Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

Senin, Juli 05, 2010

Komorowski Presiden Polandia yang Baru

komorowski.jpg

Komorowski
 - Tokoh liberal Bronislaw Komorowski meraih kemenangan dalam pemilihan presiden Polandia, Minggu (4/7/2010). Ia memperoleh 53,1 persen suara sementara saingannya, calon konservatif Jaroslaw Kaczynski yang merupakan saudara kembar mendiang presiden Lech Kaczynski, hanya mendapat 46,9 persen.

Itu memang baru hasil sementara tetapi Kaczynski telah mengakui kekalahannya dan telah memberikan ucapaan selamat untuk Komorowski. Berdasarkan hasil sementara pemilihan yang dipublikasikan lembaga siaran umum TVP, penjabat presiden dan ketua parlemen Komorowski dari partai Civic Platform (PO) mengungguli pemimpin oposisi Kaczynski. Survei terpisah oleh pengumpul suara SMG/KRC untuk siaran komersial TVN, menunjukkan Komorowski memperoleh kemenangan dengan suara lebih tipis 51,09 persen dibanding 48,91 persen untuk Kaczynski.

Polandia terpaksa mengadakan pemilihan presiden yang dipercepat akibat tewasnya presiden Lech Kaczynski dalam kecelakaan udara 10 April di Smolenk, Rusia barat, yang menewaskan semua (96) penumpang jet pemerintah Polandia yang membawa mereka.

Jaroslaw Kaczynski, pemimpin partai oposisi sayap kanan PiS (Partai Hukum dan Keadilan), telah mengakui kekalahannya dalam putaran kedua pemilihan presiden itu. "Saya harus mulai dengan melakukan keharusan sikap yang benar, yakni mengucapkan selamat pada pemenang," katanya pada para pendukungna yang bersorak-sorai.

Baca Selengkapnya......

Minggu, Januari 17, 2010


Ilmu Kedokteran (dalam bahasa Inggris disebut medicine) merupakan suatu ilmu dan seni yang mempelajari tentang penyakit dan cara-cara penyembuhannya.
Ilmu ini merupakan cabang ilmu kesehatan yang mempelajari tentang cara mempertahankan kesehatan manusia dan mengembalikan manusia pada keadaan sehat dengan memberikan pengobatan pada penyakit dan cedera. Ilmu ini meliputi pengetahuan tentang sistem tubuh manusia dan penyakit serta pengobatannya, dan penerapan dari pengetahuan tersebut.
Adapun praktek kedokteran dilakukan oleh para profesional kedokteran, lazimnya dokter dan kelompok profesi kedokteran lainnya yang meliputi perawat atau ahli farmasi. Berdasarkan sejarah, hanya dokterlah yang dianggap mempraktekkan ilmu kedokteran secara harfiah, dibandingkan dengan profesi-profesi perawatan kesehatan terkait.
Profesi kedokteran adalah struktur sosial dan pekerjaan dari sekelompok orang yang dididik secara formal dan diberikan wewenang untuk menerapkan ilmu ini. Di berbagai negara dan wilayah hukum, terdapat batasan hukum atas siapa yang berhak mempraktekkan ilmu kedokteran atau bidang kesehatan terkait.
Ilmu kedokteran umumnya dianggap memiliki berbagai cabang spesialis, dari pediatri (ilmu kesehatan anak), ginekologi (ilmu penyakit pada wanita), neurologi (ilmu penyakit saraf), hingga melingkupi bidang lainnya seperti kedokteran olahraga, dan kesehatan masyarakat.
Sistem kedokteran dan praktek perawatan kesehatan telah berkembang dalam berbagai masyarakat manusia sedikitnya sejak awal sejarah tercatatnya manusia. Sistem-sistem ini telah berkembang dalam berbagai cara dan berbagai budaya serta daerah yang berbeda. Yang dimaksud dengan ilmu kedokteran modern pada umumnya adalah tradisi kedokteran yang berkembang di dunia Barat sejak awal zaman modern.
Berbagai tindakan pengobatan dan kesehatan tradisional masih dipraktekkan di seluruh dunia, di mana sebagian besar dianggap terpisah dan berbeda dari kedokteran Barat, yang juga disebut biomedis atau tradisi Hippokrates.
Sistem ilmu ini yang paling berkembang selain sistem Barat adalah tradisi Ayurveda dari India dan pengobatan tradisional Tionghoa. Berbagai tradisi perawatan kesehatan non konvensional juga dikembangkan di dunia Barat yang berbeda dari ilmu kedokteran pada umumnya.
Di berbagai tempat, sistem kedokteran Barat seringkali dipraktekkan bersama-sama dengan sistem kedokteran tradisional setempat atau sistem kedokteran lainnya, meskipun juga dianggap saling bersaing atau bahkan bertentangan.
Pada awalnya, sebagian besar kebudayaan dalam masyarakat awal menggunakan tumbuh-tumbuhan herbal dan hewan untuk tindakan pengobatan. Ini sesuai dengan kepercayaan magis mereka yakni animisme, sihir, dan dewa-dewi. Masyarakat animisme percaya bahwa benda mati pun memiliki roh atau mempunyai hubungan dengan roh leluhur.
Ilmu kedokteran berangsur-angsur berkembang di berbagai tempat terpisah yakni Mesir kuno, Tiongkok kuno, India kuno, Yunani kuno, Persia, dan lainnya.
Sekitar tahun 1400-an terjadi sebuah perubahan besar yakni pendekatan ilmu kedokteran terhadap sains. Hal ini mulai timbul dengan penolakan-karena tidak sesuai dengan fakta yang ada-terhadap berbagai hal yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh pada masa lalu (bandingkan dengan penolakan Copernicus pada teori astronomi Ptolomeus.
Beberapa tokoh baru seperti Vesalius (seorang ahli anatomi) membuka jalan penolakan terhadap teori-teori besar kedokteran kuno seperti teori Galen, Hippokrates, dan Avicenna. Diperkirakan hal ini terjadi akibat semakin lemahnya kekuatan gereja dalam masyarakat pada masa itu.

Baca Selengkapnya......

Rabu, Desember 09, 2009



Kemerdekaan di Tengah Debu-debu Terorisme
Oleh : Agus Iswanto, S.SI

Apa arti kemerdekaan di tengah masa yang penuh debu-debu terorisme? Atau apa arti kemerdekaan enam puluh empat tahun negeri yang disebut Indonesia ini? Juga, apa arti kemerdekaan bagi 230 juta (kira-kira) penduduk Indonesia yang belum lagi tenteram hatinya, ketika banyak teror yang menghantui? Mula-mula saya ingin memperluas makna kemerdekaan. Kemerdekaan yang maknanya bukan hanya sebatas proklamasi kemerdekaan 17 Agustus oleh Soekarno dan Hatta. Kemerdekaan yang tidak sebatas upacara bendera yang dilakukan setiap peringatan hari kemerdekaan itu. Juga bukan kemerdekaan yang melulu bermakna lomba panjat pinang, lomba baris-berbaris anak-anak sekolahan, atau lomba karaoke dan panggung ndangdutan atau show musik di dusun-dusun setelah sebelumnya dilakukan “tirakatan.”
De-jure Indonesia telah merdeka sejak Soekarno-Hatta memproklamasikannya pada tanggal 17 Agustus 1945, bahkan hingga sekarang. Namun de-facto perlu dipertanyakan kembali, apakah sudah sungguh-sungguh kita merdeka? Klise memang pertanyaan ini, sebab setiap tahun kali kita memperingati kemerdekaan, pertanyaan ini selalu muncul dan muncul lagi. Tak ada yang bisa menjelaskan secara gamblang atau memang belum ada jawabannya, sehingga pertanyaan itu selalu muncul, saya juga tidak tahu. Tapi memang terkadang, pertanyaan tak selalu membutuhkan jawaban yang cepat dan instant. Lebih-lebih jawaban itu menyangkut nasib berjuta-juta rakyat Indonesia.

Kita juga terkadang sulit untuk membedakan antara kerjasama dan penjajahan. Sebab terkadang, di tengah zaman globalisasi ini, kerjasama bisa menjadi “baju baru” bagi penjajahan. Orang-orang menyebut ini dengan neo-colonialism atau penjajahan baru. Apa indikasinya? Lihat, siapa yang mengelola ladang emas di tanah burung cendrawasih? Siapa pula yang mengolala taman timah di pulau laskar pelangi: Belitong? Minyak dan gas milik kita, diimpor ke luar negeri, lalu kita beli dengan harga luar. Ironis. Siapa yang menguasai finansial di negeri ini? Siapa yang punya modal hingga banyak dibangun mall-mall super megah, apartemen-apartemen yang menjulang tinggi dan hotel-hotel bintang lima nan gemerlap?

Negeri kita adalah lumbung beras, tapi terus mengimpor. Petani-petani yang dulu di masa buyut-buyut kita adalah orang-orang yang kaya, tapi sekarang jadi manusia yang tak berdaya di hadapan pemilik modal, yang tentu bukan orang “desa” tapi orang “kota” yang menurut mereka adalah londo-londo yang bule.

Banyak sarjana-sarjana negeri ini yang cerdas, intelek dan terampil kemudian hanya menjadi budak dan jongos pemilik modal. Mereka bekerja bukan untuk negeri mereka sendiri, tetapi untuk pemilik modal. Di sisi lain, sekolah-sekolah kita pun hanya memproduksi tenaga-tenaga terampil yang siap pakai dan bekerja untuk para pemilik modal. Ada sedikit pencerahan memang, yakni dengan munculnya banyak universitas-universitas atau lembaga-lembaga pendidikan dengan fokus pada pendidikan enterpreneurship  dan kewirausahaan, tapi itu, lagi-lagi bukan demi negeri tanah air tumpah darah mereka, tapi untuk diri mereka sendiri dan keluarga. Tak penting kesejahteraan rakyat dan kebodohan anak-anak bangsa di pelosok-pelosok pulau terpencil. Mereka diajarkan untuk hanya, seperti kata Sindhunata, berpikir tentang uang. Ya tentu, uang adalah segala-galanya, tetapi segala-galanya bukan uang.

Lalu, apa arti kemerdekaan pula di tengah lemah syahwatnya negara menghadapi kejahatan-kejahatan sistematis (terorisme). Terorisme bukan hanya ‘amaliyah isytisyhadiyah atau sucide bombing racikan Noordin M Top, tetapi, seperti kata Sujiwo Tejo, teror yang lebih dahsyat adalah teror-teror bom kemanusiaan yang selalu was-was dengan nasib kesejahteraannya. Sifatnya teror memang selalu membuat ketakutan dan rasa was-was. Karena bisa saja, teror dengan bom terjadi di mana-mana, di rumah, di tempat kerja, atau di jalalan. Begitu juga dengan teror yang lain, PHK, biaya sekolah anak-anak, harga bahan makan serta pekerjaan yang tidak pasti terus menghantui masyarakat. Mereka selalu ketakutan bagaimana nasib mereka besok pagi; apa bisa makan lagi? Apa anak-anak bisa sekolah? Apa besok masih bisa bekerja…

Kemerdekaan, kata Bung Karno ketika membacakan pledoinya di Bandung dengan judul “Indonesia Menggugat,” adalah “jembatan emas.” Artinya apa? Buat saya berarti kemerdekaan sekadar sarana untuk sampai pada sebuah tujuan yang lebih penting. Tetapi meski hanya jalan, peran dan fungsinya tidak remeh, maka disebut jembatan emas, tanpanya kita tak bisa lalui jalan untuk sampai ke seberang. Seniman sering mengatakan, “kreativitas tak muncul tanpa kemerdekaan diri” jadi untuk kreatif kemerdekaan atau kebebasan diri harus lebih dulu dimunculkan. Jembatan dan tujuan tak saling berdiri sendiri. Tidak ada tujuan, maka tak guna jembatan. Tapi siapa manusia yang tak punya tujuan hidup. Hidup merdeka bukan tujuan, tujuannya adalah sejahtera, tetapi juga bukan sejahtera yang hakiki tanpa kemerdekaan.

Saya masih terus berpikir apa arti kemerdekaan di tengah masa penuh teror……


*
Penulis adalah Alumni UIN Sunan Kalijaga
Sekarang sebagai Direktur Penerbit Pyramida Media Utama
dan Staff Peneliti Depag R

Baca Selengkapnya......
Bookmark and Share