdliyin bukanlah untuk menggantikan negara, melainkan melangkapi. Menjadi muslim sekaligus menjadi warga negara Indonesia.  Sikap ini sudah ditunjukan jauh sebelum republik ini berdiri.  Melalui Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin tahun 1936, kalangan NU berpandangan jika Indonesia yang saat itu dikuasai negara Hindia Belanda dinyatakan sebagai “negara Islam” yang sangat berbeda dengan apa yang dibayangkan gerakan Islamis Indonesia dewasa ini yang hendak menggantikan fondasi negara (Imam Ghazali Said; 2006).
Dengan merujuk kitab Bughyatul Mustarsyidin (hasrat para pencari petunjuk) bab Hudnah wal Imamah (perdamaian dan kepemimpinan), Indonesia dinilai sebagai negara Islam karena pertimbangan bahwa mayoritas penduduknya muslim dan pemerintah yang berkuasa saat itu tidak juga melarang orang untuk menjalankan agamanya, termasuk alasan bahwa wilayah Nusantara sejak dulu pernah dikuasai kerajaan-kerajaan Islam.
Sikap yang tegas atas konsep bernegara-berbangsa inilah yang sesungguhnya menjadi tugas bersama termasuk komunitas pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Selamat Bekerja!

Bahan Bacaan
Esposito, Jhon L., Ancaman Islam Mitos atau Realitas (tej) (Bandung: Mizan, 1996) Cetakan III  (edisi revisi)
Fealy, Greg dan Anthony Bubalo, Jejak Kafilah: Pengaruh Radikalisme Timur Tengah di Indonesia. terj, (Bandung; Mizan, 2007)
Intan, Benyamin Fleming “Public Religion” and the Pancasila-Based State of Indonesia: An Ethical and Sociological Analysis, (Newyork: PeterLang Publishing, 2006)
Said, Imam Ghazali (ed), Solusi Hukum Islam, Keputusan Muktamar dan
Konbes (1926-2004), (Surabaya; Diantama, 2006)
Wahid, Abdurrahman (ed), Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia (Jakarta: Gerakan Bhineka Tunggal Ika-the Wahid Institute-the Maarif Institute, 2009



MISTERI ISLAMISASI JAWA
Berikut Isi Tulisan Dari Prof. Hasanu Simon :
I
Sebelum saya sampaikan tanggapan dan komentar saya terhadap buku berjudul “Syekh Siti Jenar, Ajaran dan Jalan Kematian”, karya Dr Abdul Munir Mulkhan, saya sampaikan dulu mengapa saya bersedia ikut menjadi pembahas buku tersebut. Tentu saja saya mengucapkan terima kasih kepada panitia atas kepercayaan yang diberikan kepada saya di dalam acara launching buku yang katanya sangat laris ini.
Saya masuk Fakultas Kehutanan UGM tahun 1965, memilih Jurusan Manajemen Hutan. Sebelum lulus saya diangkat menjadi asisten, setelah lulus mengajar Perencanaan dan Pengelolaan Hutan. Pada waktu ada Kongres Kehutanan Dunia VIII di Jakarta tahun 1978, orientasi sistem pengetolaan hutan mengalami perubahan secara fundamental. Kehutanan tidak lagi hanya dirancang berdasarkan ilmu teknik kehutanan konvensional, melainkan harus melibatkan ilmu sosial ekonomi masyarakat. Sebagai dosen di bidang itu saya lalu banyak mempelajari hubungan hutan dengan masyarakat mulai jaman kuno dulu. Di situ saya banyak berkenalan dengan sosiologi dan antropologi. Khusus dalam mempelajari sejarah hutan di Jawa, banyak masalah sosiologi dan antropologi yang amat menarik.
Kehutanan di Jawa telah menyajikan sejarah yang amat panjang dan menarik untuk menjadi acuan pengembangan strategi kehutanan sosial (social forestry strategy) yang sekarang sedang dan masih dicari oleh para ilmuwan. Belajar sejarah kehutanan Jawa tidak dapat melepaskan diri dengan sejarah bangsa Belanda. Dalam mempelajari sejarah Belanda itu, penulis sangat tertarik dengan kisah dibawanya buku-buku dan Sunan Mbonang di Tuban ke negeri Belanda. Peristiwa itu sudah terjadi hanya dua tahun setelah bangsa Belanda mendarat di Banten. Sampai sekarang buku tersebut masih tersimpan rapi di Leiden, diberi nama “Het Book van Mbonang”, yang menjadi sumber acuan bagi para peneliti sosiologi dan antropologi.

Buku serupa tidak dijumpai sama sekali di Indonesia. Kolektor buku serupa juga tidak dijumpai yang berkebangsaan Indonesia. Jadi seandainya tidak ada “Het Book van Mbonang”, kita tidak mengenal sama sekali sejarah abad ke-16 yang dilandasi dengan data obyektif. Kenyataan sampai kita tidak memiliki data obyektif tentang Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Kalijogo, dan juga tentang Syekh Siti Jenar. Oleh karena itu yang berkembang lalu kisah-kisah mistik bercampur takhayul, termasuk misteri Syekh Siti Jenar yang hari ini akan kita bicarakan. Kisah Walisongo yang penuh dengan mistik dan takhayul itu amat ironis, karena kisah tentang awal perkembangan Islam di Indonesia, sebuah agama yang sangat keras anti kemusyrikan.
Pembawa risalah Islam, Muhammad SAW yang lahir 9 abad sebelum era Wallsongo tidak mengenal mistik. Beliau terluka ketika berdakwah di Tho’if, beliau juga terluka dan hampir terbunuh ketika perang Uhud. Tidak seperti kisah Sunan Giri, yang ketika diserang pasukan Majapahit hanya melawan tentara yang jumlahnya lebih banyak itu dengan melemparkan sebuah bollpoint ke pasukan Majapahit. Begitu dilemparkan bollpoint tersebut segera berubah menjadi keris sakti, lalu berputar-putar menyerang pasukan Majapahit dan bubar serta kalahlah mereka. Keris itu kemudian diberi nama Keris Kolomunyeng, yang oleh Kyai Langitan diberikan kepada Presiden Gus Dur beberapa bulan lalu yang antara lain untuk menghadapi Sidang Istimewa MPR yang sekarang sedang digelar, dan temyata tidak ampuh.
Kisah Sunan Kalijogo yang paling terkenal adalah kemampuannya untuk membuat tiang masjid dari tatal dan sebagai penjual rumput di Semarang yang diambil dari Gunung Jabalkat. Kisah Sunan Ampel lebih hebat lagi; salah seorang pembantunya mampu melihat Masjidil Haram dari Surabaya untuk menentukan arah kiblat. Pembuat ceritera ini jelas belum tahu kalau bumi berbentuk bulat sehingga permukaan bumi ini melengkung. Oleh karena itu tidak mungkin dapat melihat Masjidil Haram dari Surabaya.
Islam juga mengajarkan bahwa Nabi lbrahim AS, yang hidup sekitar 45 abad sebelum era Walisongo, yang lahir dari keluarga pembuat dan penyembah berhala, sepanjang hidupnya berdakwah untuk anti berhala . Ini menunjukakan bahwa kisah para wali di Jawa sangat ketinggalan jaman dibanding dengan kisah yang dialami oleh orang-orang yang menjadi panutannya, pada hal selisih waktu hidup mereka sangat jauh. “Het Book van Mbonang” yang telah melahirkan dua orang doktor dan belasan master bangsa Belanda itu memberi petunjuk kepada saya, pentingnya menulis sejarah berdasarkan fakta yang obyektif “Het Book van Bonang” tidak menghasilkan kisah Keris Kolomunyeng, kisah cagak dan tatal, kisah orang berubah menjadi cacing, dan sebagainya.
Itulah ketertarikan saya dengan Syekh Siti Jenar sebagai bagian dari sejarah Islam di Indonesia. Saya tertarik untuk ikut menulis tentang Syekh Siti Jenar dan Walisongo. Tulisan saya belum selesai, tapi niat saya untuk terlibat adalah untuk membersihkan sejarah Islam di Jawa ini dari takhayul, mistik, khurofat dan kemusyrikan. Itulah sebabnya saya terima tawaran panitia untuk ikut membahas buku Syekh Siti Jenar karya Dr Abdul Munir Mulkhan ini. Saya ingin ikut mengajak masyarakat untuk segera meninggalkan dunia mitos dan memasuki dunia ilmu.

Dunia mitos tidak saja bertentangan dengan akidah Islamiyah, tetapi juga sudah ketinggalan jaman ditinjau dari aspek perkembangan ilmu pengetahuan. Secara umum dunia mitos telah ditinggalkan akhir abad ke-19 yang lalu, atau setidak-tidaknya awal abad ke-20. Apakah kita justru ingin kembali ke belakang? Kalau kita masih berkutat dengan dunia mitos, masyarakat kita juga hanya akan menghasilkan pemimpin mitos yang selalu membingungkan dan tidak menghasilkan sesuatu.
II
Siapa Syekh Siti Jenar ? Kalau seseorang menulis buku, tentu para pembaca berusaha untuk mengenal jatidiri penulis tersebut, minimal bidang keilmuannya. Oleh karena itu isi buku dapat dijadikan tolok ukur tentang kadar keilmuan dan identitas penulisnya. Kalau ternyata buku itu berwama kuning, penulisnya juga berwama kuning. Sedikit sekali terjadi seorang yang berfaham atheis dapat menulis buku yang bersifat relijius karena dua hal itu sangat bertentangan. Seorang sarjana pertanian dapat saja menulis buku tentang sosiologi, karena antara pertanian dan sosiologi sering bersinggungan. Jadi tidak mustahil kalau Isi sebuah buku tentu telah digambarkan secara singkat oleh judulnya. Buku tentang Bertemak Kambing Ettawa menerangkan seluk-beluk binatang tersebut, manfaatnya, jenis pakan, dan sebagainya yang mempunyai kaitan erat dengan kambing Ettawa.
Judul buku karya Dr Abdul Munir Mulkhan ini adalah: “Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar. Pembaca tentu sudah membayangkan akan memperoleh informasi tentang kedua hal itu, yaitu ajaran Syekh Siti Jenar dan bagaiamana dia mati. Penulis buku juga setia dengan ketentuan seperti itu.
Bertitik-tolak dari ketentuan umum itu, paragraf 3 sampai dengan 6 Bab Satu tidak relevan.. Bab Satu diberi judul: Melongok Jalan Sufi: Humanisasi Islam Bagi Semua. Mungkin penulis ingin mengaktualisasikan ajaran Syekh Siti Jenar dengan situasi kini, tetapi apa yang ditulis tidak mengena sama sekali. Bahkan di dalam paragraf 3-6 itu banyak pemyataan (statements) yang mencengangkan saya sebagai seorang muslim.

Pernyataan di dalam sebuah tulisan, termasuk buku, dapat berasal dari diri sendiri atau dari orang lain. Pemyataan orang lain mesti disebutkan sumbernya; oleh karena itu peryataan yang tidak ada sumbemya dianggap oleh pembaca sebagai pernyataan dari penulis. Peryataan orang lain dapat berbeda dengan sikap, watak dan pendapat penulis, tetapi pernyataan penulis jelas menentukan sikap, watak dan pendapatnya. Pernyataan-pernyataan di dalam sebuah buku tidak lepas satu dengan yang lain. Rangkaiannya, sistematika penyajiannya, merupakan sebuah bangunan yang menentukan kadar ilmu dan kualitas buku tersebut. Rangkaian dan sistematika pernyataan musti disusun menurut logika keilmuan yang dapat diterima dan dibenarkan oleh masyarakat ilmu.
Untuk mengenal atau menguraikan ajaran Syekh Siti Jenar, adalah logis kalau didahului dengan uraian tentang asal-usul yang empunya ajaran. Ini juga dilakukan oleh Dr Abdul Munir Mulkhan (Paragraf I Bab Satu, halaman 3-10). Di dalam paragraf tersebut diterangkan asal-usul Syekh Siti Jenar tidak jelas. Seperti telah diterangkan, karena tidak ada sumber obyektif maka kisah asal-usul ini juga penuh dengan versi-versi. Di halaman 3, dengan mengutip penelitian Dalhar Shofiq untuk skripsi S-1 Fakultas Filsafat UGM, diterangkan bahwa Syekh Siti Jenar adalah putera seorang raja pendeta dari Cirebon bemama Resi bungsu. Nama asli Syekh Siti Jenar adalah Hasan Ali alias Abdul Jalil.
Kalau seseorang menulis buku, apalagi ada hubungannya dengan hasil penelitian, pembahasan secara ilmiah dengan menyandarkan pada logika amat penting. Tidak semua berita dikutip begitu saja tanpa analisis. Di dalam uraian tentang asal-usul Syekh Siti Jenar di halaman 3-10 ini jelas sekali penuh dengan kejanggalan, tanpa secuil analisis pun untuk memvalidasi berita tersebut. Kejanggalan-kejanggalan itu adalah:
1. Ayah Syekh Siti Jenar adalah seorang raja pendeta benama Resi Bungsu. Istilah raja pendeta ini kan tidak jelas. Apakah dia seorang raja, atau pendeta. Jadi beritanya saja sudah tidak jelas sehingga meragukan.
2. Di halaman 62, dengan mengutip sumber Serat Syekh Siti Jenar, diterangkan bahwa ayah Syekh Siti Jenar adalah seorang elite agama Hindu-Budha. Agama yang disebutkan ini juga tidak jelas. Agama Hindu tidak sama dengan agama Budha. Setelah Islam muncul menjadi agama mayoritas penduduk pulau Jawa, persepsi umum masyarakat memang mengangap agama Hindu dan Budha sama. Pada hal ajaran kedua agama itu sangat berbeda, dan antara keduanya pernah terjadi perseteruan akut selama berabad-abad. Runtuhnya Mataram Hindu pada abad ke-10 disebabkan oleh perseteruan akut tersebut. Runtuhnya Mataram Hindu berakibat sangat fatal bagi perkembangan Indonesia. Setelah itu kerajaan-kerajaan Jawa terus menerus terlibat dengan pertikaian yang membuat kemunduran. Kemajuan teknologi bangsa Jawa yang pada abad ke-10 sudah di atas Eropa, pada abad ke-20 ini jauh di bawahnya. Tidak hanya itu, bahkan selama beberapa abad Indonesia (termasuk Jawa) ada di bawah bayang-bayang bangsa
Eropa.
3. Kalau ayah Syekh Siti Jenar beragama Hindu atau Budha, mengapa anaknya diberi nama Arab, Hasan Ali alias Abdul Jalil. Apalagi seorang “raja pendeta” yang hidup di era pergeseran mayoritas agama rakyat menuju agama Islam, tentu hal itu janggal terjadi.
4. Atas kesalahan yang dilakukan anaknya, sang ayah menyihir sang anak menjadi seekor cacing lalu dibuang ke sungai. Di sini tidak disebut apa kesalahan tersebut, sehinga sang ayah sampai tega menyihir anaknya menjadi cacing. Masuk akalkah seorang ayah yang “raja pendeta” menyihir anaknya menjadi cacing. Ilmu apakah yang dimiliki “raja pendeta” Resi Bungsu untuk merubah seseorang menjadi cacing? Kalau begitu, mengapa Resi Bungsu tidak menyihir para penyebar Islam yang pada waktu itu mendepak pengaruh dan ketenteraman batinnya? Ceritera seseorang mampu merubah orang menjadi binatang ceritera kuno yang mungkin tidak pemah ada orang yang melihat buktinya. Ini hanya terjadi di dunia pewayangan yang latar belakang agamanya Hindu (Mahabarata) dan Budha (Ramayana).
5. Cacing Hasan Ali yang dibuang di sungai di Cirebon tersebut, suatu ketika terbawa pada tanah yang digunakan untuk menembel perahu Sunan Mbonang yang bocor.. Sunan Mbonang berada di atas perahu sedang mengajar ilmu gaib kepada Sunan Kalijogo. Betapa luar biasa kejanggalan pada kalimat tersebut. Sunan Mbonang tinggal di Tuban,sedang cacing Syekh Siti Jenar dibuang di sungai daerah Cirebon. Di tempat lain dikatakan bahwa Sunan Mbonang mengajar Sunan Kalijogo di perahu yang sedang terapung di sebuah rawa. Adakah orang menembel perahu bocor dengan tanah? Kalau toh menggunakan tanah, tentu dipilih dan disortir tanah tersebut, termasuk tidak boleh katutan (membawa) cacing.
6.. Masih di halaman 4 diterangkan, suatu saat Hasan Ali dilarang Sunan Giri mengikuti pelajaran ilmu gaib kepada para muridnya. Tidak pemah diterangkan, bagaimana hubungan Hasan Ali dengan Sunan Giri yang tinggal di dekat Gresik. Karena tidak boleh, Hasan Ali lalu merubah dirinya menjadi seekor burung sehingga berhasil mendengarkan kuliah Sunan Giri tadi dan memperoleh ilmu gaib. Setelah itu Hasan Ali lalu mendirikan perguruan yang ajarannya dianggap sesat oleh para wali. Untuk apa Hasan Ali belajar ilmu gaib dari Sunan Giri, pada hal dia sudah mampu merubah dirinya menjadi seekor burung.

Al hasil, seperti dikatakan oleh Dr Abdul Munis Mulkhan sendiri dan banyak penulis yang lain, asal-usul Syekh Siti Jenar memang tidak jelas. Karena itu banyak pula orang yang meragukan, sebenarnya Syekh Siti Jenar itu pernah ada atau tidak . Pertanyaan ini akan saya jawab di belakang. Keraguan tersebut juga berkaitan dengan, di samping tempat lahimya, di mana sebenamya tempat tinggal Syekh Siti Jenar. Banyak penulis selalu menerangkan bahwa nama lain Syekh Siti Jenar adalah: Sitibrit, Lemahbang, Lemah Abang. Kebiasaan waktu, nama sering dikaitkan dengan tempat tinggal. Di mana letak Siti Jenar atau Lemah Abang itu sampai sekarang tidak pemah jelas; padahal tokoh terkenal yang hidup pada jaman itu semuanya diketahui tempat tinggalnya. Syekh Siti Jenar tidak meninggalkan satupun petilasan.
Karena keraguan dan ketidak-jelasan itu, saya setuju dengan pendapat bahwa Syekh Siti Jenar memang tidak pemah ada. Lalu apa sebenarnya Syekh Siti Jenar itu? Sekali lagi pertanyaan ini akan saya jawab di belakang nanti. Kalau Syekh Siti Jenar tidak pernah ada, mengapa kita ber-tele-tele membicarakan ajarannya. Untuk apa kita berdiskusi tentang sesuatu yang tidak pemah ada. Apalagi diskusi itu dalam rangka memperbandingkan dengan Al Qur’an dan Hadits yang amat jelas asal-usulnya, mulia kandungannya, jauh ke depan jangkauannya, tinggi muatan ipteknya, sakral dan dihormati oleh masyarakat dunia.
Sebaliknya, Syekh Siti Jenar hanya menjadi pembicaraan sangat terbatas di kalangan orang Jawa. Tetapi karena begitu sinis dan menusuk perasaan orang Islam yang telah kaffah bertauhid, maka mau tidak mau lalu sebagian orang Islam harus melayaninya. Oleh karena itu sebagai orang Islam yang tidak lagi ragu terhadap kebenaran Al Qur’an dan kerosulan Muhammad Saw, saya akan berkali-kali mengajak saudara-saudaraku orang Islam untuk berhati-hati dan jangan terlalu banyak membuang waktu untuk mendiskusikan ceritera fiktif yang berusaha untuk merusak akidah Islamiyah ini.

III
Sunan Kalijogo
Semua orang di Indonesia, apalagi orang Islam, kenal dengan nama Sunan Kalijogo yang kecilnya bernama Raden Mas Said ini. Dikatakan dia adalah putera Adipati Tuban Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur Yang beragama Islam.
Silsilah Raden Sahur ke atas adalah putera Ario Tejo III (Islam), putera Ario Tejo II, putera Ario Tejo II (Hindu), putera Ario Tejo I, putera Ronggolawe, putera Ario Banyak Wide alias Ario Wiraraja, putera Adipati Ponorogo. Itulah asal usul Sunan Kalijogo yang banyak ditulis dan diyakini orang, yang sebenamya merupakan versi Jawa. Dua versi lainnya tidak pernah ditulis atau atau tidak dijumpai dalam media cetak sehingga tidak diketahui masyarakat luas (Imron Abu Ammar, 1992).
Di depan telah saya singgung bahwa kisah Sunan Kalijogo versi Jawa ini penuh dengan ceritera mistik. Sumber yang orisinil tentang kisah tersebut tidak tersedia. Ricklefs, sejarawan Inggris yang banyak meneliti sejarah Jawa, menyebutkan bahwa sebelum ada catatan bangsa Belanda memang tidak tersedia data yang dapat dipercaya tentang sejarah Jawa. Sejarah Jawa banyak bersumber dari cerita rakyat yang versinya banyak sekali.. Mungkin cerita rakyat itu bersumber dari catatan atau cerita orang-orang yang pernah menjabat sebagai Juru Pamekas, lalu sedikit demi sedikit mengalami distorsi setelah melewati para pengagum atau penentangnya.
Namun demikian sebenarnya Sunan Kalijogo meninggalkan dua buah karya tulis, yang satu sudah lama beredar sehingga dikenal luas oleh masyarakat, yaitu Serat Dewo Ruci, sedang yang satu lagi belum dikenal luas, yaitu Suluk Linglung. Serat Dewo Ruci telah terkenal sebagai salah satu lakon wayang. Saya pertama kali melihat wayang dengan lakon Dewo Ruci pada waktu saya masih duduk di kelas 5 SR, di desa kalahiran ibu saya Pelempayung (Madiun) yang dimainkan oleh Ki dalang Marijan. Sunan Kalijogo sendiri sudah sering menggelar lakon yang sebenarnya merupakan kisah hidup yang diangan-angkan sendiri, setelah kurang puas dengan jawaban Sunan Mbonang atas pertanyaan yang diajukan. Sampai sekarang Serat Dewo Ruci merupakan kitab suci para penganut Kejawen, yang sebagian besar merupakan pengagum ajaran Syekh Siti Jenar yang fiktif tadi.
Kalau Serat Dewo Ruci diperbandingkan dengan Suluk Linglung, mungkin para penganut Serat Dewo Ruci akan kecelek. Mengapa demikian? Isi Suluk Linglung temyata hampir sama dengan isi Serat Dewo Ruci, dengan perbedaan sedikit namun fundamental. Di dalam Suluk Linglung Sunan Kalijogo telah menyinggung pentingnya orang untuk melakukan sholat dan puasa, sedang hal itu tidak ada sama sekali di dalam Serat Dewo Ruci. Kalau Serat Dewo Ruci telah lama beredar, Suluk Linglung baru mulai dikenal akhir-akhir ini saja. Naskah Suluk Linglung disimpan dalam bungkusan rapi oleh keturunan Sunan Kalijogo.. Seorang pegawai Departemen Agama Kudus, Drs Chafid mendapat petunjuk untuk mencari buku tersebut, dan ternyata disimpan oleh Ny Mursidi, keturunan Sunan Kalijogo ke-14. Buku tersebut ditulis di atas kulit kambing, oleh tangan Sunan Kalijogo sendin’ menggunakan huruf Arab pegon berbahasa Jawa. Tahun 1992 buku diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Saat ini saya sedang membahas kedua buku itu, dan untuk sementara saya sangat bergembira karena menurut kesimpulan saya, menjelang wafat ternyata Sunan Kalijogo menjadi kaffah mengimani Islam. Sebelumnya Sunan Kalijogo tidak setia menjalankan syariat Islam, sehingga orang Jawa hanya meyakini bahwa yang dilakukan oleh Sunan terkenal ini bukan sholat lima waktu melain sholat da’im. Menurut Ustadz Mustafa Ismail LC, da’im berarti terus-menerus. Jadi Sunan Kalijogo tidak sholat lima waktu melainkan sholat da’im dengan membaca Laa illaha ilalloh kapan saja dan di mana saja tanpa harus wudhu dan rukuk-sujud. Atas dasar itu untuk sementara saya membuat hipotesis bahwa Syekh Jenar sebenamya adalah Sunan Kalijogo. Hipotesis inilah yang akan saya tulis dan sekaligus saya gunakan untuk mengajak kaum muslimin Indonesia untuk tidak bertele-tele menyesatkan diri dalam ajaran Syekh Siti Jenar. Sayang, waktu saya masih banyak terampas untuk menyelesaikan buku-buku saya
tentang kehutanan sehingga upaya saya untuk mengkaji dua buku tersebut tidak dapat berjalan lancar. Atas dasar itu pula saya menganggap bahwa diskusi tentang Syekh Siti Jenar, seperti yang dilakukan oleh Dr Abdul Munir Mulkhan ini, menjadi tidak mempunyai landasan yang kuat kalau tidak mengacu kedua buku karya Sunan Kalijogo tersebut.
Sebagai tambahan, pada waktu Sunan Kalijogo masih berjatidiri seperti tertulis di dalam Serat Dewo Ruci, murid-murid kinasih-nya berfaham manunggaling kawulo Gusti (seperti Sultan Hadiwidjojo, Pemanahan, Sunan Pandanaran, dan sebagainya), sedang setelah kaffah murid dengan tauhid murni, yaitu Joko Katong yang ditugaskan untuk mengislamkan Ponorogo. Joko Katong sendiri menurunkan tokoh-tokoh Islam daerah tersebut yang pengaruhnya amat luas sampai sekarang, termasuk Kyai Kasan Bestari (guru R Ng Ronggowarsito), Kyai Zarkasi (pendiri PS Gontor), dan mantan Presiden BJ Habibie termasuk Ny Ainun Habibie.

IV
Walisongo
Sekali lagi kisah Walisongo penuh dengan cerita-cerita yang sarat dengan mistik. Namun Widji Saksono dalam bukunya “Mengislamkan Tanah Jawa” telah menyajikan analisis yang memenuhi syarat keilmuan. Widji Saksono tidak terlarut dalam cerita mistik itu, memberi bahasan yang memadai tentang hal-hal yang tidak masuk akal atau yang bertentangan dengan akidah Islamiyah.
Widji Saksono cukup menonjolkan apa yang dialami oleh Raden Rachmat dengan dua temannya ketika dijamu oleh Prabu Brawidjaja dengan tarian oleh penan putri yang tidak menutup aurat. Melihat itu Raden Rachmat selalu komat-kamit, tansah ta’awudz. Yang dimaksudkan pemuda tampan terus istighfar melihat putri-putri cantik menari dengan sebagian auratnya terbuka. Namun para pengagum Walisongo akan “kecelek” (merasa tertipu, red) kalau membaca tulisan Asnan Wahyudi dan Abu Khalid. Kedua penulis menemukan sebuah naskah yang mengambil informasi dari sumber orisinil yang tersimpan di musium Istana Istambul, Turki. Menurut sumber tersebut, temyata organisasi Walisongo dibentuk oleh Sultan Muhammad I. Berdasarkan laporan para saudagar Gujarat itu, Sultan Muhammad I lalu ingin mengirim tim yang beranggotakan sembilan orang, yang memiliki kemampuan di berbagai bidang, tidak hanya bidang ilmu agama saja.. Untuk itu Sultan Muhammad I mengirim surat kepada pembesar di
Afrika Utara dan Timur Tengah, yang isinya minta dikirim beberapa ulama yang mempunyai karomah.

Berdasarkan perintah Sultan Muhammad I itu lalu dibentuk tim beranggotakan 9 orang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa pada tahun 1404. Tim tersebut diketuai oleh Maulana Malik Ibrahim yang merupakan ahli mengatur negara dari Turki. Berita ini tertulis di dalam kitab Kanzul ‘Hum karya Ibnul Bathuthah, yang kemudiah dilanjutkan oleh Syekh Maulana Al Maghribi. Secara lengkap, nama, asal dan keahlian 9 orang tersebut adalah sebagai berikut:
1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.
2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.
5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli menumbali daerah yang angker yang dihuni jin jahat (??).
Dengan informasi baru itu terjungkir-baliklah sejarah Wallsongo versi Jawa. Ternyata memang sejarah Walisongo versi non-Jawa, seperti telah disebutkan di muka, tidak pemah diekspos, entah oleh Belanda atau oleh siapa, agar orang Jawa, termasuk yang memeluk agama Islam, selamanya terus dan semakin tersesat dari kenyataan yang sebenamya. Dengan informasi baru itu menjadi jelaslah apa sebenamya Walisongo itu. Walisongo adalah gerakan berdakwah untuk menyebarkan Islam. Oleh karena gerakan ini mendapat perlawanan dengan gerakan yang lain, termasuk gerakan Syekh Siti Jenar.
Latar Belakang Gerakan Syekh Siti Jenar
Tulisan tentang Syekh Siti Jenar sebenarnya hanya bersumber pada satu tulisan saja, yang mula-mula tanpa pengarang. Tulisan yang ada pengarangnya juga ada, misalnya Serat Sastro Gendhing oleh Sultan Agung. Buku berjudul Ajaran Syekh Siti Jenar karya Raden Sosrowardojo yang menjadi buku induk karya Dr Abdul Munir Mulkhan itu sebenarnya merupakan gubahan atau tulisan ulang dari buku dengan judul yang sama karya Ki Panji Notoroto. Nama Panji Notoroto adalah samaran mantan Adipati Mataram penganut berat ajaran Syekh Siti Jenar. Ki Panji Notoro memberi informasi menarik, bahwa rekan-rekan Adipati seangkatannya ternyata tidak ada yang dapat membaca dan menulis. Ini menunjukkan bahwa setelah era Demak Bintoro, nampaknya pendidikan klasikal di masyarakat tidak berkembang sama sekali.

Memahami Al Qur’an dan Hadits tidak mungkin kalau tidak disadari dengan ilmu. Penafsiran Al Qur’an tanpa ilmu akan menghasilkan hukum-hukum yang sesat belaka. Itulah nampaknya yang terjadi pada era pasca Demak, yang kebetulan sejak Sultan Hadiwidjojo agama yang dianut kerajaan adalah agama manunggaling kawulo Gusti. Di samping masalah pendidikan, sejak masuknya agama Hindu di Jawa ternyata pertentangan antar agama tidak pernah reda. Hal ini dengan jelas ditulis di dalam Babad Demak. Karena pertentangan antar agama itulah Mataram Hindu runtuh (telah diterangkan sebelumnya). Sampai dengan era Singasari, masih ada tiga agama besar di Jawa yaitu Hindu, Budha dan Animisme yang juga sering disebut Agama Jawa. Untuk mencoba meredam pertentangan agama itu, Prabu Kertonegoro, raja besar dan terakhir Singasari, mencoba untuk menyatukannya dengan membuat agama baru disebut agama Syiwa-Boja. Syiwa mewakili agama Hindu, Bo singkat Buda dan Ja mewakili agama Jawa.
Nampaknya sintesa itulah yang, ditiru oleh politik besar di Indonesa akhir decade 1950-an dulu, Nasakom. Dengan munculnya Islam sebagai agama mayoritas baru, banyak pengikut agama Hindu, Budha dan Animisme yang melakukan perlawanan secara tidak terang-terangan. Mereka lalu membuat berbagai cerita, misalnya Gatholoco, Darmogandhul, Wali Wolu Wolak-walik, Syekh Bela Belu, dan yang paling terkenal Syekh Siti Jenar. Untuk yang terakhir itu kebetulan dapat di-dhompleng-kan kepada salah satu anggota Walisongo yang terkenal, yaitu Sunan Kalijogo seperti telah disebutkan di muka.
Jadi Syekh Siti Jenar sebenarnya hanya sebuah gerakan anti reformasi, anti perubahan dari Hindu-Budha-Jawa ke Islam. Oleh karena itu isi gerakan itu selalu sinis terhadap ajaran Islam, dan hanya diambil potongan-potongannya yang secara sepintas nampak tidak masuk akal. Potongan- potongan ini banyak sekali disitir oleh Dr Abdul Munir Mulkhan tanpa telaah yang didasarkan pada dua hal, yaltu logika dan aqidah.

Pernyataan-pernyataan
Masalah pernyataan yang dibuat oleh penulis buku ini telah saya singgung di muka. Banyak sekali pernyataan yang saya sebagai muslim ngeri membacanya, karena buku ini ditulis juga oleh seorang muslim, malah Ketua sebuah organisasi Islam besar. Misalnya pernyataan yang menyebutkan: “ngurusi” Tuhan, semakin dekat dengan Tuhan semakin tidak manusiawi, kelompok syariah yang dibenturkan dengan kelompok sufi, orang beragama yang mengutamakan formalitas, dan sebagainya.

Setahu saya dulu pernyataan seperti itu memang banyak diucapkan oleh orang-orang dari gerakan anti Islam, termasuk orang-orang dari Partai Komunis Indonesia yang pemah menggelar kethoprak dengan lakon “Patine Gusti Allah” (matinya Allah,red) di daerah Magelang tahun 1965-an awal. Bahkan ada pernyataan yang menyebutkan bahwa syahadat, sholat, puasa, membayar zakat dan menunaikan ibadah haji itu tidak perlu. Yang penting berbuat baik untuk kemanusiaan.
Ini jelas pendapat para penganut agama Jawa yang sedih karena pengaruhnya terdesak oleh Islam. Rosululloh juga tidak mengajarkan pelaksanaan ibadah hanya secara formalistik, secara ritual saja. Dengan Islam mengajarkan kepada penganutnya untuk berbuat baik, karena kehidupan muslimin harus memenuhi dua aspek, yaitu hablum minannaas wa hablum minalloh.

Di dalam buku, seperti saya sebutkan, hendaknya pernyataan disusun sedemikian rupa untuk membangun sebuah misi atau pengertian. Apa sebenarnya misi yang akan dilakukan oleh Dr Abdul Munir Mulkhan dengan menulir buku Syekh Siti Jenar itu. Buku ini juga dengan jelas menyiratkan kepada pembaca bahwa mempelajari ajaran Syekh Siti Jenar itu lebih baik dibanding dengan mempelajari fikih atau syariat. Islam tidak mengkotak-kotakkan antara fikih, sufi dan sebagainya. Islam adalah satu, yang karena begitu kompleksnya maka orang harus belajar secara bertahap. Belajar syariah merupakan tahap awal untuk mengenal Islam.
Penulis juga membuat pernyataan tentang mengkaji Al Qur’an. Bukan hanya orang Islam dan orang yang tahun bahasa Arab saja yang boleh belajar Qur’an. Di sini nampaknya penulis lupa bahwa untuk belajar Al Qur’an ada, dua syarat yang harus dipenuhl, yaitu muttaqien (Al Baqoroh ayat 2) dan tahu penjelasannya, yang sebagian telah dicontohkan oleh Muhammad Saw. Jadi sebenamya boleh saja siapapun mengkaji Al Qur’an, tetapi tentu tidak boleh semaunya sendiri, tanpa melewati dua rambu penting itu. Oleh karena itu saya mengajak kepada siapapun, apalagi yang beragama Islam, untuk belaiar Al Qur’an yang memenuhi kedua syarat itu, misalnya kepada Ustadz Umar Budiargo, ustadz Mustafa Ismail, dan banyak lagi, khususnya alumni universitas Timur Tengah. Jangan belajar Al Qur’an dari pengikut ajaran Syekh Siti Jenar karena pasti akan tersesat sebab Syekh Siti Jenar adalah gerakan untuk melawan Islam.

Baca Selengkapnya......
Bookmark and Share