Tampilkan postingan dengan label milter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label milter. Tampilkan semua postingan

Jumat, Maret 25, 2011

Maverick, Rudal Penjebol Lapisan Baja

Maverick, Rudal Penjebol Lapisan Baja
Perang modern memberikan bukti konkret bahwa, perkembangan teknologi seolah-olah telah membuat tak ada tempat lagi untuk bersembunyi. Bunker sekuat apapun bisa dijebol dengan akurasi tinggi. AGM-65 Maverick adalah salah satu jawabannya.

Banyak cara untuk menghancurkan sasaran. Bisa dengan peluru, roket atau bom, tergantung besar sasaran yang dihancurkan dikaitkan dengan nilai kerusakan yang diharapkan. Semua persenjataan telah dirancang sedemikan rupa agar mengenai sasaran dengan nilai kesalahan minimum. Untuk itu dikembangkanlah alat bidik lebih akurat.

Tidak hanya daya ledak yang dikembangkan, keakurasian juga berkembang dengan pesat agar nilai kesalahan menjadi kecil. Dengan demikian pesawat tempur zaman sekarang tidak perlu membawa bom banyak tetapi cukup sedikit namun mempunyai nilai kerusakan maksimum. Untuk itulah dikembangkan bom pintar yang terkendali seperti Air Ground Missile/AGM-65 Maverick. Bom ini telah melengkapi arsenal TNI AU sejak kedatangan F-16 di Indonesia pada 1990.

Fire and Forget

Medio 1972, AGM-65A mulai melengkapi data arsenal AU AS. Tidak tanggung-tanggung, lebih 25.000 unit telah diproduksi guna menggeser bom lama yang menurut pilot kurang dapat diandalkan. Pemakaian Maverick telah mengubah konsep taktik pertempuran udara. Dalam sorti pemboman tidak diperlukan lagi re-attack guna menjamin keberhasilan sorti, tetapi cukup first run attack bila sang pilot dilengkapi Maverick.

Dengan keakurasian tinggi serta mempunyai bahan ledak seberat 125 lbs, bom pintar ini sangat cocok menghancurkan sasaran atas permukaan. Daftarnya mulai dari kendaraan lapis baja, kubu pertahanan, unit radar, jembatan, tangki bahan bakar hingga kapal atas permukaan. Didukung motor roket solid propellant Thiokol TX-481, bom pintar ini dapat diluncurkan menuju sasaran mulai dari ratusan meter dari sasaran hingga 20 nm, tergantung taktik yang dikembangkan.

Setelah pilot memrogram sasaran yang dikehendaki, hampir mustahil bom akan melenceng dari sasaran. Ketepatan ini berkat alat pemandu yang terus dikembangkan, termasuk TV guidance (electro-optical television guidance system) jenis mutakhir yang juga telah kita miliki.

Varian lain tidak hanya dipandu TV guidance tetapi juga Infra Red Imaging Guidance System ataupun Laser Guidance System. Dengan demikian unit AGM-65 ini sangat mudah diubah alat pandunya tergantung misi serta sasaran yang akan dihancurkan. Begitu pula dengan isian bahan ledaknya, dapat diganti sesuai kebutuhan. Bom pintar ini mampu membawa beban antara 125 hingga 150 lbs tanpa menganggu kinerja pelepasan.

Satu unit Maverick secara kasar terdiri atas tiga bagian. Bagian terdepan berupa guidance unit mempunyai tiga varian (TV guidance, IR guidance serta laser guidance). Sistem ini terhubung dengan sirip pengendali. Bagian tengah berisi bahan ledak padat yang mampu membawa beban 125-150 lbs dan hanya bisa meledak dengan kinetic energy. Sementara bagian paling belakang berupa tabung roket berisi solit propeland agar Maverick dapat meluncur hingga 20 nm sebelum mengenai sasaran.

Fire and Forget, itulah sang Maverick. Bila sensor guidance telah mengenali sasaran dan pilot mengunci (lock on), tugas selanjutnya akan dikerjakan sendiri oleh Maverick. Meskipun dalam perjalanan menuju sasaran banyak gangguan termasuk jamming, decoy ataupun upaya lain, termasuk menembak jatuhnya.

Dengan diameter selebar satu kaki (kira kira 30 cm, termasuk sayap manjadi 70 cm) berupa tabung sepanjang 2,5 m, sangat mustahil ditembak jatuh dengan senjata antiserangan udara. Apalagi Maverick melesat pada kecepatan hampir Mach 1. Kecepatan saat mengenai sasaran akan berubah menjadi enerji kinetik. Dengan daya ini akan meledakkan isian amunisi seberat 125 lbs dengan daya ledak cukup dasyat.

Ledakan ini dapat membobol beton bertulang (R300/5.000 psi) hingga tebal satu meter atapun baja (R1800) setebal 15 cm. Hingga saat ini belum ada benda yang mempunyai ketebalan baja sampai 15 cm. Dengan kata lain tidak ada sasaran atas permukaan yang tidak dapat ditembus Maverick.

Rahasianya di pilot

Kelihatannya sangat mudah melepas AGM-65. Bidik, kunci, tembak dan meledak di sasaran. Untuk melepas Maverick diperlukan beberapa parameter yang harus dipenuhi agar tidak terjadi kesalahan sehingga senjata seharga "sejuta dollar" ini efektif. Untuk itu dalam silabi latihan penembakan Maverik, pilot adalah kunci utama. Ia harus piawai mengendalikan pesawat, piawai meletakkan cursor serta piawai dalam pembidikan.

Mendasar diperlukan tiga persyaratan pokok yaitu bahwa pilot harus dapat melihat sasaran yang akan ditembak (agar tidak keliru). Radar pesawat juga harus bisa mengendus sasaran dan terpenting, Maverick telah mengetahui sasaran apa yang akan dituju dengan menyamakan imaging optic baik dari pilot, pesawat serta Meverick sendiri.

Mata pilot dapat mengenali sasaran berdasar berbedaan warna. Radar pesawat dapat mengenali sasaran berdasar logam dan non-logam, sedang Maverick mengenali sasaran atas berbedaan suhu (sasaran dengan alam sekitar). Tiga parameter ini harus disatukan dengan menggerakkan cursor yang ada di HUD dalam satuan waktu yang sangat pendek.

Sebelum pelepasan Maverick, pesawat akan mendekati sasaran dengan kecepatan minimal 420 kts (untuk menghasilkan lift dan enerji kinetik). Rudal harus dilepas sebelum jarak mencapai minimum sekitar 5 Nm. Secara matematika pilot hanya punya waktu sekitar 20 detik sebelum Maverick dilepaskan. Kecepatan mendekat sebesar 420 kts atau 7 Nm/menit ditambah kecepatan Maverick Mach-1, maka angka 20 detik adalah waktu maksimal yang persyaratkan.

Bila dalam tenggang waktu tersebut pilot belum berhasil lock on dan belum berhasil memindah data dari radar pesawat ke data Meverick, jangan harap pemboman berhasil. Kesalahan tembak sewaktu operasi Badai Gurun beberapa tahun lalu dimungkinkan karena pilot kurang mengenali sasaran karena sangat sulit membedakan antara tank milik Irak dengan tank Abram milik sendiri pada jarak 6 nm atau sejauh 10 km. Ditambah posisi koordinat tank kawan yang berubah tiap saat dan keterlambatan up dating, memungkinkan hal-hal yang tidak dinginkan terjadi di medan pertempuran.

Kunci pokok kehebatan Maverick ada pada seeker yang terletak di hidungnya. Alat berupa bola kaca ini sangat sensitif terhadap image berdasar jenis guide-nya. Bila TV imej sensitif terhadap gambar berdasar perbedaan suhu, bila jenis IR sangat peka terhadap sinar infra merah demikian pua bila jenis laser sangat sensitif terhadap sinar laser. Dengan demikian "mata" rudal ini harus tertutup sepanjang hayat dan baru terbuka beberapa saat sebelum meninggalkan pesawat dalam proses launching. Memori di Maverick harus melihat apa yang diinginkan pilot lewat seeker dan selalu mengingatnya sampai rudal betul betul yakin bahwa sasaran benar.

Bila telah yakin dengan sasaran (membandingkan masukan pilot, radar pesawat dan gambar yang dilihat seeker), tidak ada kekuatan yang bisa mengubah ingatan rudal ini. Ketajaman seeker ini masih harus diolah oleh pilot dengan memilih Tracking Mode. Pilihannya White on Black, Black on White atau Auto Mode yang ada di tuas kemudi pilot. Pengolahan data ini agar imaging yang tampil di HUD dapat menyajikan gambar yang bisa diterjemahkan mata pilot serta memberi masukan gambar yang jelas. Kesalahan memilih mode seakan kita melihat negatif film, sebuah sajian gambar yang sulit dicerna mata.

TNI AU sebagai pengguna AGM-65, baru memiliki tiga penerbang yang pernah menembakkan rudal pintar ini. Yaitu Letkol Pnb Muhammad Syaugi, Letkol Pnb Agung Sasongkojati dan Letkol Pnb Fahcri Adami.*

Maverick dalam Varian

Jenis AGM-65A Maverick adalah varian pertama yang dilansir pada 1972 atas pesanan AU AS. Saat itu AU AS mengisyaratkan untuk mengganti bom konvensional dengan peryaratan ketat bahwa bom tersebut harus memenuhi kriteria berupa berat maksimal 500 lbs, dapat dikendalikan dengan sistem sederhana, dapat diangkut pesawat tempur yang ada serta mudah perawatannya. Setelah mengajukan berbagai contoh, terpilihlah produk Raytheon System Co., dengan wujud rudal kecil, manis, mempunyai empat sayap delta, mampu membawa hulu ledak seberat 125 lbs serta mampu diluncurkan mulai dari ketinggian 150 kaki hingga 33.000 kaki.

Dalam uji coba yang diperagakan, Maverick dapat diluncurkan pada variasi kecepatan mencengangkan. Mulai dari 200 knots hingga Mach 2. Hampir mustahil saat itu ada rudal atas permukaan mampu dilepaskan pada kecepatan supersonik. Hal ini dimungkinkan karena Raytheon System Co., telah melengkapi rudal ini dengan motor roket yang akan bereaksi dua tahap, yaitu tahap realesed selama 0,5 detik dengan daya dorong sebesar 10.000 lbs dan tahap launching selama 3,5 detik dengan daya dorong 2.000 lbs.

Dengan demikan untuk melepaskan diri dari pesawat, dicadangkan daya sebesar 10.000 lbs. Bila daya ini tidak sepenuhnya terpakai (misal rudal dilepas pada kecepatan kurang dari Mach1), kelebihan daya akan ditambahkan pada daya dorong roket tahap dua selama 3,5 detik ditambah kecepatan pesawat serta ledakan 125 lbs pyrotehnic yang dibawa, menjadi total ledakan yang sangat fantastik. Berbagai varian telah diproduksi yaitu :

AGM-65A: diproduksi pertama 1972 sebanyak 25.000 unit untuk keperluan AU AS dengan hulu ledak 125 lbs, dikendalikan infra red video over come. Hanya untuk sasaran siang hari.
AGM-65B: dilengkapi pemandu electro-optical television guidance system yang memungkinkan pilot dapat melihat sasaran lebih kecil serta jarak jangkau pembidikan lebih jauh.
AGM-65C: pengembangan model-A tetapi dapat dioperasikan pada malam hari.
AGM-65D: pengembangan dari model sebelumnya dengan tambahan adverse weather limitations yang memungkinkan rudal dapat melihat target pada cuaca buruk pada jarak pandang terbatas.
AGM-65E: khusus pesanan US Marine Corps berpemandu laser guided system dengan hulu ledak lebih besar.
AGM-65F: digunakan hanya oleh AL AS dengan laser guidance seperti varian terdahulu tetapi jenis ini mempunyai hulu ledak 300 lbs.
AGM-65G: pengembangan tipe D berupa penambahan software agar mampu dikendalikan dengan Infra Red Seeker terbaru, sehingga rudal mampu mengendus sasaran lebih jauh termasuk sasaran kapal laut. Mempunyai hulu ledak seberat 300 lbs, sebanyak lusinan tipe ini telah melengkapi arsenal TNI AU, beberapa unit telah diuji coba pada 2000 dengan hasil baik dengan tingkat akurasi lebih dari 90 persen. Hanya TNI AU dan AL AS yang mengoperasikan varian ini.
AGM-65H: mengambil rancang bangun tipe D dengan meningkatan kemampuan daya ledak. Banyak digunakan sewaktu Perang Teluk.
AGM-65K: masih dalam uji coba dan ditengarai sebagai Maverick generasi terakhir, pesanan khusus AU AS.*

Juga Ada yang Palsu
Per unit harganya lebih dari 100.000 dollar AS, tergantung varian. Ditambah biaya pelatihan, fasilitas gudang penyimpanan, perawatan, biaya uji coba serta delivery, patokan harga ini dapat melambung hingga di atas 500.000. Toh rudal ini tetap laku bak kacang goreng. Beruntung TNI AU telah membeli sebelum harga melambung setelah terbukti andal saat Perang Teluk. Kelengkapan lain yang dibeli termasuk Rudal Palsu guna menambah kemahiran para teknisi atau alat peraga. Rudal Palsu lainnya sebagai kelengkapan sebut saja:

TGM-65: Training Groung Missile-65. Ditandai dengan cicin putih yang berarti dummy dipakai sebagai prasarana latihan penerbang dalam hal pembidikan diudara. Mempunyai sistem serupa dengan AGM-65, cuma tidak dilengkapi motor roket, jadi tidak dapat diluncurkan.
MLT-65: Munition Load Training-65. Digunakan para teknisi di darat untuk latihan loading dan un loading agar terlatih sewaktu memasang Maverick beneran. Rudal dummy mempuyai bentuk, berat, warna sama dengan rudal beneran cuma bercincin biru. Karena mempunyai kemiripan dengan rudal asli, sering dipakai saat static show.
MMT-65: Munition Maintenance Training. Dipakai teknisi guna mengecek sistem alat bidik yang ada di pesawat, untuk membedakan dari jenis lain alat peraga ini bercincin kuning. Untuk TNI AU ada dua jenis pesawat yang dapat membawa TGM-65, yaitu F-16 A/B dan Hawk Mk-209.
Bagi F-16, empat rudal Maverick dapat diusung sekali terbang selain empat Aim-9 Sidewinder dan tanki cadangan. Sedang Hawk Mk-209 cuma dua, dicantolkan pada out-bond station masing- masing sayap satu.

Barang aspal (asli tapi palsu) di atas merupakan kelengkapan yang digunakan untuk memahirkan teknisi dalam memasang rudal, memahirkan pilot dalam pembidikan serta pengecekan sistem yang ada di pesawat. Sedangkan rudal asli TGM-65G Maverick tetap terpelihara di gudang penyimpanan dan hanya dikeluarkan dan dipasang di pesawat bila benar benar akan digunakan. Rudal ini ditandai dengan cicncin merah yang berarti live, mempunyai hulu ledak seberat 300 lbs, infra red guidance pada moncongnya yang selalu tetutup serta mempunyai "jendela kaca" sebesar ibu jari. Selama warna jendela ini Amber to Red, berarti sang Maverick masih serviceable.*

Prosedur Peluncuran MAVERICK AGM-65G
WEAPON LOUNCH
RCP MODE Knop - Out of OFF
SWS Power - ON
A-G Button - Depress
AGM-65 Weapon - Select
SCP Power OSB - Depress (On Indicator)
Station OSB - Select
REO - ON
Master Arm - ON / AGM
- Simulated / TGM
Video - Check
CONTRAST - Select
Please EO cross over target
DESIGNETE - Depress ond hold
CUESOR - Reload / Lock On
Confirm within launch parameter
PICKLE BUTTON - Depress an Hold ( 0.5 sec)
Reaped again from UNGAGE for next missile
Power OSB - Depress OTT
A-G Button - Depres

NOTE:

T/O Speed = 158 Kts
V - ROTATE = 148 Mil
= 143 A/B
T/O Distance = 3200 feet Mil
= 2000 feet A/B
Reft Speed = 179 Mil
= 198 A/B
Max G's = Symetric T/O (7,33) / -2,5
= Roll 5,5 (6.0) / -1
Max Speed = 600 Kts / 0.95 MN

Baca Selengkapnya......

N22/24 Nomad TNI-AL

N22/24 Nomad – Si Pengintai Lawas TNI-AL
Inilah ikon dunia penerbangan TNI-AL pada dasawarsa terakhir, walau sudah berusia tua dan sebagian telah di grounded, tetap saja pesawat N22/N24 Nomad menjadi andalan utama TNI-AL untuk tugas pengintaian dan patroli maritim. Hal ini dibuktikan terakhir saat konflik Ambalat meletus beberapa bulan lalu, Nomad menjadi ujung tombak TNI-AL untuk melakukan patroli di wilayah perairan.

Pesawat buatan GAF (Government Aircraft Factories) dari Australia ini kerap terbang rendah “menyambar” kapal-kapal asing yang dicurigai membawa muatan ilegal. Nomad memang punya kemampuan terbang rendah 15 meter dari permukaan, pesawat ringan dengan dua mesin turboprop ini dirancang untuk bisa melakukan STOL (Short Take Off Landing), dan dipersiapkan untuk bisa mendarat di landasan tanah atau rumput. Dengan kemampuannya, pesawat ini pun pernah menjadi bintang dalam film seri Flying Doctors (pernah diputar di RCTI pada dekade tahun 90-an).

Nomad pun dirancang dalam beberapa varian, termasuk sipil dan militer. Untuk versi militer, selain tentu digunakan oleh Australia (AD dan AL), ada beberapa negara lain yang menggunakan Nomad versi ini, diantaranya adalah Indonesia (TNI-AL), Papua New Guinea, Filipina dan Thailand. TNI-AL sendiri kabarnya memiliki sekitar 26 unit Nomad N22/N24 Searchmaster yang tergabung dalam skadron 800 Intai Maritim. Tipe N24 memiliki kemampuan radar intai tambahan APS-104. Sekedar informasi, Nomad tidak dilengkapi dengan alat pertahanan diri (chaff) dan persenjataan.

Tapi sayang karena pesawat ini sering jatuh dan berusia lanjut (terbang perdana sejak tahun 1971), muncul keputusan untuk meng-grounded Nomad, TNI-AL berencana mengganti Nomad dengan jenis CN-235 MPA atau C-212 MPA. Di Australia sendiri pesawat ini sudah tak lagi digunakan dan dimasukkan dalam museum. Alasan grounded juga didasari kelangkaan suku cadang, karena pabrik Nomad sendiri telah tutup. Di Indonesia, selain masih ditempatkan di wilayah operasi, salah satu Nomad (P.806 N2255) kini juga ditempatkan sebagai monumen di kota Lamongan, Jawa Timur.

Spesifikasi
Negara Pembuat : Australia
Mesin : TwoPowerplant type : Allison 250-B17C turbopropsMax Power Rating : 313kW (420shp)
Dimensi Length : 12.56m (41ft 2.5in)Height : 5.52m (18ft 1.25in)Wingspan : 16.52m (54ft 2.5in)Wing Area : 30.10m2 (324sq ft)
Berat : Empty Weight : 2,150kg (4,740lb)Max Take-off Weight : 3,856kg (8,500lb)

Landing Gear
Type : Retractable tricycle type with twin-wheel main units and a single-wheel nose unit

Performance
Cruising Speed : 168kt (311km/h; 193mph)Maximum Range : 730nm (1,352km; 840mi)Service Ceiling : 21,000ft (6,400m)

Baca Selengkapnya......

CN-235 MPA TNI-AU

CN-235 MPA : Rajawali Pengawas Lautan Nusantara
CN-235-220 MPA (Maritim Patrol Aircraft) ditenagai sepasang mesin CT-771 berdaya 1.870 PK (1.395 kilo watt), dua buah baling-baling berbilah empat tipe Hamilton Sundstrand 14 FR-21 dengan bobot total berikut bahan bakar 15,85 ton sampai 16,55 ton.

Peralatan atau electronic system yang terpasang buatan Thales, juga dilengkapi dengan perangkat lihat malam FLIR-200 HP yang dipandu sinar infra merah. Dengan peralatan yang terpasang pada CN-235-220 MPA pesawat dapat beroperasi pada malam hari, mengenali kawan atau lawan serta durasi terbang antara 8-10 jam.

Pesawat itu dapat memantau pergerakan dalam radius 100 nautical mile. Dengan kemampuan yang dimilikinya, pesawat ini akan dperhitungkan untuk dimiliki dan dioperasikan sejumlah negara.

Karakteristik Umum
# Kru: 2(dua) pilots
# Kapasitas: sampai 45 penumpang
# Panjang: 21.40 m (70 ft 3 in)
# Bentang sayap: 25.81 m (84 ft 8 in)
# Tinggi: 8.18 m (26 ft 10 in)
# Area sayap: 59.1 m² (636 ft²)
# Berat Kosong: 9,800 kg (21,605 lb)
# Berat Isi: 15,500 kg (16,500 kg Military load) ( lb)
# Maksimum takeoff: 15,100 kg (33,290 lb)

Kemampuan
* Kecepatan Maksimum: 509 km/j (317 mpj)
* Jarak: 796 km (496 mil)
* Ketinggian Maks: m ( ft)
* Daya Menanjak: 542 m/min (1,780 ft/min)
* Beban Sayap Maks: kg/m² ( lb/ft²)
* Power/berat: kW/kg ( hp/lb)

Keterangan : Menurut keterangan pihak Departemen Pertahanan RI telah memesan CN-235 MPA sebanyak 3 unit, tapi hingga tulisan ini dibuat baru 1 unit yang diserahkan kepada pihak TNI-AU. CN-235 MPA saat ini dioperasikan oleh skadron udara 2 Angkut ringan Lanud Halim Perdanakusumah.

Kabarnya bila 3 unit telah diserahkan ke pihak TNI-AU, CN-235 akan diserahkan ke skadron udara 5, sebagai skadron spesialis pesawat pengintai yang berbasis di Lanud Hassanudin, Makasar. CN-235 MPA tidak dilengkapi persenjataan untuk bela diri, maupun persenjataan rudal untuk serang permukaan.

Baca Selengkapnya......

B-1B LANCER


Berdasarkan pembom B-1A, B-1B ini dikembangkan oleh Rockwell International di tahun 1980-an, ketika 100 dari pesawat yang diproduksi untuk mendukung misi nuklir dan ditempatkan di Komando Udara Strategis (SAC) basa. Pada tahun 1990-an, B-1B itu beralih ke senjata konvensional-misi.
Misi KEMAMPUAN nuklir
Dari tahun 1985 hingga 1997, B-1B mendukung misi nuklir dengan kemampuan sebagai berikut:
* High-speed Mach 1,25 penerbangan
* Gross berat lepas landas £ 477,000
* The AGM-69A nuklir jarak pendek serangan rudal (SRAM)
* Westinghouse sintetis aperture radar dan avionik ofensif-defensif sistem
Misi konvensional Kemampuan
Dengan berakhirnya perang dingin, B-1Bs yang dikonversi untuk mendukung amunisi konvensional, dan 32 dari mereka adalah pensiunan yang dimulai pada 2001 B-68 yang tersisa 1Bs mempertahankan kecepatan, muatan dan kemampuan penargetan bersama dengan konvensional baru berikut perangkat tambahan, yang diperkenalkan secara bertahap oleh Boeing:
* Hardware dan software tambahan untuk mengakomodasi berbagai senjata konvensional seperti gravitasi 24 Mk84 bom, 84 Mk82 bom bom konvensional atau 30 unit.
* Global positioning system (GPS) navigasi, amunisi serangan langsung gabungan (JDAM), anti-jam radio, dan ALE-50 diderek umpan penanggulangan
* New misi komputer, angin kompensasi amunisi dispenser (WCMDs), bersama senjata stand-off (JSOW), bersama udara-ke-permukaan rudal stand-off (JASSM), dan kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis senjata secara simultan dari tiga senjata bay.
Masa depan meliputi kemampuan radio digital baru, layar kokpit dan sensor perbaikan perbaikan sistem penanggulangan elektronik, radar warning receiver, kereta eksternal kemampuan dan senjata baru.
Combat Layanan dan Penghargaan
B-1B telah dibedakan oleh tempur berikut kegiatan dan penghargaan:
* Combat operasi termasuk Desert Fox (Irak, 1998), Allied Force (Kosovo, 1999), Enduring Freedom (Afghanistan, 2001 +), Irak Kebebasan (2003 +)
* Yang sangat tinggi presisi dipandu rasio per tempur menjatuhkan amunisi sortie – dari rasio maksimal 1% dari sorties memberikan 22% dari senjata di Irak dipandu Kebebasan (1:22) untuk rasio minimum 5% dari sorties memberikan 70 % dari JDAM senjata di Afghanistan (5:70)
* 100 rekor dunia untuk kecepatan, muatan, dan jarak

Baca Selengkapnya......

Senjata SS2 (Senapan Serbu 2) Buatan PINDAD

Senjata SS2 (Senapan Serbu 2) Buatan Dalam Negeri

SS2, singkatan dari Senapan Serbu 2, adalah senapan serbu buatan PT Pindad yang, merupakan generasi kedua dari senapan serbu Pindad sebelumnya, SS1. SS2 diklaim memiliki desain yang lebih ergonomis, tahan terhadap kelembaban tinggi, memiliki berat yang lebih ringan, serta akurasi yang lebih baik. Senapan ini menggunakan peluru kaliber 5.56 x 45 mm standar NATO dan memiliki berat kosong 3,2 kg, sebagai catatan SS1 varian awal memiliki berat kosong 4,01 kg. Pada tahun 2006, TNI-AD membeli 10.000 pucuk senapan SS2.

SS2 pasukan digunakan oleh tentara Indonesia sejak tahun 2005, dan juga sudah diekspor. Awalnya tersedia dalam tiga versi dasar (standard rifle SS2-V1, carbine SS2-V2 dan para-sniper SS2-V4) sekarang ini juga tersedia dalam subcompact versi SS2-V5, yang dikenalkan pada 2008.
Tentang SS2 :

Tipe Senapan serbu
Negara asal : Indonesia
Sejarah pemakaian : Digunakan 2006-sekarang
Pemakai : Indonesia
Perang : -
Sejarah produksi: Tahun -
Produsen : PT Pindad

Spesifikasi
Berat : 3,2 kg (kosong)
Panjang : 930 mm
Panjang laras : 460 mm

Peluru : 5.56 x 45 mm NATO, .223 Remington
Kaliber : 5.56 x 45 mm
Mekanisme : Piston gas, bolt berputar
Kecepatan tembak : 700 butir/menit
Kecepatan peluru : 710 m/s
Jarak efektif : 450 m
Pengisian : Magazen box 30-butir
Alat bidik : Bidikan besi

Baca Selengkapnya......

MIG-21 Fishbed,,,Andalan TNI-AU Era 60-an

MIG-21 Fishbed : Pencegat Terpopuler Sejagad

Tahun 1962, Indonesia tengah bersitegang dengan Belanda soal Irian Barat. Indonesia mengklaim wilayah itu merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara Belanda berpendapat lain, dan tetap menduduki Irian Barat, yang kini dikenal sebagai Propinsi Papua. Dan tampaknya, perselisihan itu akan diselesaikan lewat jalur perang.
Maka Presiden Soekarno, memerintahkan mempersiapkan Operasi Trikora, nama untuk operasi militer dalam rangka pembebasan Irian Barat. Segala sarana tempur dan kekuatan militer mulai digeser ke kawasan Timur, dengan basisnya di Makassar. Meski sempat terjadi bentrokan-bentrokan kecil antara kedua kekuatan militer yang sedang berhadapan itu –termasuk gugurnya Komodor Laut Yos Soedarso di Laut Aru—tapi perang besarnya sendiri tak pernah terjadi. Konflik itu selesai lewat jalur diplomatik, ketika PBB menekan Belanda untuk menyerahkan Irian Barat ke pangkuan Indonesia. Belanda menurut.

Melunaknya sikap Belanda, yang notabene masih merasa superior kepada bekas negeri jajahannya, bukan tanpa sebab. Ketika kedua negara bersitegang, pesawat pengintai milik angkatan udara Amerika Lockheed-U2s yang berpangkalan di Taiwan, beberapa kali wara-wiri di atas angkasa Indonesia. Apalagi tujuannya kalau bukan mengintip kekuatan militer Indonesia, yang ketika itu sedang berbulan muda dengan Uni Soviet.
Hasil pengintaian itu membuat cemas Amerika, yang segera mengabarkan sekutunya itu. Mereka menyarankan Belanda agar “kabur” saja dari Irian Barat, ketimbang babak belur dihajar angkatan perang Indonesia. Itu juga yang mendorong PBB ikut menekan Belanda untuk menyerahkan Irian Barat. Belanda yang “tahu diri” segera angkat kaki dari Bumi Cendrawasih pada 1963.

Maklum jika Belanda jiper. Berkat kedekatan dengan Uni Soviet, Indonesia menjadi negara yang memiliki kekuatan udara paling kuat di Asia. Negeri Komunis itu bermurah hati dengan mengirimkan pesawat-pesawat perang paling modern pada era itu. Di antaranya adalah pembom TU-16, yang mampu menggendong misil udara ke darat AS-1 Kennel, yang punya jangkauan jauh serta daya hancur yang dahsyat. Di antara jejeran jet tempur, ada MIG 21 yang punya nickname versi NATO Fishbed. Inilah jet tempur jenis pencegat yang paling modern di dunia pada saat itu.
Sementara Belanda, masih mengandalkan pesawat sisa perang dunia kedua semacam P51 Mustang, serta jet-jet tempur semacam Vampire, Hawker Hunter, yang jauh kalah kelas dengan Fishbed. Makanya, Belanda memilih amit mundur ketimbang hancur lebur. Walaupun itu menyebabkan skadron Fishbed milik AURI tak sempat unjuk digdaya di langit Irian.
Gabungan Fighter dan Interceptor
MIG 21 dibuat oleh pabrikan Mikoyan Gurevich. Diciptakan untuk memenuhi permintaan angkatan udara Soviet akan sebuah pesawat tempur pencegat (interceptor) yang mampu terbang supersonic. Prototipe yang diberi kode E5, dengan rancang sayap ayun, berhasil terbang pada tahun 1955. Selanjutnya, prototipe pertama yang bersayap delta, YE4, berhasil mengudara setahun berikutnya. MIG 21 memasuki produksi massal pada tahun 1959. Indonesia mulai menerimanya pada tahun 1960.

NATO menjuluki jet tempur ini dengan sebutan “Fishbed”. Sementara Soviet sendiri, menjuluki jet andalannya ini dengan nama “Balalaika”. Nama itu diambil dari nama sejenis alat musik tradisional Rusia, yang bentuknya mirip dengan bentuk badan (fuselage) MIG 21. Julukan lainnya adalah olowek, yang artinya pensil. Pesawat ini memang ramping, bagian fuselage paling lebar cuma 1,24 meter.
Rancangan sayap delta merupakan hasil penggabungan karakteristik sebagai pesawat penempur (fighter) dan pencegat (interceptor). Tapi sejatinya, MIG 21 dirancang sebagai pesawat pencegat, dengan fungsi utama merontokkan armada-armada pesawat serang darat blok barat, seperti F-105 Thunderchief. Fishbed hadir untuk mengungguli F-104 Starfighter buatan Amerika dan Mirage III buatan Perancis.
Kemampuannya memang hebat. Mesin tunggal Tumansky R-11 F300 turbo jet bekerja efisien untuk menghasilkan tenaga dorong sebesar 5740 kgf, dan mengantarkannya menembus kecepatan mach 2,1. Air intake pesawat ini berada di moncong depan, dengan kerucut moncong yang bisa bergerak maju mundur. Fungsinya adalah mengendalikan aliran udara ke mesin untuk menyesuaikan dengan kecepatan terbang. Di sisi kiri kanan moncong, ada kisi-kisi yang berfungsi menambah pasokan udara ke mesin tatkala pesawat hendak take off maupun sedang taxying di darat.

MIG-21 2000 produksi Isreal, versi MIG-21 paling canggih saat ini. Tampak moncong di air intake dipangkas
Jet tempur berbobot ringan ini punya kemampuan menanjak yang jempolan. Dengan bahan bakar 50% plus dua rudal udara ke udara, Fishbed mampu menanjak 58 ribu kaki (sekitar 19 ribu meter) per menit. Artinya, kurang dari semenit Fishbed sudah mampu berada di ketinggian pesawat penyusup musuh, dan menghajarnya dengan rudal Vympel K-13, rudal udara ke udara yang bekerja dengan mencari jejak panas pancaran jet lawan. Di kalangan barat dikenal dengan sebutan AA-22 Atol. Fishbed juga dibekali dengan dua kanon NR-30 kaliber 30 mm. Serta mampu mengangkut dua bom masing-masing seberat 500 kg. Pylon di fuselage juga bisa dicanteli tangki bahan bakar cadangan berkapasitas 450 liter.
Bagaimanapun, versi pertama MIG 21 ternyata mencatat banyak kelemahan. Rudal Vympelnya ternyata tidak begitu sukses ketika dipakai bertempur. Sementara jendela bidik (gyro gunsight) acapkali mati saat dipakai dalam manuver tinggi. Ini membuat MIG 21 yang digadang-gadang sebagai pesawat pencegat jempolan, menjadi jet tempur yang tidak efektif.

Namun kekurangan itu segera diperbaiki pada versi-versi berikutnya. Hanya saja, perbaikan itu tetap tak bisa menutupi kelemahan pada beberapa aspek. Jarak jangkau misalnya, sebagai interceptor MIG 21 hanya punya jarak jangkau pendek. Titik keseimbangan pesawat juga bermasalah ketika bahan bakar sudah terpakai dua pertiga, di mana center of gravitynya bergeser ke belakang. Ini menyebabkan pesawat jadi sulit dikendalikan. Karena itu, endurance optimal pesawat ini hanya 45 menit saja. Sayap deltanya memang sangat membantu dalam kecepatan menanjak, namun menjadi bumerang ketika pesawat ini melakukan belokan-belokan tajam karena kecepatannya langsung melorot drastis. Radarnya juga bukan tipe radar dengan jarak jangkau yang jauh.
Persoalan lain adalah rancangan kursi lontar. Maksud hati perancangnya adalah membuat kursi lontar yang aman bagi pilot. Kursi lontar SK-1 dibuat sedemikian rupa sehingga menyatu dengan kanopi. Jadi, ketika pilot menarik tombol eject, kursi dan kanopi masih melekat satu sama lain, yang tujuannya melindungi pilot dari terpaan angin dan pecahan pesawat. Kanopi baru lepas beberapa saat kemudian, dan pilot bisa aman melayang turun dengan parasut. Problemnya adalah ketika pilot melontar pada ketinggian rendah. Rupanya proses lepasnya kanopi terlalu lama, sehingga pilot keburu berdebam ke tanah, tak keburu membuka parasut.
Combat Proven
Toh, dengan segala kelemahan itu, nyatanya MIG 21 tetap menjadi momok menakutkan bagi blok barat. Terutama ketika Fishbed varian MIG-21F berada di tangan pilot-pilot kawakan dari Vietnam’s People Air Force/VPAF (Angkatan Udara Vietnam). Dalam kancah perang Vietnam, Fishbed tampil efektif sebagai jet tempur, dan sukses menghalau serangan udara jet-jet Amerika.
Para penerbang Fishbed Vietnam, biasanya beroperasi dengan bimbingan ground control interceptor (GCI), radar pencegat yang dioperasikan di permukaan, sebagai penutup kelemahan Fishbed akan tak adanya long range radar. GCI inilah yang membimbing kawanan Fishbed menuju sasaran, yang umumnya kelompok jet serang darat F-105. Begitu sasaran ketemu, mereka melakukan aksi hit and run, mengincar target dari belakang, menghajarnya dengan Atol dan siraman canon, lalu bergegas lari pulang.

Taktik seperti itu sangat efektif dalam menjatuhkan pesawat lawan. Atau paling tidak, memaksa pesawat lawan menjatuhkan bom secara dini (bukan di areal target), agar pesawat bisa bermanuver lebih lincah untuk menghindari sergapan Fishbed. Ditambah lagi dengan taktik konservatif armada udara Amerika, yang cenderung melakukan operasi lewat jalur yang sama, dengan waktu yang sama pula. Sehingga, pilot-pilot Vietnam tahu betul “kebiasaan” itu, dan tahu persis pula, di mana tempat paling enak buat mencegat pesawat lawan.
Kekalahan telak dari pilot-pilot VPAF itulah, yang sebagian dari mereka menunggangi MIG 21F, yang mendorong Amerika mendirikan sekolah pilot pesawat tempur. Salah satu yang terkenal adalah sekolah pilot tempur milik angkatan laut “Navy Top Gun”, yang berlokasi di Miramar, AS. Nguyen Van Coc, salah satu penunggang MIG-21F, sukses menjadi top ace perang Vietnam dengan 9 kills. Seorang pilot MIG-21F VPAF bernama Pham Tuan, bertanggung jawab atas rontoknya pembom berat Amerika, B-52, yang sedang terbang di atas Hanoi, Vietnam, untuk mendukung operasi Linebacker II.
Fishbed juga digunakan secara ekstensif dalam sejumlah konflik yang terjadi di Timur Tengah, yang melibatkan Siria, Mesir dan Israel. MIG-21 Siria berhadapan dengan Mirage IIIC Israel, pertama kali pada April 1967. Kali ini MIG-21 yang keok, dengan ratio kekalahan 6 MIG rontok berbanding nol, alias tak ada Mirage Israel yang tertembak jatuh.
Tapi pada perang Yom Kippur, tepatnya pada pertempuran udara di atas El Mansoura, ceritanya lain. Israel meluncurkan 100 pesawat terdiri dari F-4 Phantom dan A-4 Skyhawks. Mereka dihadang skadron MIG-21 Mesir. Dalam pertempuran udara yang berlangsung kurang dari sejam itu, laporan pasca perang menyebutkan, 17 jet Israel dirontokkan pilot-pilot Mesir. Sementara Mesir, hanya kehilangan 6 MIG. Itupun hanya tiga yang benar-benar ditembak jatuh musuh. Dua lainnya, jatuh gara-gara kehabisan bahan bakar saat hendak pulang ke pangkalan, dan satu lagi, meledak tatkala terbang menembus kepingan jet Israel yang meledak terkena tembakan lawan. Mesinnya menghisap kepingan jet Israel.
Angkatan udara India, yang tercatat sebagai pengguna terbesar MIG-21, juga pernah menerjunkan Fishbed dalam sejumlah kancah. DI antaranya pada perang Indo-Pakistani pada 1971, di mana MIG-21 India berhasil merontokkan F-104 Starfighter milik Pakistan. India masih menerjunkan Fishbed pada perang Kargil di tahun 1999, yang mana dalam perang singkat itu, dilaporkan satu Fishbed hancur terkena misil darat ke udara Pakistan. Tahun itu juga dilaporkan, MIG-21 India menembak jatuh pesawat pengintai Breguet Atlantique milik Angkatan Laut Pakistan.
Di kancah Afrika, MIG-21 terlibat dalam perang antara Ethiopia dan Somalia. Dalam perang tersebut, sejumlah MIG-21 milik Somalia berhasil dirontokkan F-5Es Tiger Ethiopia yang disuplai Amerika, tanpa kehilangan satu pesawatpun. Ironisnya, Ethiopia juga menerima varian MIG-21s Bis dari Kuba. Dalam simulasi dogfight, F-5Es yang dikemudikan pilot Ethiopia, berhasil menang telak atas MIG-21 Bis yang diterbangkan pilot top Kuba.
Pencatat Rekor
Sampai saat ini MIG-21 tercatat sebagai jet tempur supersonic yang paling banyak diproduksi. Total jumlahnya mencapai 10.152 unit, itu untuk yang diproduksi di Soviet saja. Belum termasuk yang diproduksi di India dan Cina. Kedua negara itu mendapat lisensi pembuatan Fishbed, karena menjadi pengguna terbesar. Di Soviet, Fishbed dirakit di tiga pabrik, GAZ 30 berlokasi di Moskow untuk produksi tipe kursi tunggal untuk keperluan ekspor, GAZ 21 di Gorky untuk produksi single seater untuk pesanan angkatan udara Soviet, dan GAZ 31 di Tbilisi yang memproduksi tipe kursi ganda untuk ekspor dan pesanan dalam negeri.
Catatan rekor lain adalah pesawat tempur yang paling banyak diproduksi sejak Perang Korea. Serta pesawat yang periode produksinya paling lama. Sejumlah varian juga pernah dirancang untuk memecahkan rekor penerbangan. Di antaranya adalah varian YE-66, yang dirancang untuk memecahkan rekor kecepatan terbang. Lalu varian YE-66A dirancang untuk memecahkan rekor ketinggian. Sementara YE-66B dirancang untuk memantapkan rekor waktu tercepat mencapai ketinggian untuk wanita. Varian YE-76 dibuat untuk memantapkan rekor kecepatan bagi wanita.

MIG-21 versi Latih dengan dua kursi, milik AU India
Fishbed juga masih digunakan banyak negara hingga kini. Paling tidak ada 22 negara yang masih mengoperasikan MIG-21, tentu dengan varian yang sudah di-up grade. Di antaranya, Vietnam yang punya 124 unit, Korea Utara dengan 150 unit, India dengan 428 unit. Indonesia termasuk di antara 30 negara yang pernah mengoperasikan MIG-21. Kini, sisa kejayaan AURI itu menjadi monumen di depan Museum Satria Mandala Jakarta, dan menjadi salah satu koleksi di Museum Dirgantara Adi Soetjipto, Jogjakarta. Tampang sangarnya masih juga menggetarkan.
Spesifikasi Teknis
• Awak : Satu orang
• Panjang : 15.76 m including probe (51 ft 8 in)
• Bentang sayap : 7.15 m (23 ft 5 in)
• Tinggi : 4.12 m (13 ft 6 in)
• Wing area : 23 m² (247.5 ft²)
• Berat kosong : 5,350 kg (11,800 lb)
• Berat dengan beban: 8,726 kg (19,200 lb)
• Max takeoff weight: 9,660 kg (21,300 lb)
• Mesin : R-11 F300 afterburning turbojet, 53 kN
Performance
• Maximum speed: 2230 km/h (1385 mph) (Mach 2.1)
• Janbgkauan : 1160 km
• Ferry range : 1800 km with three external fuel tanks ()
• Service ceiling : 62,300 ft
• Rate of climb : 225 m/s (23,600 ft/min but with 50 per cent fuel and two AA-2 “Atoll” missiles, the MiG-21 can reach 58,000 feet [17,600 meters] in one minute which results in 293 m/s average at different altitudes, under favorable weather circumstances)
• Wing loading: 379 kg/m² (77.8 lb/ft²)
• Thrust/weight: 1.02 at max. takeoff weight, 1.13 at loaded weight with max. afterburner
Armament
MiG-21MF armed with R-3 (AA-2) air-to-air missile and UB-16 launcher for S-5 rockets.

Baca Selengkapnya......

F-16 Fighting Falcon TNI-AU

F-16 Fighting Falcon

F-16 Fighting Falcon adalahjet tempur multi-peran yang dikembangkan oleh General Dynamics, di Amerika Serikat. Pesawat ini awalnya dirancang sebagai pesawat tempur ringan, dan akhirnya berevolusi menjadi pesawat tempur multi-peran yang sangat populer. Kemampuan F-16 untuk bisa dipakai untuk segala macam misi inilah yang membuatnya sangat sukses di pasar ekspor, dan dipakai oleh 24 negara selain Amerika Serikat.[1] Pesawat ini sangat popular di mata international dan telah digunakan oleh 25 angkatan udara. F-16 merupakan proyek pesawat tempur Barat yang paling besar dan signifikan, dengan sekitar 4000 F-16 sudah di produksi sejak 1976. Pesawat ini sudah tidak diproduksi untuk Angkatan Udara Amerika Serikat, tapi masih diproduksi untuk ekspor.
F-16 dikenal memiliki kemampuan tempur di udara yang sangat baik, dengan inovasi seperti tutup kokpit tanpa bingkai yang memperjelas penglihatan, gagang pengendali samping untuk memudahkan kontrol pada kecepatan tinggi, dan kursi kokpit yang dirancang untuk mengurangi efek g-force pada pilot. Pesawat ini juga merupakan pesawat tempur pertama yang dibuat untu menahan belokan pada percepatan 9g.
Pada tahun 1993, General Dynamics menjual bisnis produksi pesawat mereka kepada Lockheed Corporation, yang kemudian menjadi bagian dari Lockheed Martin setelah merger dengan Martin Marietta pada tahun 1995.

ada tahun 1960-an, Angkatan Udara dan Angkatan Laut Amerika Serikat menyimpulkan bahwa masa depan pertempuran udara akan ditentukan oleh peluru kendali yang semakin modern. Dan bahwa pesawat tempur masa depan akan digunakan untuk mengejaran jarak jauh, berkecepatan tinggi, dan menggunakan sistem radar yang sangat kuat untuk mendeteksi musuh dari kejauhan. Ini membuat desain pesawat tempur masa ini lebih seperti interseptor daripada pesawat tempur klasik. Pada saat itu, Amerika Serikat menganggap pesawat F-111 (yang pada saat itu masih dalam tahap pengembangan) danF-4 Phantom akan cukup untuk kebutuhan pesawat tempur jarak jauh dan menengah, dan didukung oleh pesawat jarak dekat bermesin tunggal seperti F-100 Super Sabre, F-104 Starfighter, dan F-8 Crusader.
Pada Perang Vietnam, Amerika Serikat menyadari bahwa masih banyak kelemahan pada pesawat-pesawat mereka. Peluru kendali udara ke udara pada masa itu masih memiliki banyak masalah, dan pemakaiannya juga dibatasi oleh aturan-aturan tertentu. Selain itu, pertempuran di udara lebih banyak berbentuk pertempuran jarak dekat dimana kelincahan di udara dan senjata jarak dekat sangat diperlukan.
Kolonel John Boyd mengembangkan teori tentang perawatan energi pada pertempuran pesawat tempur, yang bergantung pada sayap yang besar untuk bisa melakukan manuver udara yang baik. Sayap yang lebih besar akan menghasilkan gesekan yang lebih besar saat terbang, dan biasanya menghasilkan jarak jangkau yang lebih sedikit dan kecepatan maksimum yang lebih kecil. Boyd menganggap pengorbanan jarak dan kecepatan perlu untuk menghasilkan pesawat yang bisa bermanuver dengan baik. Pada saat yang sama, pengembangan F-111 menemui banyak masalah, yang mengakibatkan pembatalannya, dan munculnya desain baru, yaitu F-14 Tomcat. Dorongan Boyd tentang pentingnya pesawat yang lincah, gagalnya program F-111, dan munculnya informasi tentang MiG-25yang saat itu kemampuan dibesar-besarkan membuat Angkatan Udara Amerika Serikat memulai perancangan pesawat mereka sendiri, yang akhirnya menghasilkan F-15 Eagle.
Pada saat pengembangannya, F-15 berevolusi menjadi besar dan berat seperti F-111. Ini membuat Boyd frustrasi dan ia pun meyakinkan beberapa petinggi Angkatan Udara lain bahwa F-15 membutuhkan dukungan dari pesawat tempur yang lebih ringan. Grup petinggi Angkatan Udara ini menyebut diri mereka "fighter mafia", dan mereka bersikeras akan dibutuhkannya program Pesawat Tempur Ringan (Light Weight Fighter, LWF).

Pada Mei 1971, Kongres Amerika Serikat mengeluarkan laporan yang mengkritik tajam program F-14 dan F-15. Kongres mengiyakan pendanaan untuk program LWF sebesar US$50 juta, dengan tambahan $12 juta pada tahun berikutnya. Beberapa perusahaan memberikan proposal, tetapi hanya General Dynamics dan Northrop yang sebelumnya sudah memulai perancangan dipilih untuk memproduksi prototip. Pesawat mereka mulai diuji pada tahun 1974. Program LWF awalnya merupakan program evaluasi tanpa direncanakan pembelian versi produksinya, tetapi akhirnya program ini dirubah namanya menjadi Air Combat Fighter, dan Angkatan Udara AS mengumumkan rencana untuk membeli 650 produk ACF. Pada tanggal 13 Januari 1975 diumumkan bahwa YF-16 General Dynamics mengalahkan saingannya, YF-17.
Varian F-16 ditandai oleh nomer blok yang menandakan pembaruan yang signifikan. Blok ini mencakup versi kursi tunggal dan kursi ganda.
F-16 A/B awalnya dilengkapi Westinghouse AN/APG-66 Pulse-doppler radar, Pratt & Whitney F100-PW-200 turbofan, dengan 14.670 lbf (64.9 kN), 23.830 lbf (106,0 kN) dengan afterburner. Angkatan Udara AS membeli 674 F-16A dan 121 F-16B, pengiriman selesai pada Maret 1985.
Blok 1
Blok awal (Blok 1/5/10) memiliki relatif sedikit perbedaan. Sebagian besar diperbarui menjadi Blok 10 pada awal 1980-an. Ada 94 Blok 1, 197 Blok 5, dan 312 Blok 10 yang diproduksi. Blok 1 model awal produksi dengan hidung dicat hitam.
Blok 5
Diketahui kemudian bahwa hidung hitam menjadi identifikasi visual jarak jauh untuk pesawat Blok 1, sehingga warnanya diubah menjadi abu-abu untuk Blok 5 ini. Pada F-16 Blok 1, ditemukan bahwa air hujan dapat berkumpul pada beberapa titik di badan pesawat, sehingga untuk Blok 5 dibuat lubang saluran air.
Blok 10
Pada akhir 1970-an, Uni Soviet secara signifikan mengurangi ekspor titanium, sehingga produsen F-16 mulai menggunakanalumunium. Metode baru pun dilakukan: aluminum disekrup ke permukaan pesawat Blok 10, menggantikan cara pengeleman pada pesawat sebelumnya.
Blok 15
Perubahan besar pertama F-16, pesawat Blok 15 ditambahkan stabiliser horizontal yang lebih besar, ditambah dua hardpoint di bagian dagu, radar AN/APG-66 yang lebih baru, dan menambah kapasitas hardpoint bawah sayap. F-16 diberikan radio UHF Have Quick II. Blok 15 adalah varian F-16 yang paling banyak diproduksi, yaitu 983 buah. Produksi terakhir dikirim pada tahun 1996 keThailand. Indonesia memiliki varian ini sebanyak 12 unit.
Blok 15 OCU
Mulai tahun 1987 pesawat Blok dikirim ke dengan memenuhi standar Operational Capability Upgrade (OCU), yang mencakup mesin F100-PW-220 turbofans dengan kontrol digital, kemamampuan menembakkan AGM-65, AMRAAM, dan AGM-119 Penguin, serta pembaruan pada kokpit, komputer, dan jalur data. Berat maksimum lepas landasnya bertambah menjadi 17.000 kg. 214 pesawat menerima pembaruan ini, ditambah dengan beberapa pesawat Blok 10.
Blok 20
150 Blok 15 OCU untuk Taiwan dengan tambahan kemampuan yang serupa dengan F-16 C/D Blok 50/52: menembakkan AGM-45 Shrike, AGM-84 Harpoon, AGM-88 HARM, dan bisa membawa LANTIRN. Komputer pada Blok 20 diperbarui secara signifikan, dengan kecepatan proses 740 kali lipat, dan memori 180 kali lipat dari Blok 15 OCU.
Spesifikasi (F-16C Blok 30)

Karakteristik umum
 Kru: 1
 Panjang: 49 ft 5 in (14.8 m)
 Lebar sayap: 32 ft 8 in (9.8 m)
 Tinggi: 16 ft (4.8 m)
 Area sayap: 300 ft² (27.87 m²)
 Airfoil: NACA 64A204 root and tip
 Berat kosong: 18,238 lb (8,272 kg)
 Berat terisi: 26,463 lb (12,003 kg)
 Berat maksimum lepas landas: 42,300 lb (16,875 kg)
 Mesin: 1× Pratt & Whitney F100-PW-220 afterburning turbofan
 Dorongan kering: 14,590 lbf (64.9 kN)
 Dorongan dengan afterburner: 23,770 lbf (105.7 kN)
 Alternate powerplant: 1× General Electric F110-GE-100 afterburning turbofan
 Dry thrust: 17,155 lbf (76.3 kN)
 Thrust with afterburner: 28,985 lbf (128.9 kN)
Performa
 Kecepatan maksimum: >Mach 2 (1,320 mph, 2,124 km/h) at altitude
 Radius tempur: 340 mi (295 nm, 550 km) on a hi-lo-hi mission with six 1,000 lb (450 kg) bombs
 Jarak jangkau ferri: >3,200 mi (2,800 nm, 4,800 km)
 Batas tertinggi servis: >55,000 ft (15,000 m)
 Laju panjat: 50,000 ft/min (260 m/s)
 Beban sayap: 88.2 lb/ft² (431 kg/m²)
 Dorongan/berat: F100 0.898; F110 1.095
Persenjataan
 Senjata api: 1× 20 mm (0.787 in) M61 Vulcan gatling gun, 511 rounds
 Roket: 2¾ in (70 mm) CRV7
 Rudal:
 Air-to-air missiles:
 6× AIM-9 Sidewinder or
 6× AIM-120 AMRAAM or
 6× Python-4
 Air-to-ground missiles:
 6× AGM-65 Maverick or
 4× AGM-88 HARM
 Anti-ship missiles: 4× AGM-119 Penguin
 Bom:
 2× CBU-87 cluster
 2× CBU-89 gator mine
 2× CBU-97
 4× GBU-10 Paveway
 6× GBU-12 Paveway II
 6× Paveway-series laser-guided bombs
 4× JDAM
 4× Mk 80 series
 B61 nuclear bomb
Lainya:
 SUU-42A/A Flares/Infrared decoys dispenser pod and chaff pod or
 AN/ALQ-131 & AN/ALQ-184 ECM pods or
 LANTIRN, Lockheed Martin Sniper XR & LITENING targeting pods or
 up to 3× 300/330/370 US gallon Sargent Fletcher drop tanks for ferry flight/extended range/loitering time.
Avionik
 AN/APG-68 radar

Baca Selengkapnya......

SPR (Senjata Penembak Runduk) Made In Indonesia

SPR (Senjata Penembak Runduk) Made In Indonesia
SOSOK senapan penembak jitu antimaterial, menjadi salah satu keperluan utama pada pertempuran era modern, terutama untuk menghajar pasukan musuh yang berlindung di balik material. Menyadari perkembangan ini, PT Pindad pun tak mau ketinggalan, mereka sudah memproduksi dengan nama Senapan Penembak Runduk-2 (SPR-2).

SPR-2 diharapkan mampu menjadi salah satu produk senjata unggulan dalam negeri 2007, yang kehadirannya dapat menjadi varian produk impor sejenis asal Yugoslavia, Black Arrow M93. Kedua senapan antimaterial ini sama-sama menggunakan peluru kaliber 12,7 mm x 99 (umum pula disebut kaliber .50) dengan isian magasen lima peluru.

Kehadiran SPR-2, membuat produk serupa yang sudah muncul dan dipergunakan berbagai angkatan bersenjata di dunia, menjadi sedikitnya 25 jenis. Sebelumnya, sudah ada produk sejenis, misalnya Gepard M1/M2 (Hongaria, kaliber .50), Barret M82, M90 dan M95, M99, serta M-107 (Amerika, kal .50), SVN-98 (Rusia, kaliber 12,7 mm x 108), Steyr IWS-2000 (Austria, kal .50 dan 12,7 mm x 108), PGR UM-Hecate (Prancis, kal .50), AI AS (Inggris, kal .50), NTW-20 (Afrika Selatan, kal 20 mm), dll.

Menurut Desain Ghrapic Divisi Senjata PT Pindad, Dede Tasiri, senada engineer Nana Mulyana, diharapkan dapat memberikan efisiensi bagi TNI jika dibandingkan produk impor. Dari hitungan, produksi SPR-2 harga lebih murah dan fungsi sama hebatnya, apalagi jika dibandingkan Black Arrow M93 yang harganya di atas Rp 1 miliar per pucuk dan diketahui banyak yang sudah rusak.

Senjata sniper buatan pindad ini dibuat dalam 3 versi yaitu SPR1, SPR2, dan SPR3.

SPR 1 ini mempunyai peluru kaliber 7,62mm dengan jarak akurasi 900 meter , Kendati terilhami produk-produk senapan antimaterial yang sudah ada, namun menurut Dede, kehadiran SPR-2 cenderung desain sendiri dari PT Pindad. Walaupun pada sebagian sosok, masih mengambil desain dari Black Arrow M93 dan NTW-20 (Afrika Selatan).

"SPR-2 pada jarak tembak efektif mampu menembus lapisan baja dengan ketebalan sampai 2 cm pada jarak 500 meter. Pengoperasian dengan sistem bolt action bukan berarti SPR-2 kalah modern, namun diharapkan memiliki kelebihan karena akurasi biasanya lebih jitu," sedangkan SPR3 mampu menembus baja setebal 3 cm dengan jarak 700 meter.

Senjata mahal

Penggunaan senapan penembak jitu antimaterial, sudah digunakan sejak Perang Dunia II (1939-1945) oleh pasukan Nazi Jerman (Mauser Tank-Gewehr Model 1918, kaliber .51), Jepang (Tipe 97, kaliber 20 mm), dan Inggris (Boys Antitank Rifle, kaliber .55). Ketiga pasukan tersebut menggunakannya untuk menghantam masing-masing musuhnya, yang berlindung di balik tembok atau berada dalam kendaraan lapis baja.

Usai perang, berbagai negara terutama Amerika, Inggris, Prancis, dan negara-negara Eropa Timur kemudian mengembangkan dengan menggunakan peluru kaliber .50 (disebut pula 12,7 mm x 99) dan kaliber 12,7 mm x 108, yang menjadi standar senapan mesin berat mereka. Dari berbagai negara yang ikut memproduksi senapan antimaterial, Jerman, Amerika, dan Rusia, yang paling banyak membuat aneka produknya sejenis.

Senapan penembak jitu antimaterial, di pasaran harganya rata-rata sangat mahal, sehingga negara-negara pembeli dan dari non- produsen yang keuangannya cekak, biasanya terbatas memiliki

Baca Selengkapnya......

C-130 Hercules

Hercules, Si Gaek yang Masih Unjuk Gigi

Hingga lebih dari 50 tahun sejak pertama kali muncul, Hercules masih terus diproduksi.

Jatuhnya pesawat Hercules C-130 di Magetan Jawa Timur Rabu 20 Mei 2009, merupakan tragedi kesekian kali yang menimpa pesawat milik TNI.

Walaupun penyebab kecelakaan masih belum diketahui, sejak awal, Juru Bicara TNI Mayor Jenderal Sagom Tamboen mengatakan bahwa pesawat baru saja mendapat perawatan sehari sebelum kecelakaan dan kondisinya layak terbang.

Sebenarnya, Hercules adalah pesawat yang didesain untuk bertahan di medan yang sulit. Ia mampu mengangkut hingga 20 ton beban, dan mampu tinggal landas dan mendarat di landasan yang buruk. Tak heran bila pesawat ini menjadi pesawat militer taktis bagi pasukan militer di banyak negara, termasuk Angkatan Udara Amerika Serikat.

Pesawat ini ditenagai oleh empat mesin turbo propeller berkekuatan sekitar 4000 tenaga kuda. Ia dapat terbang di ketinggian 6000 meter dengan kecepatan antara 300-400 mil per jam.

Dengan panjang antara 30-40 meter (tergantung varian Hercules), serta tinggi sekitar sekitar 12 meter, pesawat ini tak hanya dapat mengangkut pasukan, melainkan juga dapat dimanfaatkan untuk mengangkat berbagai macam kargo, mulai dari peralatan militer, panser, hingga helikopter.

Salah satu peristiwa bersejarah terkait pesawat jenis ini, yakni saat pasukan komando Israel melakukan penerbangan ke Entebbe Uganda, Afrika, pada tahun 1976 dengan misi penyelamatan sebuah pesawat komersial yang dibajak dan menyandera hingga 103 penumpang.

Hercules C-130 itu, terbang sepanjang 4000 kilometer dari Israel ke Entebbe, dengan membawa sekitar 200 pasukan komando, beberapa mobil Jeep, serta mobile Mercedes hitam yang dipersiapkan sebagai kendaraan samaran milik Presiden Uganda Idi Amin.

Kini, Hercules C-130 masih memiliki varian teranyarnya, yakni C-130J. Jenis ini sudah mengalami berbagai modifikasi dari model yang lama, Antara lain, ia sudah didigitalisasi, sehingga ruang kokpit bisa dikendalikan oleh lebih sedikit sumber daya manusia.

Oleh karenanya Hercules ini tak memerlukan seorang navigator atau Flight Engineer lagi. Selain itu pembaruan itu juga diklaim mampu memotong hingga 27 persen biaya operasional pesawat.

Tak heran Model baru Hercules ini hingga kini masih menjadi pesawat pilihan bagi angkatan udara Amerika Serikat (USAF), angkata udara Inggris (RAF), angkatan udara Australia (RAAF), angkatan udara Denmark, serta angkatan udara Italia.

Oleh karenanya, pesawat gaek ini sebenarnya masih belum kehilangan pamor. Hercules masih bisa unjuk gigi, juga untuk kegiatan-kegiatan di kalangan warga sipil. Pesawat ini seringkali menjadi andalan untuk mengangkut berbagai bantuan kemanusiaan.

Sejak pertama kali dibuat sekitar tahun 1956, pesawat besutan Lockheed Martin itu, kini menjadi pesawat kelima yang digunakan tanpa henti selama 50 tahun, sehingga sampai kini masih terus diproduksi

Karakteristik umum
Fungsi utama: Intratheater airlift.
Kontraktor: Lockheed Aeronautical Systems Company.
Power Plant: Empat Allison T56-A-15 turboprops; daya kuda 4300, masing-masing mesin.
Panjang: 97 kaki, 9 inci (29,3 meter).
Tinggi: 38 kaki, 3 inci (11,4 meter).
Lebar sayap: 132 kaki 7 inci (39,7 meter).
Speed: 374 mph (Mach 0,57) pada 20.000 kaki (6.060 meter).
Ceiling: 33.000 kaki (10.000 meter) dengan 100.000 pounds (45.000 kg) payload.
Maksimum Takeoff Berat: 155.000 pounds (69.750 kg).
Jangkauan: 2356 mil (2.049 mil laut) dengan maksimum payload; 2500 mil (2.174 mil laut) dengan 25.000 pounds (11.250 kg) kargo; 5.200 mil (4.522 mil laut) dengan tidak ada muatan.
Satuan Biaya: $ 22,9 juta (1992 dolar).
Crew: Lima (dua pilot, seorang navigator, dan insinyur penerbangan loadmaster); hingga 92 atau 64 pasukan payung pasukan atau 74 tandu pasien atau lima standar pengiriman pallets.
Tanggal dikirim: April 1955.

Baca Selengkapnya......

NDL-40 TNI

NDL-40

NDL-40 (LAU 97) adalah senjata artileri medan berupa peluncur roket yang diproduksi oleh IPTN (sekarang PT.DI) dari Indonesia. Senjata ini menggunakan roket diameter 70mm atau 2,75 inchi sebagai pelurunya. Biasanya roket ini menggunakan peluru , roket sistem multi luncur FFAR 2.75" yang diproduksi secara lisensi oleh IPTN.
NDL-40 bisa meluncurkan 40 roket dari 40 tabung luncurnya secara salvo dengan selang 0,1 sampai 9,9 detik untuk tiap roketnya. Dengan kemampuan ini NDL-40 mampu meluluh-lantakan sebuah daerah seluas 200m x 300m dalam sekejab. Jangkauan terjauh dari senjata ini hanya 6 km walaupun dengan roket khusus jangkauan bisa ditambah menjadi 8 km.
Spesifikasi
kemampuan :
360 derajat azimuth dan -3 sampai +65 derajat elevasi kemapuan tembak
Back loading dan modular loading system
High mobility dan programmable Firing Control System
Sistem lihat samapi lebih dari 6,500 mil
operasi dan perawatan yang sederhana dan mudah
Fleksibilitas tinggi, penggunaan ground-to-ground atau surface-to-ground
Berat
Sistem peluncur 740.0 kg.
sistem kontrol penembakan Individual 10.0 kg.
sistem bidik 4.5 kg.
komando sistem kontrol penembakan 2.0 kg.
Dimensi utama
Sistem peluncur
Panjang 3,595 mm.
Lebar 1,995 mm.
Tinggi 1,600 mm.
Panjang tabung peluncur 1,806 mm.
Ketahanan peluncur
Tabung 400 penembakan.
Detainer 4,000 penembakan.
Contactor 4,000 penembakan.
Sistem kontrol penembakan Individual
Panjang 265 mm.
Lebar 140 mm.
Tinggi 150 mm.
Sistem pencahayaan
Panjang 195 mm.
Lebar 145 mm.
Tinggi 200 mm.

Baca Selengkapnya......

Sukhoi Su-30MK
Sukhoi Su-30 (kode NATO: Flanker-C) adalah pesawat tempur yang dikembangkan oleh Sukhoi Rusia pada tahun 1996. Pesawat ini adalah pesawat tempur multi-peran, yang efektif dipakai sebagai pesawat serang darat. Pesawat ini bisa dibandingan dengan F/A-18E/F Super Hornet and F-15E Strike Eagle Amerika Serikat.

Pesawat ini adalah pengembangan dari Su-27UB, dan memiliki beberapa varian. Seri Su-30K dan Su-30MK telah sukses secara komersial. Varian-varian ini diproduksi oleh KNAAPO dan Irkut, yang merupakan anak perusahaan dari grup Sukhoi. KNAAPO memproduksi Su-30MKK dan Su-30MK2, yang dirancang dan dijual kepada Tiongkok. Su-30 paling mutakhir adalah seri Su-30MK buatan Irkut. Antara lain Su-30MKI, yang merupakan pesawat yang dikembangkan khusus untuk Angkatan Udara India, serta MKM untuk Malaysia dan MKA untuk Algeria.
Negosiasi dengan India untuk menyuplai pesawat jenis Su-27 fighters dimulai pada tahun 1994. Biro desain mulai bekerja untuk mengembangkan Su-30-berbasis pesawat untuk Angkatan Udara India pada tahun 1995. AF Barkovsky ditunjuk sebagai ketua perancang proyek. Pada tanggal 30 November 1996 sebuah perjanjian dibuat untuk pembangunan bertahap dan pengiriman ke India dari 8 Su-30K fighters dengan dua kursi dan 32 Su-30MKI multi-peran dengan dua kursi fighters. Pesawat yang telah dijadwalkan untuk pengiriman di beberapa consignments, dengan bertahap akan meningkatkan avionics, powerplant dan senjata. Pengembang umum menurut resolusi yang dikeluarkan pemerintah Rusia adalah:

- Untuk pembangunan pesawat: Sukhoi Design Bureau OJSC (sekarang JSC),
- Untuk produksi pesawat: Irkutsk Aircraft Production Association (IAPA, sekarang Irkut Corporation).

Dua prototip dibangun oleh Biro Desain pada 1995-1998. Prototipe yang pertama, Su-30I-1, berdasarkan pada produk versi Su-30, prototipe atau model pesawat selesai dibuat di musim semi tahun 1997. Penerbangan pertama dilakukan oleh pilot uji V.Yu. Averyanov pada 1 Juli 1997. Pada bulan Juli 1997, Design Biro meluncurkan program untuk menguji pesawat bersama SPFC dari Angkatan Udara.

Pesawat terbang telah diproduksi di Irkutsk sejak tahun 2000. Pada saat Pra Produksi untuk pertama kalinya penerbangan pesawat telah diuji oleh V.Yu. Averyanov pada 26 November 2000. Pra produksi ketiga Su-30MKIs telah diserahkan ke Biro Desain dan telah digunakan bersama dengan prototip dalam joint-program dengan pengujian SPFC dari Angkatan Udara.

Sesuai dengan ketentuan kontrak, maka pesawat Su-30MKI akan diuji dan dikirimkan dalam 3 tahap. Pertama pengiriman 10 Su-30MKI ke pengguna terjadi pada tahun 2002; kedua dari 12 aeroplanes, pada tahun 2003. Pada 2004, pesawat Su-30K dan Su-30MKI telah dimasukkan ke dalam armada satuan Angkatan Udara dengan dua squadron.

Keistimewaan dari Su-30MKI ini adalah:

- Untuk pertama kalinya di dunia, produksi pesawat terbang yang memiliki mesin dengan tthrust vector kontrol (AL 31FP, dikembangkan oleh RDC setelah bernama A.Lyulka), dan sistem remote control terpadu dalam satu kontrol loop. Diambil bersama-sama, ini renders the Su-30MKI sangat lincah bermanuver;
- Untuk pertama kalinya dalam sejarah Biro Desain, pesawat yang dilengkapi dengan avionics skala besar yang terintegrasi dengan sistem luar negeri dan dalam negeri asalnya. The Su-30MKI memiliki “internasional” avionics portofolio, karena tidak termasuk sistem dan 14 unit yang dibuat oleh perusahaan asing dari 6 negara di dunia.
- Untuk pertama kalinya di dunia, sebuah pesawat produksi memiliki radar dengan PAA ( “Bar” dikembangkan oleh Scientific Instrumentation Research Institute of Technology). Selain itu, pesawat memilki new ejection seat yang baru, K-36D-3.5, dan inovasi lainnya dari sistem domestik asal.
- ADO line-up telah ditingkatkan secara signifikan dengan penambahan RVV-AYe air-to-air guided missile, Kh-29L/T/TYe, Kh-31A/P, Kh-59M air-to-ground missiles, dan KAB-500 dan KAB-1500 guided bombs.

Su-30MKI dalam sejarah rusia untuk pertama kalinya memiliki program dalam sejarah showcased sebuah model baru bagi kerjasama militer-teknis termasuk semua jenis kerjasama jangka panjang yang saat ini dilakukan di dunia seperti:

- Pengiriman pertama konsinyasi produk dalam versi dasar (Su-30K),
- Kerjasama R & D untuk menghasilkan versi upgrade (Su-30MKI),
- Memberikan pengguna lisensi untuk manufaktur dengan setelah penggantian komponen rusia yang dibuat dengan orang-orang asing asal (pada bulan Desember 2000, telah menandatangani kontrak untuk menjual ke India lisensi untuk pembuatan 140 pesawat Su-30MKI pada akhir pengiriman),
- Mengupgrade pesawat dari pengiriman pertama untuk status teknik pengiriman akhir,
- Menyiapkan kerjasama teknis untuk pusat layanan pasca penjualan dengan disertakan pemeliharaan peralatan,
- Menggunakan «ekspor tempat» untuk memperluas ke pasar regional (di tahun 2003, kontrak dibuat untuk suplai Su-30MKM ke Malaysia).

Su-30MKK

Biro desain mulai bekerja untuk menghasilkan Su-30-berbasis dua kursi penerbang yang dirancang untuk Su -30MKK angkatan udara China pada 1997, AI Knyshev yang telah ditunjuk sebagai ketua perancang proyek. Di bawah kontrak, direncanakan Komsomolsk-on-Amur production(KnAAPO) dinamakan dengan kontraktor umum. Biro desain menghasilkan desain rinci pada 1997-98; prototipe pesawat yang dibuat di Komsomolsk-on-Amur di 1998-99. Versi baru dua penumpang berdasarkan pada desain solusi diadopsi untuk Su-27SK dan satu kursi fighter Su-27M. Akibatnya, Su-30MKK dimasukkan, untuk semua intents dan tujuan tanpa desain ulang, Su-27M’s centre wing section, wing panels, air intakes, tail beams, fins and landing gear and the Su-27SK’s tail-end fuselage dirangkai. Dengan cara ini, desain ruang lingkup dikurangi secara dramatis, tanpa ada komponen baru yang diperlukan untuk membangun pesawat terbang kecuali untuk hidung pesawat. Selain itu, rencana produksi telah ikut serta dalam menyiapkan produksi dua kursi pelatih pada awal’80 an.

Prototipe pertama dibangun di musim semi 1999, Su-30MKK-1 yang diterbangan pada 20 Mei 1999 oleh Pilot I.Ye. Solovyov (Biro Desain) dan A.V. Pulenko (KnAAPO). Pertama empat pesawat pra-produksi yang diserahkan ke Desain Biro untuk pengujian. Pengujian yang dilakukan bersama-sama dengan SPFC dari Angkatan Udara di 1999-2001, dengan produksi pertama 10 Su-30MKK pesawat dikirimkan ke pelanggan pada bulan Desember 2000.

Su-30MKK desain highlights:

- Pesawat ini memiliki peralatan upgrade dari mnufaktur Rusia, yang meliputi versi radar baru dengan tujuan dan sasaran pemetaan kemampuan; OSTS dengan target penyinaran menggunakan laser beam; sistem GPS, dan LCD multi fungi berwarna di kokpit, dll
- ADO line-up telah ditingkatkan dengan penambahan RVV-AYe air-to-air guided missile; Kh-29L/T/TYe, Kh-31P, Kh-59M air-to-ground missiles; dan KAB-500 dan KAB-1500 guided bombs. Su-30MKK telah digunakan sebagai dasar untuk menghasilkan suatu versi upgrade, maka Su-30MK2, yang berbeda dari versi terdahulu dalam sistem senjata dan peralatan konfigurasi; pesawat dari jenis ini telah diberikan kepada Cina pada tahun 2003. Selain itu, Su-30MK adalah jenis aeroplanes dikirim ke Indonesia pada tahun 2003.

Berikut ini adalah data tentang Su-30MK:
Aircraft performance:

a. Takeoff weight:
- normal (including rockets 2xR-27R1 + 2xR-73E, 5270 kg fuel), kg 24,900*
- maximum, kg 34,500
- max, kg 38,800
b. Maximum landing weight, kg 23,600
c. Max landing weight, kg 30,000
d. Maximum internal fuel, kg 9,640
e. Normal internal fuel, kg 5,270
f. Maximum ordnance, kg 8,000
g. Service ceiling (without external ordnance and stores), km 17.3
h. Maximum flight speed at sea level (without external ordnance and stores), km/h 1,350
i. Max Mach (without external ordnance and stores) 2.00 (1.9**)
j. G-limit (operational) 9
k. Maximum flight range (with rockets 2xR-27R1, 2xR-73E launched at half distance):
- at sea level, km 1,270
- at height, km 3,000
- with one refuelling (at 1.500 kg fuel remaining), km 5,200
- with two refuellings in flight, km 8,000
l. Maximum airborne time (pilot-dependent), hours 10
m. Takeoff run at normal takeoff weight, m 550
n. Landing run at normal landing weight (with braking parachute), m 750
m. Aeroplane dimensions:
- length, m 21.9
- wingspan, m 14.7
- height, m 6.4
n. Crew 2
In-flight refuelling system
a. Maximum flow rate (at entry pressure of 3.5 kg/cm 2), l/min 1,100
b. Powerplant
Number and type of engines 2 x AL-31F (2 x AL-31FP***)
Thrust in afterburner, kgf 12,500 -2 %

Avionics:

1. Fire control system
1.1. Air-to-air fire control system
1.1.1. Search and track radar
1.1.2. IRST and laser rangefinder
1.1.2.1. Optical search and track station
1.1.2.2. Helmet-mounted target designator
1.1.3. Wide-angle HUD
1.1.4. IFF system interrogator
1.2. Air-to-surface fire control system
1.2.1. Coloured multi-purpose LCD indicators
1.2.2. Onboard digital computer
1.2.3. GPS satellite-based navigation system
1.2.4. Weapons control system
2. Aeroplane remote control system
3. IFF system transponder
4. Antenna feed system
5. Flight navigation system
5.1. Digital computer
5.2. Attitude and heading reference system
5.3. Short-range radiotechnical navigation system
5.4. GPS system
5.5. Autopilot system
5.6. Altitude and speed data processing and display system
5.7. Air data system
6. Electronic countermeasure equipment
6.1. Radar warning receiver with an expansion block
6.2. Chaff and heat flare dispenser
6.3. Radio jamming transmitter (in pod)
7. Communications system
7.1. VHF and UHF band communications transceiver
7.2. VHF and UHF band communications transceiver
7.3. SW band radio communications transceiver
8. Onboard automatic control system
8.1. Integrated onboard control and crew warning system
8.2. Flight information recording equipment
8.3. Onboard emergency situation warning equipment
9. Video recording system
9.1. Onboard video recorder
9.2. Forward vision video camera
9.3. Video controller
10. Aircraft responder
11. Telecommand homing system
12. Pod-type IRST and laser rangefinder

Limits

Aircraft limit:
- SLL, hours 3,000
- to first overhaul, hours 1,500
- service life, years 25
Engine and outboard accessory-gearbox life:
- to first overhaul, hours 500
- service life limit, hours 1,500

*May vary depending on the equipment configuration installed upon customer’s request
**With canard surfaces installed
***With thrust vector control engine installed
5-26-2009 10-14-46 PM

5-26-2009 10-15-22 PM

Armaments/persenjataan:

1. Guns Onboard 30mm gun with 150 rds
2. Guided air-to-air missiles R-27R1(ER1) R-27T1(ET1) R-27P(EP) R-73E RVV-AYe
3. Guided air-to-surface missiles Kh-59ME Kh-31A, Kh-31P Kh-29T(TYe), Kh-29L
4. Guided bomb units KAB-500KR, KAB-500OD KAB-1500KR, KAB-1500L
5. Air bombs FAB-500T BETAB-500ShP ODAB-500PM OFAB-250-270 OFAB-100-120 P-50T Incendiary bombs
6. Cluster bombs RBK-500 SPBE-D
7. Unguided missiles S-8KOM, S-8OM, S-8BM S-13T, S-13OF S-25OFM-PU
8. External fuel tanks N/a
9. Suspension points 12

Baca Selengkapnya......
Bookmark and Share